Bab10 Rencana Ratna

2.3K 87 0
                                    

Malam harinya, seperti biasa seluruh keluarga menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga. Begitu pula dengan Sinta yang saat ini tengah menemani Caca bermain dengan boneka-bonekanya.

"Bagaimana dengan perusahaanmu Bim?" tanya Hendra kepada anaknya sambil menikmati teh yang di sajikan untuknya. Mendengar pertanyaan dari Papanya membuat Bima menoleh ke arahnya.

"Baik Pa, hanya saja ada beberapa masalah kecil di kantor cabang." jawab Bima sambil menikmati minumannya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan ?" tanya Hendra yang ingin tahu tentang masalah perusahaan milik anak sulungnya itu.

"Sepertinya Bima lusa akan pergi ke Malang karena harus memeriksa masalah itu. kemungkinan aku akan berada di sana selama seminggu" ucap Bima menjelaskan tentang rencananya itu kepada kedua orang tuanya.

Mendengar ucapan itu seketika membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Bima. Begitu pula dengan Caca, mendengar Papanya yang akan pergi jauh langsung meninggalkan mainannya lalu berjalan menghampiri Papanya.

"Papa mau ke mana?" tanya Caca sesampainya di depan Bima. Bima tersenyum sambil menaikkan tubuh anak perempuannya itu hingga duduk di pangkuannya.

"Lusa Papa mau pergi ke luar kota sayang. Caca di rumah jangan nakal ya?" ucap Bima sambil mencolek hidung Caca. Terlihat Caca menggeleng cepat mendengar perkataan Papanya.

"Ikut Pa! Caca ikut ya?" ucap Caca sambil merengek kepada Bima. Terlihat Bima bingung mau menjawab bagaimana.

"Apa aku ajak saja ya Caca? Kasihan dia belum pernah pergi keluar kota karena kesibukanku selama ini. Tapi bagaimana dia di sana? Sedangkan aku pasti akan sibuk mengurus pekerjaanku." Ucap Bima dalam hati memikirkan permintaan dari anak kesayangannya itu. kemudian pandangannya pun beralih kepada Sinta yang saat ini sedang mengucir rambut boneka milik Caca di sana.

"Pa? Caca ikut ya Pa? Caca juga ingin ikut Papa" Ucap Caca sambil menggoyang-goyangkan tubuh Papanya itu.

Melihat Cucunya yang terus merengek ikut, membuat Ratna menghela nafasnya kemudian berkata kepada anak sulungnya itu.

"Ajaklah Caca Bim, kasihan Caca! Nanti biar Sinta ikut dengan kalian. Nanti jika kamu mengurus pekerjaanmu di sana, Caca kan ada yang menjaga." Usul Ratna kepada Bima. Bima yang mendengar usulan mamanya itu langsung menoleh ke arahnya kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Sinta.

Mendengar namanya disebut-sebut, membuat Sinta mendongak melihat ke arah Bima, Caca, dan Ratna yang saat ini tengah duduk di sofa itu. sejenak pandangan keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum Sinta sadar lalu ia menundukkan kepalanya untuk memikirkan ucapan itu.

"Apa? Aku harus ikut menemani mereka? Bagaimana ini ya Allah? Di rumah saja aku selalu berusaha menghindari nya karena jantungku yang selalu berdetak tak karuan saat berada di dekatnya. Lalu sekarang? Aku malah harus bersamanya selama seminggu di tempat asing" perang batin Sinta yang mendengar kalau ia harus menemani Caca yang ingin ikut Papanya pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya.

Caca yang mendengar ucapan Omanya itu langsung berbinar dan terus merengek kepada Papanya agar mau menuruti permintaannya itu.

"Ayolah Pa, Caca ikut ya? ya Pa?" rengek Caca kepada Bima yang akhirnya membuat Bima menghela nafasnya dan mau tak mau ia menuruti permintaan putrinya itu apalagi di tambah Mamanya yang mendukung Cucunya.

"Haih, Baiklah kalau begitu! Tapi ingat, jangan menyusahkan Mbak Sinta di sana. Karena Papa harus mengurus pekerjaan papa, sedangkan Caca berada di villa yang nantinya akan kita tempati di sana" ucap Bima sambil menatap putrinya yang saat ini tengah tersenyum lebar ke arahnya itu.

The Owner Of The HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang