"Lo keliru kali!"
"Kagak anjir, seinget gue emang Ayah sama Bunda gue golongan darahnya AB sama A."
Lutfi pun jadi ikut bingung jadinya. Bahkan dia sempat mengabaikan motor-motor yang perlu diperbaiki demi ikut memikirkan kejanggalan yang ada bersama Haidar.
"Ya terus masa iya lo anak pungut, ngaco!"
Sudah cukup, Lutfi kembali fokus pada pekerjaannya, tak lagi memperdulikan temannya yang masih asik berteori.
"Heran gue, kenapa cewek suka banget gak ganti oli, ini udah kotor plus kering banget!"
Begitulah perempuan, rajin merawat diri tapi merawat kendaraan tidak pernah.
"Iya kali ya, salah kali gue." Setelah melewati berbagai pemikiran yang mengarah kesegala arah, oke, mungkin Haidar yang keliru mengetahui golongan darah orang tuanya.
"Kirain gak bakalan ke sini!" Ucap Lutfi pada Aji yang baru saja sampai.
Wajahnya yang masam dan langkahnya yang lesu menarik perhatian Haidar. Ada apa dengan sahabatnya itu?
"Abis pulang ke rumah dulu tadi."
"Ngapain?" Aji tidak pernah mau pulang ke rumah jika tidak ada alasan yang penting, makanya Haidar bertanya.
"Minta uang. "
Aji ikut duduk disebelah Haidar kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan matanya. Kalau begini Haidar tak berani menjahilinya, Aji dalam mode badmood sebaiknya Haidar tetap diam jika mau tetap aman.
"Btw Lut, itu tetangga lo ada di rumah apa gimana?"
Dari awal kedatangannya Haidar sudah salah fokus pada rumah yang ada disebelah bengkel Lutfi, pagar yang biasanya terkunci karena memang pemilik rumah selalu tidak ada dirumah, hari ini pagarnya sedikit terbuka.
"Hooh ada, kemarin pulangnya. Si Amirnya doang tapi, orangtuanya gak. Tapi tadi pagi-pagi banget dia pergi bawa mobil, belum balik lagi sampai sekarang."
Haidar memangut-mangut dan ber-oh ria. "Gue tunggu sampai balik, ah, mau gue palak sebat sebungkus!"
"Otak lo rokok mulu anjir, adek lo mau jadi dokter kan, bisa-bisa lo yang jadi pasien pertamanya!" Sewot Lutfi.
Haidar malah cengengesan, membuat Lutfi rasanya ingin melemparkan kunci inggris yang dipegangnya mengenai gigi-gigi itu.
Panjang umur, yang dibicarakan pun datang. Mata Haidar langsung berbinar begitu mobil yang sangat ia kenali lewat dan berhenti tepat di depan rumahnya. Sang pemilik mobil keluar dari mobilnya. Haidar pun langsung bangkit dari duduknya, Aji hanya bisa pasrah ketika Haidar menariknya ikut bersamanya menghampiri orang itu.
"Weh bang!" Sapanya dengan sangat ria.
Yang dipanggil lantas menoleh. "Eh, Haidar."
"Apa kabar lo? Gue pikir lo pindah rumah, abisnya jarang banget ada disini!"
Orang itu tertawa kecil. "Gue kan kemarin-kemarin kerja diluar kota Dar, gimana caranya gue selalu ada disini? Tapi mulai sekarang kayaknya lo bakal bosen liat gue terus."
"Jangan bilang lo pindah kerja sini lo?" Tebak Haidar.
Dia mengangguk.
"Asik dong, jadi bisa sering gue palakin kalo gitu!" Oke, Haidar memang sedikit tidak tahu diri.
Orang yang disebut Amir oleh Lutfi tadi memang memiliki kepekaan tingkat dewa. Dia langsung merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Lagi kosong gue, beli aja sana nih duitnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Teen FictionPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
