10. Tapi Bukan Yang Ini

523 94 58
                                        

Tadinya, Aziel mau langsung cium. Udah gila. Beruntung akal sehat masih mau meneriaki, "Itu namanya pelecehan!" Jelas tindakan berani itu membutuhkan consent dari kedua pihak yang sama-sama sedang dalam kesadaran penuh. Sedangkan Aziel sudah mulai gila dan Binar sudah pasti tidak akan memberi izin.

Lagi pula, Aziel tidak punya cukup nyali untuk mencari ribut—yang lama saja masih belum kelar. Perempuan yang berkuliah di jurusan hukum ini, selalu menenteng buku hukum pidana yang tebal ke mana-mana. Bisa hancur masa depan Aziel—secara hukum mau pun hati—jika memilih nekat. Jadi, ia mengulurkan tangan, menengadah, nyaris bersamaan dengan alis kanan Binar yang terangkat.

"Apa?"

"Minjem uang." Natha sialan. Aziel jadi tidak bisa memikirkan hal lain selain yang sempat disarankan teman gilanya itu di detik-detik terakhir sebelum meninggalkan tongkrongan. "Gue lupa ambil cash. Hehe."

Binar masih menatap Aziel sangsi. Aneh. Ia mengedarkan pandangan sekilas seolah mengatakan, lo minjem uang di rumah lo sendiri? Seenggak ada uang itu?

"Buruaaan." Aziel malah merengek. Kepalang tanggung; sudah basah, mending nyemplung sekalian. "Gue mau beli pentol. Keburu mamangnya pergi."

"Mang Ali?"

"Iye. Di depan rumah Pak RT." Tidak bohong, sih. Sebelum masuk ke rumah tadi, Aziel sempat mendapati gerobak pentol langganannya sedang nangkring. Terima kasih kepada ingatan kuat dan kemampuan improvisasi yang sudah membuat adegan ini terlihat sedikit mulus. Malu, sih, jelas ada. Tapi setidaknya, wajah mengernyit Binar sudah berganti dengan raut antusias. Selamat. Eksistensi Mang Ali baru saja menyelamatkan Aziel.

"Ih, mau! Mau! Gue mau beli juga!" Suara Binar yang naik satu oktaf, cukup membuat Aziel mengerjap kaget. Perempuan itu berbalik untuk menutup pintu kamar, kemudian menatap Aziel dengan senyuman secerah matahari di pagi Sabtu. "Nggak usah minjem, gue bayarin," tawarnya semangat.

"Enak aja. Gue minjem ini."

"Lima ribu doang?"

Aziel mengibaskan tangan, mengabaikan alis Binar yang sudah kembali menyatu. "Nggak ada, nggak ada. Habis ini lo harus tetep nagih gue. Walaupun goceng, tetep aja utang."

"Dih? Orang aneh mana yang nolak ditraktir?"

"Gue. Gue orang anehnya."

Meski bingung, Binar tetap saja melangkahkan kaki untuk mengikuti Aziel turun. Mereka sudah mencapai ambang pintu ketika Aziel tiba-tiba membuka hoodie dan melemparkannya asal sebelum perempuan itu bereaksi.

"Apaan, sih?!" kesalnya. Hoodie itu mendarat tepat di muka Binar. Membuatnya nyaris menabrak punggung Aziel jika tidak memiliki refleks yang bagus.

"Baju lo. Terawang."

Binar menunduk. Baru menyadari kaos putih tipis yang ia kenakan lantaran berniat untuk tidur sore sebelum ketenangannya diusik. Buru-buru ia mengenakan hoodie hitam itu. Wangi khas Aziel yang menyeruak, membuat Binar semakin salah tingkah. Pikiran tentang apa-apa saja yang sudah Aziel lihat, semakin sulit untuk Binar hindari. Tanpa sadar, ia nyaris tidak bersuara selagi mereka berjalan menuju gang rumah Pak RT.

"Neng Binar, ya, ini? Udah lama nggak keliatan, euy. Ke mana aja, Neng?"

Senyum lebar Mang Ali pada akhirnya berhasil membuat Binar menurunkan kedua tangan yang sejak tadi ia gunakan untuk menutupi muka. "Kuliah, Mang. Hehe."

"Ohhh." Sambil meracik pesanan untuk pelanggan yang sudah berdiri lebih dulu di samping gerobaknya, Mang Ali mengangguk-anggukkan kepala. "Sibuk pisan, ya, Neng? Kuliahnya di luar kota?"

[END] Ruined by YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang