1. Kehamilan Mahira

59.4K 2.3K 13
                                        

Aina

“ Ai, gue hamil.”

“ APPPPAAAAAAAA!!!!” Sahutku tak percaya. Kupandangi wajah di depanku. Hanya menunduk.

“ Lihat gue, Ra!” Perintahku tegas padanya. Dengan takut- takut ia menatap wajahku.

Kutatap tajam matanya. Kupastikan perkataannya tadi hanya lelucon.

Oh, Tuhan. Tidak . tidak mungkin ini terjadi. Matanya berkaca- kaca.

“ Mahira”  ucapku perlahan

Ia hanya menganggukkan kepala

Kubuang pandanganku. Tak tahan melihatnya ingin menangis.

“ Kok bisa, Ra?”  Ah salah seharusnya bukan itu pertanyaannya. Kenapa ya kenapa kau lakukan itu? Melepaskan keperawananmu sebelum ada ikatan suci .

Dia menangis. Memelukku.

“ Maaf Ai, aku minta maaf.” isaknya

Aku menggeleng kuat. “ Bukan minta maaf sama gue Ra. Tapi minta ampun sama Tuhan.” Kurasakan ia menganggukkan kepala

“ Orang tua lo tahu? “ Kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya.

Ia menggelengkan kepala. Oh my God, Mahira….

“ Kasih tahu orang tua lo, minta maaf sama mereka.”  tegasku. “ Lo harus nikah!”

“ Nikah Ai?” aku mengeryitkan dahi  “Sama siapa?” tanyanya lagi.

Hah. Otakku masih mencerna pentanyaannya.

“ Sama bapaknya lah Ra!”

Dia menggeleng- geleng kepalanya. Masih dengan terisak. “Bapaknya nggak tahu kemana, Ai. “

“ Appppaaaa!!!!!”  Mahira sukses membuatku terkejut kedua kali.

“ di..di..a pergi Ai, nggak tahu kemana? Gue …. Gue….. udah nyari tapi nggak ketemu.”

Aku memijit kepalaku yang mendadak tersa pusing dengan berbagai perkataan Mahira.. Cmon…. Ini mimpi Aina, bukan nyata.

“ Ai… ai… aina…” kurasakan lenganku ditarik- tarik. Ah ini bukan mimpi, Tuhan

“ Lo punya alamatnya?” Mahira mengangguk.

“ Gue udah berkali- kali ke apartemennya tapi gatot.”

“ Ke kantornya?” tanyaku memastikan.

Dia menggeleng kepala. “ Gue nggak tau kantornya, gue cuma tahu apartemennya.”

Kurasakan kepalaku semakin pusing. “ Gimana sih lo, punya pacar nggak tau dimana kantornya? Siapa namanya Ari..Aris…Andre ah siapalah itu!”

“ Arga.”  Mahira membenarkan

Aku mengangguk.

“ Besok kita cari lagi dia ke apartemennya. Sekarang hapus air mata lo dan istirahat. Ini sudah terlalu malam.”  Akupun butuh istirahat. Batinku.

Mahira mengangguk dan mengusap air matanya. “ Maaf ya Ai, harusnya lo istirahat kan lo yang baru nyampe malah gue tambahin beban pikiran.”

“ Mahira.” Ucapku pelan sebelum meninggalkan kamarnya. “Tidurlah, besok kita bahas lagi.”

*****************************

Aku berusaha memejamkan mata. Sulit sekali. Kata- kata Mahira memenuhi otakku. Hamil, Hilang, Arga. Aaarrggghhh……

Senandung Cinta AinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang