Setelah makan malam, Bima kembali ke kamarnya untuk mengecek pekerjaannya yang akan ia tangani besok. Sedangkan Caca masuk ke dalam kamarnya menemani Sinta beristirahat. Malam ini Caca tidak minta di bacakan dongeng karena mengetahui Sinta yang tengah sakit.
Tak selang beberapa waktu kemudian, keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.
"Engh," tiba-tiba Sinta terbangun dari tidurnya saat ia merasakan haus di kerongkongannya. Perlahan ia bangun dari tidurnya dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 12 malam.
"Hampir tengah malam, hoam" ucap Sinta sambil menguap. Dengan hati-hati ia turun dari ranjang agar tidak mengganggu tidur Caca. Kemudian ia mengambil nampan bekas mangkuk bubur miliknya tadi dan membawanya keluar kamar.
Bima yang masih bergelut dengan pekerjaannya di dalam kamarnya, juga terlihat meregangkan tubuhnya. Melemaskan otot-otot tubuhnya yang sejak tadi memandangi layar laptopnya.
"Akhirnya selesai juga" ucap Bima saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya itu. kemudian dia mengambil gelasnya yang ada di meja sampingnya. Namun, saat ia mau meminumnya, ia baru sadar bahwa gelas itu telah kosong.
"Haih, ternyata habis" ucap Bima saat melihat gelasnya telah kosong. Lalu ia meletakkan laptopnya yang ada di pangkuannya itu di sampingnya. Kemudian ia beranjang dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu kamarnya. Perlahan ia berjalan menuju ke arah dapur sambil membawa gelas kosongnya itu.
Akan tetapi saat ia hampir sampai di dapur, seketika ia menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang wanita yang tengah berdiri di wastafel dapur itu. wanita itu tak lain adalah Sinta yang sedang mencuci mangkuk bekas makanannya tadi.
Melihat Sinta yang menggunakan piyama tidurnya berwarna merah itu, seketika membuat Bima kembali terbayang akan bentuk tubuh Sinta dan juga bibirnya. Membayangkan hal itu perlahan membuat juniornya bereaksi dan mengakibatkan miliknya perlahan mengeras di dalam sana.
Entah apa yang merasukinya, perlahan Bima melangkahkan kakinya menuju ke arah Sinta. Saat ia melewati meja makan, Bima meletakkan gelasnya di sana dan terus melangkahkan kakinya menuju ke arah sana.
Sesampainya di belakang Sinta, ia bisa mencium aroma tubuh Sinta yang khas itu. Sinta yang tengah mencuci mangkuk dan gelasnya, tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah berdiri seorang laki-laki yang siap menerkamnya itu. Mungkin karena suara gemercik air keran itu yang membuat Sinta tak menyadari keberadaan Bima.
Setelah selesai dengan cuciannya, Sinta mematikan keran air itu dan mengelap kedua tangannya lalu berbalik badan. Seketika betapa terkejutnya saat melihat Bima yang sudah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk ia artikan.
"Tu-tuan?" ucap Sinta terbata.
Seakan tuli oleh ucapan Sinta, Bima melangkah maju ke arah Sinta sehingga membuat Sinta memundurkan tubuhnya. Karena melihat Bima yang terus melangkah ke arahnya, membuat Sinta sedikit menggeser tubuhnya. Namun belum sempat melangkah jauh, Bima terlebih dulu menarik pinggangnya.
"Sin," Panggil Bima dengan tatapannya menusuk ke dalam manik mata Sinta. Sinta hanya bisa terdiam membeku saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang rampingnya itu.
Perlahan jantung Sinta mulai berdetak tak karuan saat ini. Apalagi tubuhnya yang mulai menegang kala tubuh Bima yang semakin merapat dengan tubuhnya. Kini keduanya saling beradu pandang sejenak hingga beberapa saat kemudian Sinta merasakan sesuatu yang lembut menempel pada permukaan bibirnya.
Entah apa yang merasukinya, bukannya ia mendorong tubuh majikannya yang telah melecehkannya itu tapi malah tanpa sadar Sinta memejamkan matanya.
Karena Bima merasa mendapatkan respon yang baik dari Sinta, ia mencoba mulai melumat bibir ranum yang sejak kejadian sore tadi menghiasi pikirannya. Tak lupa kedua tangannya memeluk erat tubuh Sinta. Sinta yang tidak pernah melakukan ciuman sebelumnya, hanya bisa terdiam.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Owner Of The Heart
RomanceMenceritakan tentang seorang gadis manis yang merantau ke kota Metropolitan menyusul paman serta bibinya. Kehilangan kedua orang tuanya membuat Sinta mau tak mau menuruti kemauan Sang Bibi yang mendesaknya untuk menerima sebuah pekerjaan menjadi seo...