EKSTRA PART (Haidar & Abelva)

340 24 0
                                        

Hari ini, Haidar dan Abelva tak bisa lagi lari dari interogasi keluarga besar. Mereka duduk berdua di tengah ruang tamu seperti terdakwa, sementara seluruh keluarga mengelilingi mereka, mulai dari ayah, bunda, Rian, Nova, Naufal, bahkan Maya  duduk manis sambil ngemil buah, siap jadi penonton drama hari itu.

"Bel, pulang sekarang yuk," bisik Haidar cepat-cepat pada Abelva, setengah bercanda, setengah serius.

Namun sebelum Abelva bisa menjawab, Bunda menatap Haidar tajam seperti detektif kawakan. Haidar langsung menunduk, kicep.

“Oke,” kata Bunda sambil menyilangkan tangan di dada. “Pertanyaan pertama—gimana awal kalian ketemu?”

"Sebenernya Abel sama Haidar satu SD dulu," kata Haidar sambil nyengir.

"Hah?" Semua nyaris serempak bersuara, ekspresi mereka berubah dari penasaran jadi kaget. Bahkan Naufal yang biasanya kalem, refleks duduk lebih tegak.

“Satu SD? Serius lo, Dar?” tanya Naufal, alisnya terangkat tinggi. “Kok gue gak kenal?”

Abelva tersenyum kecil, lalu menoleh ke Naufal. “Dulu aku sering sakit, jadi jarang masuk. Habis lulus SD, aku juga ganti nama… Naufal masa gak ingat? Aku Arsella.”

Ruangan langsung sunyi. Semua saling pandang, termasuk Naufal yang kini menatap Abelva lekat-lekat, seperti mencoba menghubungkan potongan puzzle lama di kepalanya.

“Arsella… yang dulu suka bawa boneka kecil di tas? Yang kalau upacara selalu duduk di UKS?”

Abelva mengangguk pelan, sedikit malu. “Iya… itu aku.”

“Ya ampun,” desis Naufal, masih tak percaya. “Pantes aja gak ngenalin… lo bener-bener berubah. "

Abelva terkekeh, menutup mulut malu. “Hampir semua orang gak ngenalin aku. Cuma Haidar yang langsung tau ini aku.”

Haidar menyandarkan diri santai di sandaran kursi, dengan senyum penuh kemenangan. “Cinta sejati, tidak mungkin tidak mengenali.”

Semua langsung berseru, “Ihhhhh!” disambung tawa yang ramai.

Abelva menunduk malu, pipinya merah merona. Sementara Haidar masih dengan gaya santainya, malah nyeruput teh seolah baru saja menang lomba debat nasional.

“Tapi gimana caranya kalian deket… lagi?” tanya Rian sambil nyengir penasaran.

“Gak gimana-gimana,” jawab Haidar santai. “Emang dari dulu gue nunggu Abel.”

Naufal yang dari tadi nyimak langsung nyeletuk, “Jadi… itu alasan lo gak nerima Raya, ya?”

Seketika ruangan hening.

Plak!

Nova memukul paha Naufal. Sebagai peringatan. Mengapa jadi membawa orang lain yang tidak ada di sini?

Haidar hanya mengangkat bahu sambil senyum kecil. “Ada yang dari dulu ditunggu, ngapain buka hati buat yang baru?”

Abelva menatap Haidar sekilas, senyumnya penuh arti. Sedangkan bunda hanya menggeleng kecil. “Duh ini anak siapa? Romantisnya alay, nurun dari siapa ya?”

“Waktu itu Haidar nangis. Marah banget. Ayah nggak ngizinin Haidar ikut ke kolam renang karena Naufal lagi pilek. Padahal udah janji sama teman-teman dari lama. Haidar ngerasa nggak adil, selalu harus ngalah, selalu harus ngerti.”

Haidar menarik napas pelan. Sedikit sulit menceritakan ini, namun ia sendiri yang mengatakan harus damai dengan semuanya. Semua yang duduk mengelilinginya terdiam, menunggu kelanjutannya cerita Haidar.

“Pas lagi duduk sendirian di belakang sekolah, Abel datang. Duduk di samping Haidar. Dengerin aja, nggak banyak ngomong. Tapi buat Haidar, itu cukup. Rasanya... ada yang peduli.”

PERSEGI | 00L dreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang