CHAP 13 HELLO

61 7 0
                                    

Derap langkah stiletto memenuhi koridor menuju ruang Jihoon.
'Jihoon kampret ditelfon ga diangkat' Gerutunya membatin.
Jiyeon sedikit berlari untuk mempercepat langkahnya. Pikirannya kalut, yang ada dalam benaknya saat ini adalah cepat bertemu Jihoon dan segera menuju ke TOP LABORATORY.

*

*

Menempelkan jarinya pada sisi pintu masuk ruangan IDS dan segera meluncur ke ruangan Jihoon tanpa menghiraukan tatapan aneh dari pada penghuni ruangan tersebut.
"KAK! ANJIR HANDPHONE LO KEMANA SIH?! DI TELFON GA NGANGKAT!" Amuk Jiyeon setelah masuk kedalam ruangan Jihoon membuat si empunya sedikit berjengit.

"Masuk tuh ketuk pintu dulu anj-" Omel Jihoon.
"Diem lo. Ikut gue cepetan." Potong Jiyeon cepat sebelum Jihoon menyelesaikan kalimatnya.
"Apaan?! Gak!" Tolak Jihoon."
"Ck! Gue lagi ga mood debat. Ini urgent. CEPETAN!!"
"Kenap-"
"PAPA MAMA KETEMU PARK JIHOON!! CEPETAN BAHLUL!" Seru Jiyeon kemudian.
Jihoon segera bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobil miliknya segera manArik Jiyeon dari ruangannya.

"Kenapa ga bilang dari tadi si!" Omel Jihoon entah sudah berapa kali.

Papa Mama Park sebelum insiden (Ih abis ini gue kena demo ga si pairing mereka nih? Ga ada maksud apa apa cuma nyari yang semarga aja biar gosah gonta ganti gitu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Papa Mama Park sebelum insiden
(Ih abis ini gue kena demo ga si pairing mereka nih? Ga ada maksud apa apa cuma nyari yang semarga aja biar gosah gonta ganti gitu. Maap kalo ada yang ga berkenan ya.)

💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙

Jiyeon dan Jihoon telah sampai di depan TOP Laboratory , memarkir mobilnya asal dan segera masuk kedalam gedung itu.

"Dimana?" Tanya Jiyeon menghampiri Chaerin yang sudah standby didepan pintu ruangan khusus yang ia rampas dari Seunghyun. Tanpa menjawab pertanyaan Jiyeon, Chaerin membuka pintu dibelakangnya menampakan sepasang brankar dengan dua orang yang berbeda gender lengkap dengan selang yang menempel ditubuh mereka.

Jiyeon bertumpu lutut, tangannya membekap mulutnya sendiri meredam tangisnya yang siap pecah kapan saja. Sedangkan Jihoon masih tercekat, mematung ditempat dengan mata yang sudah memerah.

Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan keduanya saat ini. Yang jelas ada perasaan lega dalam hati mereka karena orang tersayang mereka telah kembali dengan nadi yang masih berdenyut normal, meski tak sadarkan diri. Namun disisi lain, marah, sedih, kesal, kecewa berkecamuk menjadi satu hingga rasa sesak menyelimuti hati keduanya.

Jihoon menghela nafas berat memukul dadanya berkali - kali untuk menetralkan perasaannya. Serapuh apapun ia sekarang demi Jiyeon iya harus terlihat kuat, Jihoon's Thing only.

BulletStepTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang