Revisi✔️
Dalam sekejap, tanah yang semula kering seketika menjadi basah dan penuh dengan genangan air. Hujan, dia memandikan bumi dengan penuh semangat. Ini alasan mengapa Haidar memasukkan motornya ke dalam rumah, karena tadi langit sudah mendung, dan benar saja sekarang hujan turun sangat deras pula.
Padahal tadi pagi cuaca sangat cerah, tidak ada tanda-tanda akan datang hujan. Namun rupanya semesta sangat suka menjahili penghuninya, menjelang siang awan yang semula putih berubah menjadi hitam dan siap menjatuhkan bebannya.
Cuaca yang semula cerah bisa jadi hujan tiba-tiba, kebahagiaan juga bisa berubah menjadi kesedihan kapan saja.
Haidar mengintip ke luar jendela. Beberapa anak terlihat sedang asik main hujan-hujanan.
Haidar jadi teringat masa kecil dirinya dan para saudaranya. Dahulu mereka juga sering bermain hujan-hujanan. Dasar anak kecil yang tidak mengerti kata jijik, dulu mereka berempat sering baris duduk di selokan kotor menikmati aliran air yang mengalir dari girang ke hilir. Waktu berjalan begitu cepat, kini dua dari keempat anak itu sudah memasuki umur dewasa dan dua lagi sudah akan segera lulus SMA.
Haidar sendiri masih belum menyangka dirinya sudah sebesar sekarang. Rasanya baru kemarin Haidar kecil selalu berharap cepat-cepat menjadi dewasa, sekarang Haidar sudah merasakan rasanya, ternyata tak seindah yang dia kira.
Hawa dingin menusuk kulit Haidar, membuatnya refleks memeluk dirinya sendiri dan mengusap-usap lengannya, mencoba membuat kehangatan.
Brugh
Sebuah hoodie melayang dan mendarat di kepala Haidar. Rian yang melemparnya.
Haidar tersenyum gemas pada sang kakak.
"Makasih loh, peka banget, pantes Teh Maya suka. Tapi gak harus dilempar juga!"
Senyum Haidar berganti menjadi ekspresi datar saat mengucapkan lima kata terakhir.
Bukannya merasa bersalah, Rian malah menjitak dahi adiknya itu.
"Motor kenapa lagi?"
"Hah?"
"Hah, hoh, hah, hoh. Tadi pagi lo sibuk banget ngurus motor. Apa lagi yang salah? Apa lagi yang lo rusak terus lo perbaiki lagi?"
Haidar meringis pelan. Dia pikir telah selamat karena tidak ada yang memarahinya sejak tadi. Dia lupa bahwa dia tidak akan pernah selamat dari Rian, dan benar saja sekarang Rian menyerangnya.
"Oh itu, suaranya tadi aneh, tapi sekarang dah biasa lagi kok," jawab Haidar.
"Gak mungkin suaranya jadi tiba-tiba aneh kalo gak ada penyebabnya. Jujur! Lo nyoba ngotak-ngatik lagi ya?"
Cengiran dari Haidar sudah cukup menjawab semuanya. Rian menghela napas.
"Jangan suka asal ngotak-ngatik kalo lo gak punya ilmunya, Dar!"
Baru saja Haidar akan menjawab perkataan sang kakak, suara motor yang berhenti di depan rumah mereka sudah lebih dulu mengambil alih perhatian keduanya. Mereka berdua kompak melihat siapa yang datang. Saat itu juga Rian langsung beranjak membukakan pintu dan menghampiri orang itu.
"Kok ujan-ujanan sih? Kenapa gak neduh dulu, May?"
Iyap, orang yang datang adalah Maya, tunangan Rian.
"Tadi sempat neduh dulu kok! Tapi karena hujannya gak reda-reda, ya udahlah aku terobos aja. Udah lumayan deket juga," jelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Teen FictionPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
