21.

241 32 2
                                    

Jimin menginjak pedal gas dengan penuh emosi, mobilnya melaju dengan kecepatan penuh, tidak peduli dengan lampu merah ataupun pengendara lain yang mengumpatinya.

20 menit yang lalu Papa Park memintanya pulang guna membicarakan pernikahan dengan Jungkook yang akan di selenggarakan Minggu depan.

Jimin mengumpat, marah dan kecewa, segala emosi menguasai hatinya.

Gimana ceritanya Jimin mau menikah Minggu depan? Jika dia saja ingin memutuskan pertunangannya.

Setir dicengkeram kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Memendam emosi sedari lama, dan dia merasa hari inilah puncaknya.

Lelehan air mata membasahi pipi, pandangan matanya mulai buram, ingin rasanya menabrakkan mobil pada pembatas jalan, Jimin benar-benar lelah dengan hidupnya.

Saat sampai di rumah, pemuda manis tersebut berlari, bahkan mobilnya tidak terparkir dengan benar, mesin mobi pun masih menyala.

"Papa!" Jimin berteriak memanggil Papanya.

"Kenapa Jimin? Papa tidak tuli," Papa Park membolak balik contoh undangan yang ada di tangannya.

"Apa maksud Papa dengan menikah Minggu depan?" Jimin geram tapi berusaha sekuat tenaga menekan emosinya.

Papa Park mengernyitkan dahi, "Bukankah kalian yang sudah memutuskan berdua?"

"Jungkook bilang sama Papa, kamu minta dinikahi cepat-cepat," Lanjut Papa Park sembari kembali melihat design undangan yang sekiranya elegan.

"Pa, Jimin mau putus dari Jungkook, gimana mungkin menikah sih?" pertama kalinya Jimin meninggikan nada di depan papanya.

Tak!

Beberapa undangan yang dipegang Papa Park jatuh ke lantai, bahkan Mamanya pun tersedak air minum, terkejut dengan apa yang disampaikan putra mereka.

"Apa maksudmu?" Papa Park marah, tidak suka dengan apa yang didengarnya.

"Aku mencintai orang lain Papa," Jimin menangis lirih, sekuat hatinya berusaha bertahan, memberontak demi masa depan.

"Maksudmu mencintai suami orang?" Papa Park tersenyum asimetris. Sedangkan Mamanya terkejut hingga tak mampu berkata-kata.

"Siapa yang bilang?" Berusaha menyanggah meski itu kenyataannya.

"Kamu pikir Papa tidak tau apa yang kamu lakukan di luar sana? Papa tidak mau keluarga kita tercoreng karena kebodohanmu, Jimin."

"Aku gak cinta Jungkook, Pa," Jimin berjalan mendekati Papanya. Air mata sudah mengalir.

"Persetan dengan cinta Jimin, papa tidak perduli, kamu harus menikah dengan Jungkook," Papa Park berbalik meninggalkan anak dan istrinya. Enggan mendengarkan kata-kata Jimin lagi.

"Aku tidak mau Pa!" Jimin berteriak, pemuda tersebut benar-benar menggunakan seluruh keteguhan hatinya untuk memberontak.

Papa Park berteriak memanggil bodyguard nya, meminta bawahannya menyeret Jimin ke kamar pemuda itu.

Jimin menangis dan memberontak, "Papa aku tidak mau, aku lebih baik mati daripada menikah dengannya."

Papa Jimin terdiam, antara marah dan takut kehilangan, tapi dia meneguhkan hatinya. Mengingat kebencian yang sudah dia tanamkan sejak dulu pada putra keduanya. Ya, sebenarnya dia memiliki dua putra, Ji-hyun dan Jimin. Tapi Ji-hyun meninggal karena menolong Jimin, adiknya. Sejak dulu memang Ji-hyun terlihat sangat menyayangi adiknya, hanya saja, dia merasa kehilangan putra pertamanya, anak kesayangan yang dia persiapkan menjadi penerus perusahaan.

Mama Park tidak tega melihat anak keduanya menangis dan berteriak putus asa. Baru kali ini dia melihat anaknya sehancur itu, selama ini yang dia lihat, Jimin selalu tersenyum dan terlihat tegar.

Mama Jimin berlari mengejar suaminya, berusaha membujuk agar Jimin dilepaskan, biar bagaimanapun Jimin saat ini putra satu-satunya. Sebagai seorang ibu dia juga tidak ingin kehilangan lagi.

Teriakan dan tangisan Jimin masih menjadi backsound di belakang. Siapapun yang mendengar tidak akan tega. Mama Park ingin melepaskan tapi tidak punya kuasa untuk melawan suaminya.

Jimin benar-benar di seret dan di kunci di kamarnya. Meski sekuat tenaga berteriak, tidak ada satupun yang mendengar.

Undefined LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang