15. Salah Eksistensi

476 68 21
                                        

CW // Mentions of Kiss

***

Aziel sadar, ia sudah cukup lama tidak berinteraksi dengan Darel.

Bukannya sengaja menghindar. Memang waktu saja yang membuat mereka tidak lagi saling bersinggungan. Aziel sibuk, Darel apalagi. Namun, jika tidak mau repot-repot menghampiri duluan demi mempererat tali silaturahmi adalah alasan utama yang membuat mereka merenggang, maka Aziel tidak akan mengelak. Dia memang sengaja. Sedang tumbuh dewasa sudah ia jadikan kambing hitam atas segalanya.

Mood Aziel langsung turun drastis begitu mendapati Darel tengah berdiri di samping mobilnya. Sadar tidak sadar, ia berdecak. Berjalan dengan bahu yang merosot ke arah Darel yang juga sudah menyadari kehadirannya.

"Long time no see."

"Kinda?" sahut Aziel malas.

Darel menghela napas. Kalau ditelaah, hubungan Aziel yang bermasalah dengan Binar itu, juga berlaku sama dengan mereka. Entah sejak kapan Darel mulai merasa Aziel sudah tidak sedekat dulu. Kesibukan kuliah yang berbeda, membuat teman yang lebih muda setahun darinya itu, berhenti untuk merecokinya. Pun, Darel berusaha untuk bersikap mutual—meski kadang masih sering ke-trigger jika Aziel membuat ulah seperti semester lalu. Kalau Aziel bisa muak jika ada yang berusaha untuk selalu ikut campur dalam setiap keputusan hidupnya, Darel juga bisa lelah jika harus terus-terusan menghadapi sikap yang selalu berada di luar nalar itu.

Aziel sudah besar. Bukan lagi bocah ingusan yang selalu penasaran dengan semua sudut pandang Darel terhadap banyak hal—yang dulu sempat dia pikir menakjubkan. Realita hidup membuat banyak yang tidak sejalan lagi di antara mereka.

Sedih juga, ya. Grow apart itu memang nyata adanya.

"Lo jadi daftar scholarship, ya?"

Aziel mengangguk, masih dengan dahi yang tertekuk. Laki-laki itu sudah terlihat waswas. Bersiap untuk menyudahi obralan jika Darel mulai ikut campur lagi.

Karena itu, Darel memutuskan untuk melewati basa-basi tai kucing yang sering ia junjung demi mencairkan suasana. Lagi pula, Darel juga tidak ingin berlama-lama, kan?

"Bokap nyariin lo," katanya to the point. Dilihat dari perubahan raut wajah Aziel, sepertinya ia bisa menebak kalimat-kalimat apa saja yang bisa ia dengar setelah ini. "Bingung dia. Kenapa anak yang sering dibangga-banggainnya itu mendadak nggak pernah dateng ke rumah lagi?"

Nada bicara Darel mulai terdengar tidak menyenangkan. "Menurut lo, gue harus jawab apa? Gue harus ngabarin kalau lo jadi daftar scholarship, kah? Udah lolos tahap administrasi?"

Aziel sempat merasa bersalah, sedetik yang lalu. Dia bukannya tidak tau bagaimana tertekannya seorang Darel memiliki ayah yang suka membandingkan prestasi anak sendiri dengan orang lain. Namun, jika mengingat bagaimana Darel yang juga sering menyalahkannya tiap kali hal ini terjadi, Aziel jadi ikutan emosi juga. Aziel tidak pernah merasa senang mendengar pujian yang ia terima selagi dijadikan subjek pembanding.

"Ntaran gue ke rumah." Aziel bukan orang baik yang dipenuhi kesabaran. "Gue aja yang ngabarin langsung."

Kemudian, pergi meninggalkan Darel di parkiran teknik sebelum laki-laki itu mulai buka suara lagi.

Ini bukan hanya tentang konsep hidup yang mulai terlihat berbeda. Tetapi juga tentang penyakit hati yang mulai bertumbuh di diri Darel.

Kenapa juga harus menjadikan teman sendiri sebagai saingan? Dasar manusia aneh tukang iri dengki.

Aziel sudah sangat kenyang melihat Darel yang selalu melampiaskan semua emosi negatifnya tiap kali menghadapi kegagalan. Tidak berhasil masuk jurusan teknik. Tidak berhasil mempertahankan IPK di atas 3.6. Tidak berhasil menjadi anggota BEM. Tidak berhasil menjadi delegasi kampus. Tidak berhasil mendapatkan scholarship. Darel mulai menyalahkan esksitensi Aziel meski yang Aziel lakukan hanyalah hidup mengikuti garis takdir yang sudah Tuhan ciptakan.

[END] Ruined by YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang