CW // Mentions of kiss
***
"Gue udah nggak bisa bantuin. Semua makanan sogokan yang lo kirim udah masuk ke perutnya Aya. Atau Binar. Sama sekali nggak disentuh sama Ziel." Kale menghela napas, meletakkan tangannya di bahu Natha yang mengendur. "Break dulu aja, lah. Lanjut ntar di semester baru. Pasti bakalan ketemu Ziel juga di kampus."
Natha tidak merespons meski tangan itu sudah turun setelah detik-detik mencapai setengah menit. Ia akhirnya menoleh ke Gyan, sambil berharap mendengar masukan lain yang lebih berguna, tetapi malah disambut gelengan. Kemudian, mereka berdua sama-sama menghela napas.
"Ziel kalau udah nggak peduli tuh ... kacau. Lo bakalan dibuat kayak nggak pernah ada di hidupnya. Dihapus. Habis. Jangan, kan, dimaafin, ditatap balik waktu lo nyapa aja udah syukur."
"Ditatap baliknya pakai sorot mata kayak gini, nih." Kale berusaha meniru tatapan membunuh yang ia dapatkan ketika nekat mendatangi rumah Aziel beberapa waktu lalu. "Kayak ada lasernya. Berubah jadi batu dah lo kalau berani natap balik lebih dari lima detik."
"Lebay," sahut Gyan.
"Lah. Emang iya, njir. Gue udah kenal doi dari sebelum jadi anak yatim. Waktu masih nggak ada takut-takutnya melawan dunia karena yakin banget bakalan di-back-up bokap."
"Nggak usah bawa-bawa dark jokes kayak gitu, lah, kalau bukan lo yang ngalamin." Gyan menatap Kale raut serius. "Nggak pantes kedengerannya."
Hening. Mungkin sudah waktunya bagi Natha untuk bersuara.
"Beneran nggak papa, nih, kalau gue biarin dulu?"
Kale mengangguk, sementara Gyan mengangkat kedua bahunya.
"Tapi gue mau nanya. Yang serius." Nada bicara Kale mulai terdengar berbeda. Siaga satu. Natha jelas sedang mendapatkan giliran untuk disidang. "Lo tuh, nggak pernah mikirin ulang selama jadi mata-matanya Gina, ya? Nggak pernah kepikiran nasibnya Ziel, gitu?"
Tidak ada jawaban.
"Lo ngekhianatin Ziel berbulan-bulan. Ketemu Gina. Di waktu yang sama juga masih ketemu sama Ziel hampir setiap hari." Kale menjeda kalimatnya. "Masa, sih, nggak pernah ngerasa bersalah?"
"Pernah, lah."
"Biasa aja nadanya. Nggak usah defensif gitu."
Gyan menyentuh bahu Kale pelan. "Tahan dulu. Baru juga mulai."
Tapi malah tidak digubris. "Lo sadar nggak, sih, Nath? Di antara kita semua, si Ziel Ziel itu yang selalu nyempetin buat ngeladenin perilaku aneh lo. Nggak pakai protes. Nemenin lo makan siang di kantin karena tau lo nggak suka sendirian. Dan lo masih tetep tega?"
Natha mengangkat pandangan, menaikkan alis. Dia sadar, menyanggupi ajakan ketemu dari Kale sama dengan siap untuk dipojokkan. Namun, ia tidak menyangka, rasanya tetap saja tidak mengenakkan.
Tetap terasa tidak adil.
"Memang kalian pernah mikirin gimana rasanya jadi gue?"
"Tai. Masih aja ngebela diri."
Ucapan Kale membuat Natha tersenyum miring.
"Lo nggak akan ngerti. Gue selalu jadi opsi terakhir, Le. Di mana pun. Nggak di rumah. Di kampus. Bareng kalian." Ia berdecih. "Pernah nggak kalian ngelibatin gue? Pernah nggak kalian kepikiran minta bantuan gue kalau lagi ada masalah? Di mata kalian gue cuma orang nggak guna yang nggak bisa diandelin. Salah kalau akhirnya gue ngerasa dihargai waktu Gina minta tolong?"
"Itu namanya lo dimanfaatin, tolol!"
"Bukan itu poinnya, bangsat!"
Gyan menghela napas. Kedua temannya sudah sama-sama menggertakkan gigi. Mata memerah. Muka memerah. Amarah sudah menyelimuti mereka. Satu pancingan lagi, mungkin Kale yang jarang mengandalkan kekerasan itu sudah akan melayangkan tinju.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)