"Menurutmu mana yang lebih menyakitkan, bunuh diri menggunakan obat atau menggunakan pisau? Atau haruskah aku berdiri di tengah jalan dan menutup mata?"
-Park Jimin
"Tidak bisakah aku menjadi alasanmu untuk terus bertahan?"- Kim Taehyung
"Kau bukan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jimin memeluk kakak sepupunya saat akan berpisah. Mereka semua akan kembali ke Seoul untuk bekerja. Tapi Jimin masih ingin di sini, menghabiskan waktu lebih banyak.
"Hati-hati, Hyung," Ujar Jimin pelan.
Jin menggoyangkan badan mereka ke kiri dan ke kanan seakan tidak mau melepaskan.
"Kau juga hati-hati ya, kabarin Hyung kalau terjadi sesuatu."
"Um," Jimin mengangguk.
Pemuda manis itu melambaikan tangan saat teman-temannya pergi meninggalkannya menggunakan mobil sewaan.
Menghela napas pelan, merenggangkan tangan, sebelum kemudian berjalan perlahan kembali ke kamarnya. Dia ingin ganti baju, mau bermain air saja hari ini. Entah akan semarah apa papa nya nanti, yang dia pikirkan sekarang hanyalah ingin sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini langit cerah, debaran ombak tidak terlalu tinggi. Jimin terlihat cantik dengan outfit warna kuningnya. Bibir tersenyum manis. Tenang sekali rasanya. Meski sesekali bisikan untuk menenggelamkan diri sempat terngiang, tapi dia harus ingat kata dokter Namjoon, banyak yang mencintainya di dunia ini.
Tangan direntangkan, mata terpejam menikmati semilir angin yang menerbangkan helaian Surai Hitamnya. Sebelum kemudian terperanjat kaget saat tiba-tiba lengan kokoh seseorang memeluknya dari belakang.
"Astaga!" Teriak Jimin. Sebelum kemudian membanting orang dibelakangnya.
"Aduh, sakit Sayang," Taehyung mengaduh, tidak menyangka Jimin akan membantingnya sedemikian rupa.
Meski terlihat cantik, tapi jangan salah, Jimin pemegang sabuk hitam taekwondo, jangan heran jika refleksnya sangat bagus.
"Maafkan aku, Hyung," mengulurkan tangan, berniat membantu Taehyung.
Taehyung menerima tangan lembut itu, menggenggamnya hangat, sebelum kemudian menariknya dengan tiba-tiba.
"Akh," Jimin berteriak saat dia tidak berpijak dengan seimbang. Tubuhnya jatuh dan menimpa lelaki di bawahnya.
Sepersekian detik keduanya bertatapan, Taehyung memandang pahatan Tuhan yang sempurna. Pemuda manis yang tidak disangka hadir dalam hidupnya. Tangan kanan terangkat, menjelajahi pipi bulat milik pemuda yang masih di atasnya. Di elus lembut pipi chubby milik Jimin.
"Kenapa tadi cemberut?"
Jimin berkedip pelan, tidak tau drama apa yang sedang keduanya mainkan.
Keterdiaman Jimin membuat Taehyung geregetan, sebelum kemudian membanting Jimin, bertukar posisi.
"Boleh ku cium?" Tidak tahan lagi, akhirnya lelaki tampan itu menyuarakan apa yang ada di hatinya.
"Apa aku boleh menolak?" Masih memandang netra milik Taehyung, Jimin tersesat di dalamnya, seakan apapun yang Taehyung inginkan harus dia berikan.
Tidak ada jawaban, hanya wajah yang semakin mendekat, mengikis jarak yang tidak seberapa, di pantai ini, keduanya berciuman panjang. Ciuman lembut penuh afektif, sebelum kemudian napas keduanya memburu.
"Ayo kembali ke kamarmu," Suara Taehyung serak dan berat, betapa dia berusaha menahan hasratnya. Entah kemana pengendalian diri yang selama ini dia jaga. Melihat tubuh polos istrinya saja dia tidak ada hasrat. Tapi kenapa dengan Jimin berbeda? Bahkan pemuda manis itu masih menggunakan pakaiannya dengan lengkap.