Aina
“ Ai, gue hamil.”
“ APPPPAAAAAAAA!!!!” Sahutku tak percaya. Kupandangi wajah di depanku. Hanya menunduk.
“ Lihat gue, Ra!” Perintahku tegas padanya. Dengan takut- takut ia menatap wajahku.
Kutatap tajam matanya. Kupastikan perkataannya tadi hanya lelucon.
Oh, Tuhan. Tidak . tidak mungkin ini terjadi. Matanya berkaca- kaca.
“ Mahira” ucapku perlahan
Ia hanya menganggukkan kepala
Kubuang pandanganku. Tak tahan melihatnya ingin menangis.
“ Kok bisa, Ra?” Ah salah seharusnya bukan itu pertanyaannya. Kenapa ya kenapa kau lakukan itu? Melepaskan keperawananmu sebelum ada ikatan suci .
Dia menangis. Memelukku.
“ Maaf Ai, aku minta maaf.” isaknya
Aku menggeleng kuat. “ Bukan minta maaf sama gue Ra. Tapi minta ampun sama Tuhan.” Kurasakan ia menganggukkan kepala
“ Orang tua lo tahu? “ Kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya.
Ia menggelengkan kepala. Oh my God, Mahira….
“ Kasih tahu orang tua lo, minta maaf sama mereka.” tegasku. “ Lo harus nikah!”
“ Nikah Ai?” aku mengeryitkan dahi “Sama siapa?” tanyanya lagi.
Hah. Otakku masih mencerna pentanyaannya.
“ Sama bapaknya lah Ra!”
Dia menggeleng- geleng kepalanya. Masih dengan terisak. “Bapaknya nggak tahu kemana, Ai. “
“ Appppaaaa!!!!!” Mahira sukses membuatku terkejut kedua kali.
“ di..di..a pergi Ai, nggak tahu kemana? Gue …. Gue….. udah nyari tapi nggak ketemu.”
Aku memijit kepalaku yang mendadak tersa pusing dengan berbagai perkataan Mahira.. Cmon…. Ini mimpi Aina, bukan nyata.
“ Ai… ai… aina…” kurasakan lenganku ditarik- tarik. Ah ini bukan mimpi, Tuhan
“ Lo punya alamatnya?” Mahira mengangguk.
“ Gue udah berkali- kali ke apartemennya tapi gatot.”
“ Ke kantornya?” tanyaku memastikan.
Dia menggeleng kepala. “ Gue nggak tau kantornya, gue cuma tahu apartemennya.”
Kurasakan kepalaku semakin pusing. “ Gimana sih lo, punya pacar nggak tau dimana kantornya? Siapa namanya Ari..Aris…Andre ah siapalah itu!”
“ Arga.” Mahira membenarkan
Aku mengangguk.
“ Besok kita cari lagi dia ke apartemennya. Sekarang hapus air mata lo dan istirahat. Ini sudah terlalu malam.” Akupun butuh istirahat. Batinku.
Mahira mengangguk dan mengusap air matanya. “ Maaf ya Ai, harusnya lo istirahat kan lo yang baru nyampe malah gue tambahin beban pikiran.”
“ Mahira.” Ucapku pelan sebelum meninggalkan kamarnya. “Tidurlah, besok kita bahas lagi.”
*****************************
Aku berusaha memejamkan mata. Sulit sekali. Kata- kata Mahira memenuhi otakku. Hamil, Hilang, Arga. Aaarrggghhh……
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandung Cinta Aina
RandomCinta tak pernah dapat ditebak kapan dan darimana asalnya.... Hak Cipta Dilindungi Undang- Undang. Nggak ngelarang kalau mau copas atau ngeshare tapi tetep tolong cantumkan nama PENULIS. STOP PLAGIARISME! Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai k...
