Note:
Halo! Beberapa hari ini aku liat lagi ada yang maraton Iel-Kayin. Terima kasihh yaaa. Aku senang sekali baca komennya. Ini aku kasih hadiah sedikit ^^ Semoga suka!
***
Hari yang buruk, suasana hati yang jelek.
Binar paham, melampiaskan energi negatif kepada hal yang bukan tempatnya, adalah sesuatu yang salah. Kalau posisinya di balik, sudah pasti Binar tidak akan senang pula. Yang salah siapa, yang kena imbas siapa? Karena itu, ketika Aziel meminta temu setelah hari panjang di tempat kerja, Binar putuskan untuk menolak.
"Hari ini aku capek banget. Besok aja, ya? Besok kan weekend."
"Kamu lagi di mana emang? Udah di rumah?"
Belum. Binar masih terjebak macet. Setengah menggigil duduk menyandar ke jendela dalam biawak berjalan yang tiap jengkalnya mengerem. Mengocok-ocok perut yang kosong. Sementara wewangian dari pengharum yang digantung tampaknya tak cocok dihirup berlama-lama. Itu saja, Binar masih harus bersyukur karena masih kebagian duduk. Ada yang sudah berdiri sekian jam untuk jarak tempuh yang aslinya hanya membutuhkan paling lama 30 menit.
Oh. Jumat dan hujan di penghujung sore adalah kombinasi yang luar biasa.
Seolah-olah semua kendaraan roda empat milik pribadi sengaja dikeluarkan. Memenuhi jalanan hingga ke gang-gang kecil sementara isinya mungkin hanya satu-dua orang. Dasar egois. Klakson yang terdengar hampir di tiap hela napas itu pasti perwujudan dari kekesalan mereka yang pada dasarnya adalah sumber masalah dicampur kebijakan konyol pemerintah. Siapa suruh menuh-menuhin jalan? Masih banyak pilihan transum lagian! Tapi sayangnya, di lain hari Binar juga akan menjadi bagian dari mereka. Hari ini saja bisa membela diri. Besok-besok juga ikut menyuarakan klakson.
"Masih di TJ."
"Loh? Kok nggak bilang, Sayang? Aku kan bisa jemput."
Binar mencibir. Kamu kan liat sendiri tadi pagi aku nggak bawa mobil! Sudah betul dia tidak usah bertemu Aziel saja hari ini. Marahnya sedang memuncak-muncak. Sedang Binar sudah tidak tau yang mana satu yang menjadi pemantiknya. Mungkin, hormon PMS yang sedang kacau balau. Atau, klien banyak omong yang nyaris membuat kantornya rugi belasan juta. Bisa juga makanan tidak enak yang terpaksa ia konsumsi di jam makan siang. Kopinya tumpah! Lipcream favoritnya tercecer hilang! Berita-berita di internet kebanyakan bikin emosi mendidih sampai berseru, "Tolol!" Pun terlampau sedih sampai-sampai Binar tak lagi sanggup membayangkan bagaimana korban harus hidup melanjutkan hari esok? (Bahkan ada yang merenggang nyawa dengan tidak adil; seolah-olah mereka hanyalah data statistik berupa angka yang sudah cukup dengan dihitung saja). Hal kecil, hal besar—dasar tidak jelas! Binar hanya tau kepalanya seperti sedang berasap.
"Aku jemput di halte."
Binar kesal—lagi—karena Aziel mengambil keputusan sepihak. Panggilannya juga diputus begitu saja. Baru saja menjadi bagian dari konspirasi semesta dalam hal mengacaukan suasana hatinya. Binar yakin sekali akan menyemprot Aziel di detik sekian mereka bertemu.
Jangan jemput.
Kamu langsung pulang aja.
Sekian menit, tidak ada balasan.
Tapi kemudian, malah ingin menangis sendiri begitu melihat sekilas notifikasi yang masuk. Tempat turunnya tinggal berjarak satu halte lagi. Binar sudah memilih berdiri saja, siap-siap untuk tap out. Harusnya tidak selama ini. Namun, macet merayap malah membuat halte itu seolah-olah berjarak sekian belas kilometer lagi.
Binar keburu meledak. Menatap lama pada balasan singkat Aziel.
Ok.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)