episode 23

161 20 5
                                    

Akhirnya bright di bawa pulang oleh mr.mile dan teman-temannya

Saat buka pintu, davika sangat terkejut melihat anaknya di papah oleh guru dan lainnya di tambah wajah bright yang babak belur

"Astaga bright ?! Apa yang terjadi ?? "

Davika memeluk anaknya sambil mencium kening

"Saya akan jelaskan nyonya, tapi bisa bright di bawa ke kamarnya dulu ? "

"Biar saya sama yang lainnya aja mr yang bawa bright ke kamar " tawar mike

"Baiklah "

Bright di bawa ke kamar oleh mereka. Di ruang tamu tersisa davika dan mr. Mile

"Mr...sebeneranya apa yang terjadi ? Kenapa bright seperti itu ? "

Mile menghembuskan napasnya pelan

"Bright berantem dengan salah satu pemain basket sekolah luar nyonya "

"Apa berantem ?! Bagaimana bisa ?! "

"Anak itu sepertinya mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kavin...dan saya rasa ia mengatakan tentang kematian kavin nyonya "

Davika menangis. Ia sudah takut dari awal jika bright ikut pertandian ada yang menyingungnya tentang kematian kavin

Dan benar saja itu terjadi....

"Astaga...hiks..."

Di dalam kamar tatapan mata bright sangat kosong. Ia tidak berbicara sedikitpun

Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya

Ohm, fong, boss dan mike menatap sedih. Davika dan mile masuk

"Tante kami pamit pulang ya " izin boss

"Iya, makasih sudah jagain bright "

Mereka mengangguk "saya juga permisi nyonya "

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak mr.mile "

Mile mengangguk "kami permisi "

"Maaf saya gk bisa mengantar sampai depan "

"Tak apa, semoga bright baik-baik saja " davika mengaminkan

Semua nya pulang. Tersisa davika dan bright di kamar

Beliau mencium kening bright lembut "sayang..."

Perlahan bright menatap davika dengan sendu "mae..."

"Kenapa kamu berantem ? Lihat wajah kamu jadi kaya gini "

"Arm...mengatakan yang tidak baik tentang kavin mae..."

Davika terus menerus mengelus rambut bright

"Dia bilang...kalau kavin sudah meninggal. Padahal kan belum mae..."

"Gk usah di dengerin "

"Aku gk suka arm ngomong kaya gitu tentang pacar aku. Mae kan jelas lihat kalau kavin masih hidup "

Masih teringat jelas di pikiran davika kesedihan min dan dave yang melihat anak semata wayang mereka saat menghembuskan nafas terakhirnya

Min sangat terpukul bahkan davika sering kali membuatnya sadar kembali saat min pingsan

erik dan off terus memberikan kata sabar untuk dave

"Lain kali gk usah di dengerin ya " bright mengangguk lemah

"Mae kok kavin tadi gk dateng ya ke pertandingan ? "

"Mungkin dia sibuk sayang "

"Kalau gitu aku ke sekolah aja deh mae mau ketemu kavin dan bilang kalau aku masuk final "

bright bersiap bangun langsung di tahan davika

"Eh sayang kamu mau ke sekolah ?

"Iya mau kasih tau "

"Gk usah sayang "

"Kok gk usah ? "

"Ehm...ya gk usah, mae yakin kalau kavin pasti sudah denger kabar baik itu dan mungkin...sekarang dia bangga sama kamu "

Mata bright membulat "benarkah mae ? Kavin bangga ? "

Davika mengangguk "lagian kalau kamu ke sekolah nanti malah di suruh belajar loh, emangnya kamu gk capek abis tanding ? "

"Iya juga, kalau aku ke sekolah pasti di suruh ikut belajar "

"Sekarang istirahat dulu, biar badan kamu seger "

"Okay mae "

Bright kembali membaringkan tubuhnya

"Istirahat ya sayang..." bright tersenyum dan memejamkan mata

Davika mencium kening anaknya, sehingga setetes air mata membasahi pipinya

Istirahat ya sayangnya mae.....











Happy reading all 💜💜💜











Memory [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang