Bab 1 Sinta Nur Anggraeni

5.5K 125 0
                                    

Namaku Sinta. Lebih tepatnya Sinta Nur Anggraeni. Aku seorang yatim-piatu dan saat ini umurku dua puluh empat tahun. Ibuku meninggal disaat aku masih kecil, sedangkan ayahku meninggal beberapa bulan yang lalu. Hari-hatiku bekerja di sebuah rumah makan yang ada di kotaku karena memang aku hanyalah lulusan sekolah menengah atas. Sehingga membuatku hanya bisa bekerja disana. Itupun karena bantuan temanku- Arum yang telah lebih dulu bekerja di sana.

"Sinta?" Terdengar suara wanita sedang memanggilku. Aku yang sedang menyapu di halaman rumah makan tempatku bekerja seketika menoleh kearahnya.

"Ada apa, Rum?" Tanyaku.

"Di panggil Bu Tedjo, tuh." Jawab Arum sambil mengarahkan dagunya ke dalam rumah makan.

Aku mengetahui maksud dari bosku yang memanggilku pagi ini tak lain adalah karena soal surat pengunduran diri yang aku ajukan kepada beliau dua hari yang lalu. Tak mau membuat Bu Tedjo menunggu lebih lama, aku pun segera memberikan sapu yang tadinya ku pegang itu kepada sahabat ku - Arum.

"Tolong, ya," ucapku sambil memberikan senyumku padanya. Sedangkan Arum yang melihatku hanya bisa mendengus. Apalagi ucapanku yang ku buat semanis mungkin padanya.

Setelah itu aku langsung berjalan menuju ruangan bosku itu. Disinilah aku, di ruangan sempit yang berisi banyak sekali buku dan beberapa tv besar yang merupakan rekaman cctv yang tersebar di seluruh sudut rumah makan tersebut.

"Ibu manggil saya?" Tanya Sinta dengan sopan. Tak lupa ia menundukkan kepalanya menghindari tatapan dari bosnya itu.

"Bagaimana keputusanmu, Sin? Apa kamu akan tetap pergi dari sini? Kamu tahukan kalau aku sangat menyukai cara kerjamu selama ini? Bagaimana kalau gajimu aku naikkan? Asal jangan berhenti dari sini." Ucap Bu Tedjo kepada Sinta.
Bagi Bu Tedjo, Sinta adalah salah satu karyawannya yang sangat rajin dan cekatan. Oleh karena itu, ia berusaha keras untuk mempertahankan Sinta agar tidak berhenti dari sana.

Sinta sendiri juga sebenarnya tidak ingin berhenti dari sana karena memang Bu Tedjo sangat baik kepadanya selama ini. Namun apalah dayanya karena ia memang harus berhenti dari pekerjaannya saat ini karena desakan bibinya yang menginginkannya untuk menyusul ke Jakarta, dimana Sang Bibi dan Pamannya berada.

Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa karena memang saya akan pergi dari kota ini untuk menyusul bibi saya yang saat ini tinggal di Jakarta." Ucap Sinta menjelaskan alasannya berhenti dari sana.
Mendengar penjelasan dari mulut karyawannya itu, membuat Bu Tedjo hanya bisa menghela napas panjangnya. Melihat hal itu sontak membuat Sinta semakin dilanda rasa bersalahnya.

"Baiklah kalau memang itu keputusanmu, Sin. Tapi kalau nantinya di sana kamu nggak betah, Ibu dengan senang hati menerimamu kembali," ucap Bu Tedjo akhirnya sambil memberikan senyuman kepada Sinta.

"Terimakasih, Bu. Selama ini Ibu baik banget sama Sinta. Maafkan Sinta ya, Bu. Kalau selama disini Sinta selalu menyusahkan Bu Tedjo," ucap Sinta sambil menundukkan kepalanya. Ia tak berani mendongakkan kepala menatap atasannya saat ini. Karena ia yakin, ia tidak akan bisa menahan air matanya yang kini sudah berada di pelupuk mata indahnya itu.
Bu Tedjo yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri tentu merasa kehilangan karena kepergian Sinta saat ini. Terlihat Bu Tedjo berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Sinta. Setibanya di depan Sinta, Bu Tedjo langsung merengkuh tubuh rampingnya yang lebih kurus dari tubuh Bu Tedjo yang memang sedikit tambun.

"Sudah, jangan menangis. Semoga Ibu bisa bertemu denganmu lagi, Sinta. Karena Ibu sudah menganggapnya seperti anak Ibu sendiri. Semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan," ucap Bu Tedjo sambil memeluk dan mengelus punggung Sinta.
Bisa beliau rasakan tubuh Sinta terasa gemetar dan disertai suara Isak tangis darinya.

The Owner Of The HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang