24. Banyak yang berubah

1.3K 158 16
                                        

Satu bulan pun berlalu.

Ini bencana, ujian yang seharusnya lima belas hari lagi dipercepat jadi akan dilaksanakan minggu depan. Tentu semua murid kelas 12 misuh bukan main, tak terkecuali Aji yang sampai sekarang tak berhenti memprotes hal itu.

"Gak ngotak anjir, kemaren belajar kita diganggu classmeet, sekarang ujiannya dipercepat sedangkan materi aja belum semua dijelasin, sekarang dijelasin pake sistem ngebut, gimana caranya gue bisa paham?"

"Lo berani ngomong disini doang, sana ngomong sama guru langsung, protes langsung sana!" Timpal Haidar yang sudah jenuh mendengar Aji mengeluh soal ujian yang dipercepat.

Haidar juga sama kesalnya dengan Aji, tapi Haidar tidak terus-menerus misuh seperti Aji, ya, mau terus-menerus misuh tak ada gunanya, itu tak akan membuat ujian tidak jadi minggu depan.

"Bener tuh, Jang Aji, mending sekarang belajar aja daripada protes dibelakang percuma. Bibi mah da yakin yang sering nongkrong di warung bibi bakal lulus semua, yaudah ku bibi bakal didoain yang terbaik!"

Sama seperti biasanya, Haidar dan Aji menghabiskan waktu luang mereka dengan menongkrong diwarung yang berada di sebrang sekolah mereka atau biasa disebut warung rumah singgah. Pulang sekolah, mereka sekedar ganti baju dan menyimpan tas, lalu mereka kembali kemari. Tidak hanya berdua tapi beberapa murid lain juga.

Entah memiliki kekuatan atau bagaimana yang jelas berada disini membuat mereka nyaman, bibi pemilik warung yang sangat pengertian, selalu menjadi pendengar yang baik bagi keluhan remaja-remaja itu.

Biasanya Haidar pulang sekitar jam sepuluhan dari sini, tapi kalau malam sabtu dan malam minggu biasanya bisa sampai lebih malam. Bisa dikatakan Haidar hanya menumpang tidur dirumah, hampir seluruh waktunya dia habiskan diluar. Kalau Aji dia pulang semaunya, tapi kadang Aji tidak enak kalau menongkrong sampai larut malam, takut menganggu istirahat si Bibi dan Mamang pemilik warung.

Warung ini sudah menjadi rumah kedua mereka.

"Aaaaaa, bibi emang paling pengertian deh, paling bestie sama kita!" Seru Haidar.

Si bibi hanya merespon dengan senyum. Tak bisa dipungkiri dirinya senang tempatnya menjadi tempat berkumpul para remaja ini. Bukan hanya karena memang melariskan dagangannya, tapi canda tawa anak-anak itu membuat hati si bibi menjadi hangat. Si bibi jadi merasa punya banyak anak.

Bunyi notifikasi pesan masuk membuat Haidar buru-buru membukanya. Pesan digrup sekolah. Haidar membacanya dengan teliti sebelum akhirnya menyambar tubuh Aji, dia mengguncangkan tubuh Aji dengan brutal. Aji yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu tentu saja kesal, belum lagi kaki Haidar tanpa dosa menginjak kakinya.

"Apaan sih, anjir sakit, monyet!"

"Baca itu digrup sekolah!" Aji mengernyit, dia penasaran sebenernya ada apa sampai Haidar seheboh ini, tapi Aji malas kalau harus membuka ponselnya.

"Males anjir, tinggal kasih tau aja ada apaan? Lo udah baca, kan?"

Haidar memutar bola matanya malas. Beginilah Aji,  selalu malas membuka pesan yang masuk. Jangan harap pesan akan dibalas dengan cepat olehnya, Haidar saja baru mendapat respon jika menelponnya.

"Oke nih gue baca, dari bapak kepala sekolah tersayang, 'Anak-anak dikarenakan ujian dipercepat jadi ada waktu luang selama beberapa hari, untuk itu kami para guru memutuskan untuk menyetujui permintaan anak-anak sekalian yang pernah mengajukan ingin Touring ke cibodas, untuk info lebih lanjut nanti setelah ujian bapak kasih tau lagi. Untuk sekarang kalian fokus belajar ya anak-anakku sekalian.' "

Aji langsung melompat kegirangan saat itu juga. Kalau begini Aji tidak keberatan ujian dipercepat jadi minggu depan, bahkan jika dipercepat jadi besok pun Aji terima.

•••

Hari ini hasil dari perjuangan Nova. Foto dirinya terpampang di spanduk bersama dengan jejeran foto mahasiswa lainnya. Semua sibuk mengabadikan momen ini. Momen yang tak akan mereka lupakan sebagai mahasiswa semester akhir.

Giliran Nova, namanya masih tertutupi, perlahan dia membuka yang menghalangi namanya.

Maulana Nova S.M.

Riuh tepuk tangan membuat mata Nova berkaca-kaca. Selanjutnya tubuh Nova diserbu oleh pelukan dari teman-temannya.

Lengkap sudah, spanduk itu kini memampangkan dengan jelas foto juga nama-nama orang-orang hebat yang berhasil meraih gelar yang selama ini mereka impikan. Gelar yang selama ini mati-matian mereka perjuangkan kini berada dibelakang nama mereka masing-masing.

Bangga? Tentu saja, mengingat skripsian bukan perkara yang mudah, bulak-balik sidang, ketakutan akan harus merevisi, pahitnya menjadi mahasiswa baru sampai puncaknya di semester akhir, ribetnya KKN, drama lain yang menjadi pemberat masa kuliah, itu semua hampir membuat mereka gila, tapi kini mereka merasakan bahagianya.

Ucapan selamat juga hadiah kecil Nova dapatkan. Nova juga memberi hal sama pada beberapa teman yang cukup dekat dengannya. Lucu, mereka menangisi bersama keberhasilan mereka lalu saling membagi hadiah satu sama lain.

Kehadiran seorang gadis membawa sebuah bucket mengambil alih perhatian.

Dia berjalan dengan wajah ceria dan bangga, dia menghampiri Nova.

Bukan Kania, tapi temannya, Gia.

"Bang Nova, congrats!"

Nova tersenyum dan menerima bucket dari Gia. "Makasih, Gi." Awalnya Nova belum menyadari, sesaat kemudian kupingnya memerah.

Bucket dari Gia bukan Bucket biasa, Bucket berisi sekumpulan foto card Hanni New jeans. "Eh, Gi, lo mau bikin gue ngereog disini apa gimana?"

"Iya, coba histeris kek orgil, bang, gue pengen liat lo ngereog sumpah!" Tantang Gia.

Orang-orang disekitar pun terheran-heran dan bertanya-tanya. Bukankah pacar Nova itu Kania, tapi mengapa Nova tampak dekat dengan Gia? Tunggu sejak kapan Nova dan Gia akrab?

"Gak dulu mode cool gue, thanks loh ini." Tak bisa dipungkiri, Nova sangat suka bucket dari Gia.

"Sama-sama, sekali lagi selamat ya bang, jangan lupa traktirannya nanti, oke?"

Nova mengacungkan jempolnya. "Sip!"

Begitu Gia pergi, Nova langsung diintrogasi.

Ya, selama sebulan ini banyak hal yang terjadi, banyak yang berubah.

•••

"Kiw, tinggal wisuda nih," Goda Rian dari sebrang sana.

"Yoi, abis itu gue bisa kerja deh kayak lo, finally bakal gak jadi beban lagi, tapi biaya wisuda itu beban terakhir sih, gede banget lagi."

"Gue bantu nanti kalo emang berat banget, tapi lo tau si ayah kan, gengsi gede, pengen nanggung semua sendiri walau nyatanya lagi kurang sanggup."

"Ya gak beda jauh sama lo, lo juga gitu, A. Bisa-bisanya baru cerita ke gue masalah mahar, pantes lo gila kerja, orang tuntutan dari ortu teh Maya bukan main."

"Yaudah sih, kan gue gak jadi nikahnya juga."

"Beneran mau ngelepas, A?"

"Ya kalo jujur mah gak mau, tapi ya mau gimana lagi. Masa iya gue harus maksa? Cinta gak boleh dipaksa kan?"

"Soal tawaran ortu teh Ninda gimana, A?"

"Gak tau bingung, apa gue ikutin kata Naufal aja?"


🍣🍣🍣

Khilaf 2 minggu gak ngaruh 😁

Latar waktunya aku percepat artinya dah mau nyampe konflik utama hwehe

See you next chapter guyssss!

PERSEGI | 00L dreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang