TW // Mentions of Death , Car Crash , Kecelakaan
***
Binar pernah sangat membenci bulan Juni.
Ada masa di mana semua hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupnya, berdatangan nyaris serentak pada bulan yang sama. Menjadi titik balik luar biasa yang membuat semuanya berubah sampai ke tahap; tidak ada yang sama lagi. Dan, kecelakaan yang membuat Papa pergi, menjadi satu yang paling besar.
Waktu itu, Juni baru berjalan enam hari.
Masih termasuk tanggal muda bagi seorang beban keluarga yang uang jajannya diberikan bulanan seperti Binar. Perempuan itu masih bisa dengan percaya dirinya membeli es krim dan Helo Panda rasa coklat setelah memborong pentol Mang Ali karena uang yang masih teritung banyak. Dan yang terpenting adalah, hari itu, Aziel sedang berulang tahun. Sebuah ilusi yang membuat Binar mengabaikan perasaan tidak enaknya sepanjang hari.
Aman. Tuhan yang Maha Baik pasti tau, Binar sedang ingin menikmati rasa senangnya ini. Berlama-lama terbuai. Bersama jajanan enak dan lagu ulang tahun yang terus ia nyanyikan setiap kali bertemu pandang dengan Aziel.
"Minimal beliin gue kue ulang tahun, lah, anjir." Aziel menyela, sudah muak mendengar Binar berucap, 'Selamat panjang umur dan bahagia~' dengan nada yang semakin terdengar berlari entah ke mana.
"Males, ah!" Binar cemberut, menyudahi gerakan tepuk tangannya karena sudah kehilang mood untuk melanjutkan lirik. "Nanti nggak lo makan, Iel! Mubazir. Di rumah kita, tuh, nggak ada yang suka kue. Nggak ada yang bersedia buat nampung kalau nantinya nggak habis."
"Tapi gue pengen tiup lilin, Kayiiin." Aziel merengek. Membalas tatapan Binar tak kalah cemberutnya. Ia menggamit lengan perempuan itu, mengguncang-guncangnya dengan maksud membujuk. "Ya? Mau, ya?" Dengan cepat mengutarakan solusi yang baru saja terlintas di otaknya. "Ntar kuenya kita kasih Mang Ali aja! Gampang, kan?"
Tatapan sangsi itu masih belum beranjak dari Binar. "Memangnya belum cukup, ya, tiup lilin bareng cewek-cewek lo tadi di sekolah?"
"Dih? Mana ada." Aziel sedang pura-pura lupa. Otaknya yang encer itu, kembali memikirkan alibi. "Kale yang tiupin lilinnya! Sumpah!" katanya heboh. Kemudian ia tersenyum lagi. "Gue, mah, cuma pengen niup lilin bareng lo."
"Hadeh." Binar menyingkirkan rangkulan Aziel yang sempat bertambah erat. Terpaksa meredam amarahnya setelah mengingat hari istimewa ini hanya akan berlangsung sekali dalam setahun. Ia kemudian menyipitkan mata, mengulurkan jari kelingking sambil memberikan ancaman final. "Tapi lo harus habisin minimal satu slice dulu, ya? Deal?"
Terburu-buru Aziel menyambut kelingking Binar. "Deal!"
Dua orang yang enggan melepas seragam sekolahnya itu, yang baru saja menghabiskan masing-masing dua porsi pentol Mang Ali—plastiknya bahkan masih belum dibuang ke tong sampah —akhirnya berjalan dengan semangat menuju mobil milik Binar. Mumpung para orang tua masih belum pulang, juga Aya si Anak Rajin yang Suka Belajar masih duduk patuh di kursi bimbelnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan makan makanan tidak sehat selama seharian penuh.
Ah. Indahnya hidup tanpa pengawasan bagi anak-anak bandel ini.
"My treat," kata Binar, mencegah Aziel yang berniat masuk ke kursi supir. "Gue aja yang nyetir, ya, Anak Bayi. Lo cukup duduk aja." Aziel pasrah saja, membiarkan Binar—yang baru saja berhasil mendapatkan SIM beberapa minggu lalu itu—menuntunnya untuk duduk di kursi penumpang, lalu memasangkan seatbelt. "Nyanyiin lagu-lagu Dewa 19 kesukaan lo itu, is allowed. Oke?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Ruined by You
Fanfiction"Gue benci sama lo," yang diucapkan Binar tidak pernah berhasil membuat Aziel merasa gelisah. Mereka sudah terbiasa bersama. Eksistensi satu sama lain sudah terlampau mengikat. Sampai kemudian, keseriusan Binar di hari itu mulai membuat Aziel berpik...
![[END] Ruined by You](https://img.wattpad.com/cover/320971268-64-k546241.jpg)