15.

311 31 3
                                        

Mobil berhenti tepat di depan rumah mewah dimana Jimin dibesarkan. Bangunan kokoh dimana dia merasa dipenjara dalam kepalsuan.

"Sayang, kamu gak mau turun?" Ujar Taehyung setelah mobil berhenti dengan sempurna.

Tatapan matanya kosong, haruskah dia kembali ke rumah ini lagi? Bolehkah dia pergi saja?

Telapak tangan hangat menggenggam tangan mungil Jimin, "Sayang, kau oke?"

Mengalihkan pandangan pada lelaki tampan di sebelahnya, kenapa dia baru bertemu Taehyung sekarang? Kenapa tidak sejak dulu saja?

Jimin diam, memandang Taehyung dalam-dalam, mematri dalam ingatan. Sampai kapan dia berhubungan dengan suami orang? Meski tidak bisa ditampik ada rasa nyaman saat bersama.

Air mata Jimin luruh tanpa di minta, sakit sekali rasanya, saat segalanya tidak bisa di raih. Kebebasan tidak di dapatkan di rumah ini, bahkan kenyamanan dari Taehyung pun hanya semu.

Taehyung panik, tidak tau apa yang salah, "Sayang, jangan diam saja, katakan sesuatu."

Telapak tangannya merangkum wajah Jimin, bahkan tetesan air mata membasahi. Tak kunjung berhenti.

Jimin menangis hingga tersendat, kenapa jalan hidupnya serumit ini? Bisakah dia hidup tanpa Taehyung? Sanggupkah dia melepaskan "Rumah" yang selama ini dia cari?

Jimin menggenggam tangan yang masih ada di pipinya. Hangat. Telapak tangan ini yang menggenggamnya saat jatuh, yang merengkuhnya saat rapuh.

"Hyung," Jimin bersuara setelah lama diam.

"Iya Sayang?"

"Bisakah kita pura-pura tidak saling mengenal mulai sekarang?" Ucap Jimin tiba-tiba.

Taehyung panik, sungguh, apa yang sudah dia lakukan?

Melihat Taehyung diam saja, Jimin memilih meninggalkan mobil dan masuk ke dalam rumah.

Jimin sempat berpapasan dengan Mamanya di teras. Wanita paruh baya tersebut heran, baru pertama melihat Jimin diantar orang yang tidak dia kenal sebelumnya.

Pemuda manis tersebut masuk ke dalam kamar. Menguncinya rapat-rapat, seakan mengisolasi dari dunia.

Badan mungil bersandar pada daun pintu. Meluruh begitu saja bersama air mata yang tidak berhenti mengalir. Kedua tangan membungkam mulut, berusaha menahan isakan agar tidak terdengar hingga keluar.

Jimin mencari ponsel di celana, mendial nomor sepupunya.

"Hyung, aku sudah memintanya menjauh dariku," Ucap Jimin, bahkan tidak membiarkan orang diseberang sana menyahut.

"Lalu bagaimana hidupku setelah ini, Hyung," Isak Jimin.

Jin mendengarnya, segala kesakitan yang saudaranya rasakan dia pun tau. Tapi, mau bagaimanapun, keadaan tidak akan membiarkan keduanya bersama. Jin tidak ingin sepupunya bergantung pada Taehyung lebih dari ini.

"Jiminie, maafkan, Hyung," Jin ikut menangis, ikut pedih melihat sepupunya hidup tanpa pegangan.

"Hyung tidak ingin kamu menjadi duri di dalam rumah tangga orang lain, Jimin, maafkan, Hyung."

"Hyung, aku harus apa setelah ini?" Ucap Jimin berulang kali.
.
.
.
Jimin masih enggan meninggalkan kamar, makan malam pun di antarkan ke kamarnya. Dalih masih lemas menjadi alasan absen di meja makan. Malas mendengarkan celotehan Papanya, disaat hatinya sedang rapuh.

Pemuda manis itu duduk diam di balkon, semilir angin malam menusuk, tapi tidak dihiraukan.

"Jiminie Hyung."

Panggilan itu sudah lama tidak di dengarnya. Entah sudah berapa hari pemuda kelinci itu tidak memberinya kabar. 1 Minggu? Mungkin lebih, bahkan Jimin tidak ingat.

"Kemana saja selama ini?" Tanpa basa basi Jimin memulai.

Jungkook terlihat gugup di mata Jimin, seakan bersiap memberikan alasan yang entahlah, menurutnya tidak masuk akal.

"Aku pergi ke Gwangju, Hyung, Appa memintaku mengawasi kantor cabang sementara."

Jimin mendengus, "Kau keluar kota dan tidak memberitahu sama sekali? Kau anggap aku apa, Jungkook?"

"Hyung, maafkan aku, aku benar-benar tidak sempat memberitahumu," Pemuda kelinci berusaha menggenggam tangan Jimin, tapi di tepisnya halus.

"Kau kemanakan ponselmu, Kook? Apa kau tau apa yang sudah terjadi selama kau tidak ada? Apakah bahkan kau tau aku hampir mati?"

Entah kenapa malam ini Jimin sangat emosional, apa karna dia memutuskan menjauh dari Taehyung?

"H-Hyung kenapa?"

Jimin pusing, apa tunangannya sebodoh itu?

"Kook, apa kau tidak bisa peduli padaku sedikit saja?" Jimin berucap lirih.

"Apa kau benar mencintaiku seperti yang kau katakan?" Bibir berucap, tapi pandangan kosong jauh ke depan.

"Apa kau benar-benar sesibuk itu? Sampai aku di rumah sakit pun kau tak tau?"

Pertanyaan bertubi dari Jimin entah kenapa membuat Jungkook emosi.

"Aku kurang peduli bagaimana lagi, Hyung, aku bekerja juga untuk masa depan kita kan?" Jungkook merasa terpancing.

"Masa depan katamu? Masa depan seperti apa yang akan kau berikan padaku, Kook?" Jimin memandang pemuda di sebelahnya dengan sanksi.

"Sesederhana menghubungi ku pun kau tidak bisa," Jimin mendecih.

Jungkook menggertakkan jari jemarinya, emosi sudah tidak bisa terbendung rasanya, tapi sebisa mungkin ditahannya.

"Sepertinya kau masih sakit, Hyung," Ucap Jungkook.

"Aku pulang dulu, aku malas berdebat denganmu," Jungkook meninggalkan Jimin begitu saja.

Entah kenapa air mata jatuh kembali. Apanya yang cinta, apanya yang peduli. Bahkan Jungkook tidak menanyakan apa yang terjadi padanya.

Jimin menangis dalam diam, sakit sekali rasanya, saat tidak ada satu orangpun yang bisa kau jadikan sandaran. Hanya Taehyung yang bisa memberikannya rasa nyaman dan terlindungi. Tapi kenapa takdir Tuhan seakan mempermainkan mereka?

Undefined LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang