Binar sudah lama berhenti berjuang karena memang sedang tidak ingin mengharapkan apa-apa.
Hari-hari ia lewati mengikuti arus yang sudah ada. Tidak pernah tertarik untuk menciptakan yang baru. Karena, bisa bertahan hidup satu hari saja sudah pencapaian besar yang masih tidak tau harus dia apakan; syukuri atau serapahi.
Namun, setelah jantungnya berhasil dibuat berdegup dua kali lebih cepat hanya dengan mendengar kabar perihal mama yang dilarikan ke IGD, Binar sadar, ia seharusnya bersyukur. Binar masih ingin hidup lebih lama lagi. Bersama Mama. Bersama yang lain-lain. Bersama Aziel yang ikut merasakan ketakutan yang sama hingga ia tidak sanggup bertemu tatap dengan laki-laki itu.
Binar masih ingin melanjutkan hidup. Tapi tidak sendirian.
"Mama, maafin Kayin."
Tangisan malam itu rasanya melegakan. Pelukan dari Mama memang sudah lama ia dambakan. Lalu, kenapa selama ini selalu ia hindari?
"Harusnya Kayin nggak ngediemin Mama. Harusnya Kayin nggak ninggalin—"
"Nggak papa, Sayang." Binar tidak pernah tau, elusan dari tangan hangat Mama adalah hal yang paling ia butuhkan. Sorot mata lembut penuh pemakluman itu, adalah pegangan terbesarnya dalam mengakui kesalahan. Karena tidak apa-apa, akan selalu ada kasih sayang dan penerimaan; lagi dan lagi. "Yang penting Kayin masih sayang Mama. Dan Mama masih sayang Kayin."
Dengan manik mata yang berair, Kayin membalas senyuman perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Tentram dan aman.
Bodoh.
Kenapa dia justru melewatkan tempat untuk berteduh di saat hujan sedang badai-badainya?
"Sekarang Kayin janji nggak akan ngebiarin Mama sakit sendirian lagi."
Mama tersenyum. Ia usap air mata yang mengaliri pipi cantik putrinya. Beranjak dewasa itu berat; tidak pernah ada panduan yang tepat bahkan bagi orang dewasa itu sendiri. "Mama nggak pernah sendirian. Kayin cuma butuh waktu aja kemarin. And it's okay. So glad, itu cuma fase."
"Sekarang Kayin udah balik." Binar menggegam tangan itu. Membiarkannya beristirahat di pipi yang masih basah. Meresapi eksistensinya. Mensyukuri kebersamaannya. "Udah sama Mama lagi."
"Iyaa ... udah balik."
Demi menebus dosa-dosa yang sudah menggunung, Binar memberikan semua waktunya selama seminggu penuh hanya untuk Mama. Mengobrol dari hati ke hati, berkenalan lagi, melakukan banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh ibu dan anak yang dipaksa menghadapi dunia kejam ini berdua. Banyak sekali waktu yang sudah terlanjur hilang selagi Binar kabur ke mana-mana; menyelamatkan diri karena kepergian Papa hingga lupa ada satu lagi yang susah payah bertahan juga.
Kalau boleh jujur, Binar cukup dibuat terlena. Tawaran untuk tidak memusingkan hubungannya dengan Aziel cukup menggiurkan. Namun ternyata, hatinya tetap tidak bisa baik-baik saja setelah mendiamkan laki-laki itu.
Binar lupa, dia pernah mengusir Aziel karena dikuasai rasa panik. Belakangan dia sadar juga, sikap itu sudah merusak apa pun yang sedang susah payah Aziel bangun di antara mereka. Binar si Pengecut sedang mengulang fase yang sama untuk menyelamatkan diri; kabur ke mana-mana, menghindari hal-hal yang membuatnya berharap.
"Berantakan banget, tuh, dia."
Binar tersenyum tipis mendengar kalimat Aya. Adik perempuan Aziel itu sedang berkunjung ke rumah setelah Bunda memintanya untuk mengantarkan makanan—aneh karena bukan Aziel yang datang.
"Makannya aman nggak, Ya?"
Aya menggeleng. "Lagi alergi nasi kali. Udah dua hari makanan Bunda nggak disentuh." Perempuan itu menghela napas. "Nggak tau deh kalau di kampus gimana."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)