Cuaca secerah perasaan Naufal hari ini. Usai mengantarkan sang kakak langsung saja dia menancapkan gas menuju rumah Raya.
Beberapa saat sebelumnya...
Setelah dikamarnya benar-benar hanya ada dirinya seorang Naufal langsung mencari kontak Raya. Hendak mengirim pesan, namun dipikir-pikir lagi ini sebuah kesempatan, Naufal tidak jadi mengirim pesan dan langsung menelponnya saja. Satu kali terdengar bunyi, Tut, membuat Naufal ingin menekan tombol merah, Naufal takut tidak diangkat, malu jika sampai tidak terangkat.
Tapi kalau begitu terus tidak akan ada kemajuan Naufal, masalah malu dikesampingkan dulu.
Setelah terlewat beberapa bunyi, Tut, akhirnya layar menunjukan detik yang terus bertambah seiring berjalannya waktu. Raya mengangkat panggilannya.
"Kenapa Fal?"
Naufal berdehem mencoba bersikap normal. "Gini Ray, gue udah dapet ide lomba, tapi perlu alat, lo ikut gue nyari alatnya mau ya?"
Bukan pertanyaan bukan juga ajakan, ini lebih ke perintah dan pemaksaan sedikit.
"Hari ini?" Tanyanya terdengar ragu.
"Iya, bisa kan?" Please, Naufal harap bisa.
"Bisa sih," Katanya yang membuat Naufal langsung lega.
"Tapi lo gak ada acara kan?" Seharusnya Naufal bertanya ini di awal, sudahlah tidak apa-apa.
"Gak ada kok, gue free. Tapi kenapa lo ngajak gue? Kenapa gak sama Satya atau Mita, sekretaris nya kan Mita, bendaharanya Nisa, gue cuma seksi yang gak terlalu penting."
"Ya mau sekalian PDKT, kali aja bisa balikan!" Naufal hanya punya nyali mengatakannya dalam hati.
"Satya ada acara, Mita cerewet, Nisa terlalu judes. Mending sama lo!"
"Oh ya udah, jemput aja, tau kan rumah gue? Dulu pas SMP suka antar jemput gue, gak lupa kan? Haha... "
Raya meresahkan. Bisa-bisanya gadis itu tertawa santai sementara Naufal di sini salah tingkah. Untung ini via telpon, jadi Naufal bebas bergerak, tanpa takut kesalahtingkahnya terlihat.
"Btw, lo dapat ide lombanya dari mana?"
"Dari mimpi hehe," Jawab Naufal jujur. Mungkin karena Naufal terlalu memikirkannya sampai Naufal pun memimpikan acara classmeet, dalam mimpi itu sedang berjalan suatu lomba dan Naufal jadi wasitnya, diingat-ingat lomba itu cukup bagus, jadi Naufal berencana membuat nyata sesuatu yang ada di mimpinya.
Terdengar kekehan kecil dari sebrang sana. "Ada-ada aja Fal, ya udah jemput aja ya!"
"Oke sip!"
Panggilan diakhiri. Naufal langsung menjatuhkan dirinya ke ranjang. Dia berguling kesana kemari dengan mulut yang tak berhenti menggumamkan kata, Yes, puas berguling-guling dia kembali berdiri, kemudian berjoget dengan ria, dia berjalan mengambil handuk, selanjutnya masuk ke kamar mandi dengan masih sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dan tersenyum begitu lebar.
Benar kata orang, cinta membuat orang seperti orang gila.
Berkat kerusuhan Mita saat itu Naufal bisa akrab kembali dengan Raya. Selama ini mereka asing juga karena Naufal sendiri sih.
"Hah? Em, gak deh, gue udah pernah cek golongan darah gue dulu jadi gue udah tau. Kebetulan katanya golongan darah gue sama Haidar sama." gegara Raya memujinya tadi Naufal jadi sedikit gugup.
"Oh, O ya?
"Iya." sebenarnya Naufal tak begitu mendengar yang Raya katakan, jeritan para siswi yang geram pada Haidar membuat samar suara Raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Teen FictionPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
