"Makan yang banyak, ya?"
Jeongwoo tersenyum lembut sembari mengusak surai Haruto. Ia sedikit heran karena si manis itu hanya merespon dengan anggukan singkat.
Bahkan kepalanya menunduk, tidak menoleh kearahnya sama sekali. Ini perasaannya saja atau Haruto memang sedikit aneh?
Beberapa hari ini istri manisnya yang biasa rewel tanpa henti tiba-tiba mendadak jadi pendiam. Tak ada lagi celotehan ramai yang biasa keluar dari mulutnya itu, bahkan setiap pulang dari kantor Haruto tidak pernah lagi berlari untuk menerjangnya dengan pelukan erat seperti biasa.
Awalnya Jeongwoo berusaha memaklumi, pikirnya mungkin Haruto sedang tidak dalam mood yang bagus sehingga kerap menjawab seadanya jika ia ajak mengobrol. Namun jika sudah terlalu sering seperti ini jelas menimbulkan tanda tanya juga.
Jeongwoo berdehem. Memilih mengabaikan makanannya dan lebih tertarik untuk memandangi Haruto yang terlihat tidak bersemangat. Padahal biasanya dia akan selalu riang jika sudah berhadapan dengan makanan, fix ini pasti ada yang tidak beres.
"Sayang.. kamu kenapa? Kok mas liat-liat banyak diemnya sekarang?"
Haruto menghentikan kunyahannya kemudian mendongak sebentar, menatap sang dominan yang juga masih tak mengalihkan pandangan darinya barang sekejap.
"Haru gapapa kok.." lirihnya lalu kembali menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya.
Padahal Jeongwoo tau istrinya tengah berusaha menghindar. Dari kemarin kalau ditanya selalu begitu, dan Jeongwoo masih membiarkan.
Sayangnya kesabarannya kini telah habis, Jeongwoo pokoknya harus tau apa yang terjadi pada bocil gemasnya itu. Lagipula sedang tidak ada jadwal apapun di kantor, jadi ia bisa bebas bersantai di rumah hari ini.
Bukan apa tapi Jeongwoo rindu mendengar ocehan random dari Haruto yang tak pernah gagal membuatnya tertawa. Terkadang saat penat karena masalah kantor, Jeongwoo akan menyempatkan diri untuk menjahili Haruto supaya dapat mendengar si manis mendumel seharian.
Mencoba menebakpun hasilnya nihil, Jeongwoo benar-benar tidak tau apa penyebab perubahan yang terjadi pada Haruto. Permasalahan mereka waktu itu sudah lama berlalu, dan keduanya telah sama-sama baikan.
Sejak itu Jeongwoo tak pernah lagi menyakiti Haruto sesuai janjinya, dia bahkan selalu berusaha mengiyakan apapun yang diminta si manis walaupun itu hal aneh sekalipun.
Jadi tidak mungkin ini karena masalah yang sama. Karena Haruto sudah ceria seperti biasa sampai minggu lalu tiba-tiba berubah jadi murung begini tanpa alasan yang jelas.
"Udah selesai, kan? Ikut mas sebentar yuk, ada yang mau mas tanyain"
Haruto gelagapan. Hendak mencari alasan agar bisa menolak, namun Jeongwoo sudah lebih dulu membaca niatnya.
"Haru mau cuci piringnya dul—"
Tangan Jeongwoo menahan lengan Haruto sedikit kuat. Menahan pergerakan sang istri yang ketara sekali ingin kabur darinya, lagi.
"Gausah, biarin pelayan aja yang beresin nanti. Kamu ikut mas."
Haruto cemberut. Tau bahwa dirinya tidak akan bisa melawan, terlebih Jeongwoo sudah mengeluarkan aura dominannya yang menyeramkan itu. Terpaksa Haruto mengalah, dia takut soalnya.
Baru saja berdiri hendak mengikuti langkah kaki Jeongwoo, Haruto justru dikejutkan kala tubuhnya tiba-tiba sudah diangkat kedalam gendongan koala.
Dan sekali lagi yang bisa Haruto lakukan cuma diam dan menurut, mana berani dia melawan Jeongwoo yang tubuhnya sebesar monster. Bisa-bisa nanti dia dijadikan sate geprek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis; jeongharu
Novela Juvenil"Mas kok tadi gigit-gigit bibir aku?" "Itu namanya olahraga bibir sayang, bagus buat kesehatan. Makanya kita harus lakuin tiap hari" Bagaimana jadinya jika pria dewasa seperti Jeongwoo harus menikahi seorang remaja polos yang bahkan tidak tau apa i...
