10. Liburan?
Abaikan drama hari ini! Enjoy this story...:)
***************************************************
"Kita mau kemana?" Tanyaku memecah kesunyian yang tercipta selama perjalanan pulang dari pesta tadi. Sejak keluar pesta hingga mobil melaju, aku memilih diam. Aku masih kesal dengan sikap seenaknya menyuruhku datang sendiri ke pesta.
Sialan!
Namun diamku tak bertahan lama, karena aku tersadar jika mobil melaju di jalanan yang tak kupahami. Bukan arah pulang ke rumah.
"Ini bukan jalan pulang kan?" kali ini aku menoleh dan mendapati dirinya yang duduk di sampingku dengan mata terpejam. Tidur?
Aku ingin memakinya namun suaraku tercekat saat melihat Arga yang tertidur dengan tenang. Dia terlihat damai. Kuberanikan diri mendekat, melihatnya lebih jelas.
Tampan!
Satu kata yang menggambarkan dirinya. Wajarlah jika banyak wanita tergila- gila padanya seperti Mahira juga. Alis hitam yang melengkung berpadu dengan bulu mata yang panjang, rahang yang kokoh serta bibir tipis yang lancip di sudutnya menambah keelokan wajahnya. Dia terlihat lebih menyenangkan saat ini. Tidak jahil dan mesum seperti biasanya.
"Sudah puas menatap suamimu, Sayang?"
Aku berjengit kaget. apalagi saat bola mata hitamnya tepat menatapku. Ia mengerling jahil membuatku mendengus sebal.
Huft, he's back!
"Kita mau kemana?" tanyaku ketus. Kujauhkan tubuhku kembali. Memilih menatap jalanan dari balik kaca.
"Puncak,"
"HAH!" Seketika aku menoleh cepat dan memandangnya horror.
Apa dia bilang? Puncak
"Apa- apaan sih kamu!" Semburku. Emosiku kontan meledak. "Seenaknya memutuskan pergi ke puncak! Ini sudah terlalu malam. Kita harus pulang. Sudah waktunya untuk beristirahat!"
"Pak Sam, Sebaiknya kita kem...,"
Belum selesai aku meminta Pak Sam, sopir kami memutar arah pulang kurasakan sebuah tangan membekap mulutku dengan cepat.
"Kamu itu terlalu berisik, Sayang!" kata Arga sembari menyeringai," Terus ke puncak, Pak!" perintah Arga kembali. Ia tahu mungkin Pak Sam ragu karena mendengar keributan kecil di bangku penumpang.
Ck, Arga menyebalkan!
"Santailah, Ai! Kita perlu liburan." ucap Arga sambil menurunkan tangannya. Matanya kembali terpejam. Membuatku gusar setengah mati.
"Tapikan paka...," Lagi- lagi aku terhenti. Kali ini bukan karena tangan yang membekapku namun erakan tangan kanan Arga yang sedikit terangkat dengan telapak tangannya diarahkan ke diriku.
"Semua sudah diatur. Sekarang biarkan aku tidur."
Aku manyun. Seenaknya ia memutuskan pergi ke puncak dan dengan mudahnya ia bilang sudah mengatur semuanya.
Dasar laki- laki egois!
"Hentikan wajah murungmu itu, Ai. Lebih baik kamu juga tidur. Perjalanan kita masih lama."
Dia belum tidur ternyata,
"Kamu iu benar- benar... ah!" Tangan Arga menarik tubuhku merapat padanya. Tangan kanannya diletakkan di atas kepalaku hingga membuat kepalaku rebah di atas dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandung Cinta Aina
AcakCinta tak pernah dapat ditebak kapan dan darimana asalnya.... Hak Cipta Dilindungi Undang- Undang. Nggak ngelarang kalau mau copas atau ngeshare tapi tetep tolong cantumkan nama PENULIS. STOP PLAGIARISME! Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai k...
