20. Falling In Love

32.5K 2K 28
                                        

20. Falling In Love

Thanks Vote n comment kalian, temans...

Happy Reading.

******************

Jatuh cinta!

Ya Tuhan, Mahira justru lebih cepat menebak yang terjadi padaku dibanding diriku sendiri. Ck, bukan kamu nggak tahu, Ai tapi kamu terus berusaha menepis perasaan ini.

Memang apa salah sih jatuh cinta?

Salah! Karena yang kamu cintai seorang Arganta Yudha. Lelaki yang sebenarnya tak kamu kenal tapi justru masuk dalam pusara dendam yang salah alamat.

Pernikahan konyol...

Ah, bagaimana nasib pernikahan ini sih sebenarnya?

"Apa sih yang ada di sini?"

Aku berjengit kaget. Arga sudah berada di sebelah sofa yang kududuki seraya mengelus lembut dahiku beberapa kali. Aku refleks menepisnya namun Arga bergeming. Sebelah alisnya terangkat, menandakan ia tengah berpikir.

"Makin keriput nanti kamu, Ai kalau kebanyakan mikir!"

Bibirku mengerucut. "Secara nggak langsung kamu mau bilang aku tua kan,"

Arga terkekeh. "Ck, pemikiran dari mana itu?" katanya sembari menurunkan tangannya. Sesaat ia menatapku lekat- lekat sebelum akhirnya menghembuskan napas pendek.

"Kenapa sih?" tanyanya. "Bukannya masalah temanmu udah selesai ya?"

"Mahira, Ga namanya."

"Iya, Mahira." Ulangnya. "Jadi kenapa lagi sih, Aina?"

Bahuku mengendik. Aku sendiri bingung bagaimana memulai pembicaraan ini. Tetapi cepat atau lambat masalah ini harus diselesaikan. Aku tidak mau kepalaku semakin pusing karena memikirkannya.

Tapi kalau setelahnya Arga mengajukan perpisahan bagaimana?

"Kamu itu benar- benar bikin gemas deh, Ai." desis Arga seraya menarik tubuhku bersandar padanya. Awalnya aku terkejut karena perlakuannya, tetapi melepaskan diri pun tak mungkin. Arga cukup kuat menahan diriku. Mau tak mau aku pun akhirnya memilih menyerah, apalagi mencium aroma parfum Arga yang familiar di hidungku. Rileks dan nyaman.

"Kenapa? "

"Nggak. Nggak ada papa." Alih- alih mengatakan kegundahanku, aku justru mengatakan tak ada apa- apa. Pembohong, Ai!

"Kata orang kalau cewek ngomong nggak papa berarti ada apa- apa,"

Aku mencibir dalam dekapan Arga. "Kata orang itu belum tentu benar,"

Arga tergelak. "Yah kan aku kata orang, Aina. Kalau kami, laki- laki lebih jujur. Nggak ya nggak. Iya ya Iya."

"Maksudnya?" Aku mendongak menatapnya sinis. "Perempuan itu nggak jujur gitu?"

Arga terkekeh. "Siapa yang bilang?"

"Tadi kan kan kamu yang bilang," ketusku.

"Aku kan bilang laki- laki. Emang aku bilang perempuan?"

Skak mat.

Aku mendengus gusar. Ck, Arga benar!

"Ai,"

"Hmm,"

"Aku pernah bilang kan kalau aku nggak pernah menyesal dengan pernikahan ini?"

Deg.

Senandung Cinta AinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang