29. Edisi Ngambek

32.1K 1.9K 36
                                        


"Ai, Aina!"

Aku manyun. Kuabaikan panggilan Arga. Sungguh, aku masih kesal dengannya. Ck, bagaimana dengan alasan mencari ketenangan, ia justru berada di taman berdua dengan Calista. Ya Tuhan, Calista...

Wanita yang jelas-jelas mencintai suamiku.

Ah, wanita mana yang tidak kesal jika berada di posisiku. Berani bertaruh, mungkin banyak yang bersikap histeris. Memukul atau menampar Calista misalnya.

Sampai detik ini, aku tak pernah habis pikir dengan wanita-wanita yang dengan mudahnya masuk dalam kehidupan rumah tangga wanita lain. Cinta! Please, cinta itu teramat suci dan berharga, jangan dikambinghitamkan untuk sebuah nafsu. Sedikit saja, berempatilah pada kaumnya sendiri. Mengganggu suami orang itu kan menyakiti perasaan wanita lain. Sama-sama wanita seharusnya lebih memahami. Lagipula kalau cinta jangan maksa.

Tapi tunggu,

Langkahku menuju kamar terhenti. Kutolehkan kepalaku lalu menatap tajam Arga. "Kamu kecentilan amat sih jadi cowok!"

Arga melongo. Bingung.

"Berdua-dua sama cewek yang jelas bukan istri kamu itu bukan hal yang patut, Ga!" tegurku. "Harusnya tuh kamu sadar! Lagian aku kan pernah bilang Calista itu suka kamu. Jangan PHP deh, ah!" lanjutku mengomel. Well, aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan Calista, bisa jadi kan emang Arga yang menyebalkan. Tebar pesona, huh!

"Kamu tuh ngomong apa sih, Ai? Tega amat ngomongin suaminya centil?"

"Ya abisnya kamu juga sih ya! Ck, ngapain coba berdua-dua di taman remang-remang gitu." Aku merengut. "Untung aku yang lihat. Kalau orang lain bisa gossip, Ga! Kamu nggak sadar kamu itu pimpinan. Udah punya istri lagi. Jaga sikap dong!"

Arga berdecak. "Ck, kamu kok jadi ngomel-ngomel sih, Ai?" gerutunya. "Kamu nggak lagi PMS kan?"

Aku mendesis. "Nggak usah ngalihin topik, Ga!"

"Siapa yang ngalihin?" Arga mengerut tak suka. "Kamu sendiri yang dari tadi manyun terus ngomel-ngomel kan? Aku cuma nanya kenapa juga?"

Aku mendengus gusar. Arga menyebalkan sekali. Bukannya minta maaf, gerutuku dalam hati. Ah, sudahlah...

"Udah ah capek ngomong, kamunya nggak paham juga." Kataku sembari berlalu meninggalkan Arga.

"Aina, kamu cemburu ya?"

Kuangkat tangan kanan lalu mengibaskannya. Cukup sudah hari ini. Kami dalam emosi yang tak stabil. Jadi lebih baik menenangkan diri.

Ck, Arga bodoh! Ini bukan hanya perkara cemburu tapi lebih komplek...

Argh... kapan ia tak menyebalkan sih?

***

Pagi ini kujalani dengan kemalasan. Aku tak berniat melakukan apapun. Untuk bangun saja terasa enggan, namun mengingat kewajibanku sebagai seorang istri aku pun harus tetap melayani Arga. Meski kekesalan masih menggelayutiku, tetapi aku tak ingin melepaskan tanggung jawabku. Beruntungnya hari ini hari libur, jadi aku tidak harus ke kantor. Bayangkan jika ke kantor dengan mood buruk, ah aku yakin aku takkan menyelesaikan pekerjaan dengan benar.

"Mau masak apa, Mbak hari ini?"

Aku berbalik dan menemukan Bi Ana berjalan masuk ke dapur dengan membawa beberapa bungkus plastic berisi sayuran. Bi Ana memang cukup rajin, selepas shalat diantar Pak Atmo ia telah berangkat ke pasar. Waktu awal aku sempat bingung, kalau hanya sayur kan bisa beli di tukang sayur yang lewat atau di supermarket terdekat. Tidak harus pagi- pagi juga maksudku.

Senandung Cinta AinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang