"Cantik, kamu ini gimana sih? Kan udah bunda bilang berkali-kali sering-sering main ke sini tuh, gak usah pake acara gak enak, bentar lagi ini juga jadi rumah kamu. Tunggu sebentar, bunda ambil minum!"
Baru saja bunda akan pergi, namun Maya lebih dulu menahannya agar tetap duduk di sampingnya. Bunda sempat kebingungan karena tindakan Maya yang tiba-tiba. Maya memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukan yang ingin dia lakukan.
Sungguh ini berat untuk Maya, rasa tidak enak sungguh menyiksanya. Belum bicara saja Maya sudah ingin menangis, Maya takut akan respon yang akan dia dapat nantinya.
Menyadari kondisi Maya yang tampak sedang menahan sesuatu bunda pun bertanya, "Kenapa, May? Ada yang mau Maya bilang ke bunda? Ada masalah sama Aa? Mau curhat sama bunda? Ayo keluarin aja, bunda dengerin kok!"
Mendengar penuturan bunda membuat Maya semakin ingin menangis. Tampaknya Maya akan sangat tidak tahu diri hari ini. "Bun," nada bicara Maya terdengar bergetar khas orang akan menangis.
"Maya tau selama Maya sama Rian berhubungan bukan cuma kita berdua aja yang terikat dalam hubungan itu, tanpa sengaja Maya juga jadi punya hubungan sama bunda, ayah, Nova, Haidar, Naufal. Maya tau kalian terutama bunda berhak tau tentang hubungan percintaan para anaknya, kan? Siapa gadis yang berani rebut hati anaknya, siapa gadis yang berani bersanding sama bunda dihati anak bunda. Bunda berhak tau semua itu. Tapi Maya pikir bunda juga berhak tau ketika hubungan anaknya sudah selesai."
Maya menundukkan kepalanya tak berani menatap mata ibu dari tunangannya, ralat mantan tunangan. "Bun maaf... Maya gak bisa lanjutin hubungan sama Rian. Maya udah balikin cincinnya ke Rian, bun." Maya memperlihatkan jarinya yang sudah tak terikat cincin pertunangan lagi.
Tangis Maya langsung pecah karena tak ada respon dari bunda. Bunda hanya diam memandangi jari manis Maya yang kini polos tanpa benda apapun. Sebenarnya sejak tadi bunda sudah sadar akan ketidakberadaan cincin di jari tunangan sang putra, namun bunda tak pernah menyangka dengan apa yang Maya katakan barusan.
"Anak bunda ngapain?" akhirnya bunda bersuara. "Dia nyakitin hati kamu, May? Iya? Ayo sok aduin sama sama bunda! Apa yang dia lakuin? Bunda marahin kalo emang dia macem-macem di sana, kenapa? Dia selingkuh atau apa?"
Yang terlintas dalam pikiran bunda adalah kesalahan dari putranya yang membuat Maya ingin mengakhiri semuanya.
Maya menggelengkan kepala dengan tangis yang semakin pecah. Sungguh hatinya perih mendengar bunda menyangka yang tidak-tidak tentang putranya.
"Kalo emang ada masalah sebaiknya bicarain baik-baik dulu, yang harus diselesain masalahnya bukan hubungannya. Bunda telpon Aa-nya sekarang, bunda akan suruh dia minta maaf sama kamu. Bunda tau kamu ngambil keputusan ini saat pikiran kamu lagi kacau, sekarang kita cari solusi dulu ya? Jangan mikir aneh-aneh!"
Maya mengangkat pandangannya. "Rian nggak salah apa-apa bunda, Rian sama sekali nggak pernah nyakitin hati Maya dari dulu sampai sekarang, bunda tau sendiri anak bunda satu itu paling setia orangnya kenapa bunda mikir buruk tentangnya? Hati Maya sakit denger bunda curigai putra bunda sendiri."
"Terus kenapa kamu balikin cincin, cantik?" bunda berusaha tetap tenang meskipun emosinya mulai kacau.
"Karena Maya gak bisa lanjutin hubungan ini bun, Maya gak bisa nikah sama Rian. Maya mau cukup sampai sini aja bun," jawab Maya sambil sesenggukan.
Tanpa sadar buliran bening pun juga lolos dari pelupuk mata bunda. "Kamu lagi becanda kan May? Bunda anggap kamu lagi becanda, udalah becandanya cukup jangan dilanjut, kita masak aja yuk!"
Bunda menarik tangan Maya agar ikut bangkit dari duduk bersamanya, namun bukannya berdiri Maya justru malah bersimpuh.
"Bunda, Maya bener-bener minta maaf, maafin Maya, bunda berhak kecewa sama Maya, tapi tolong terima keputusan Maya bun!" Maya memohon.
Bunda ikut bersimpuh dan segera menarik Maya ke dalam dekapannya. "Nggak akan, bunda nggak akan biarin hubungan kalian selesai. Bunda udah anggap kamu kayak putri bunda sendiri May, bunda nggak mau kamu pergi dari bunda. Kamu anak perempuan bunda cantik, nggak boleh pokoknya kamu harus jadi menantu bunda!" kukuh bunda.
Tangis dua perempuan kesayangan Rian itu mengundang kehadiran sang ayah dan juga para adik Rian. Mereka hanya mendengar dan menyaksikan tanpa berniat ingin menghampiri, mereka membiarnya bunda dan juga Maya berbicara berdua. Walau sebenarnya Nova sangat ingin memarahi Maya saat ini, sungguh Nova tak habis pikir dengannya. Haidar sendiri terkejut bukan main mendengar keinginan Maya. Sementara Naufal, dia memasang ekspresi khas orang kecewa berat, namun dalam hatinya dia sedikit bersyukur.
"Maaf bunda, Maya gak bisa..." lirih Maya. "Maya gak bisa ngelanjutin hubungan Maya sama Rian, maaf bun, Maya bener-bener minta maaf!"
Bunda melepaskan pelukannya, menubrukkan pandangannya yang buram karena air mata dengan mata Maya yang basah. "Kenapa?" tanyanya.
Maya memberanikan diri menjawab, "Karena Maya gak cinta sama Rian bun."
Bunda menghela nafas panjang. "Maya dengerin bunda sayang, semakin serius dan semakin lama hubungan itu ujiannya juga semakin banyak, rasa cinta yang pudar, mulai ngerasa bosan itu pasti ada, tapi itu cuma sesaat, kalo bisa ngelewatin fase itu cintanya justru akan lebih kuat. Mungkin kamu lagi di fase itu sekarang, lawan sayang, jangan ikutin semua godaan itu, ayo pikirin lagi keputusannya!"
Maya menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Keputusan Maya udah bulat bunda, Maya bener-bener nggak bisa lanjutin hubungan ini, maaf kalo keputusan Maya bikin bunda kecewa tapi Maya bener-bener gak bisa terus sama-sama sama Rian. Ini yang terbaik bunda," tuturnya.
•••
Usai bercerita kepada para adiknya, Rian menemui sang bunda dan memintanya untuk bercerita.
Rian pikir dirinya akan mendapat penjelasan tentang apa alasan Maya ingin mengakhiri hubungan mereka berdua, namun nyatanya sama seperti pada dirinya, Maya juga tidak memberi alasan yang jelas pada sang bunda.
"Saran bunda, kalo perasaan kamu sudah agak baikan temuin, ajak ngobrol baik-baik, usaha juga A, pujuk biar mau balik sama kamu! Lelaki itu harus berjuang A," kata bunda.
"Tapi kalo misalkan Maya tetep gak mau, udah jangan dipaksa! Terima aja, mungkin emang kalian bukan jodoh. Tapi kalian emang perlu bicara biar gak ada yang mengganjal dalam hati kalian, hubungan percintaan kalian boleh selesai, tapi hubungan pertemanan jangan sampai! Bunda gak mau kalian musuhan, bunda juga gak mau kalian jadi asing, hubungan silaturahmi kalian harus tetep baik-baik aja."
Tadi Haidar sekarang bunda yang menyuruhnya, haruskah Rian menemuinya? Tapi maukah Maya bertemu dengannya? Dan sanggupkah Rian bertemu dan bicara dengan Maya? Banyak hal yang Rian takuti sejak cincin pertunangannya kembalikan.
Tapi memang Rian perlu bertemu dengan Maya untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.
Rian kembali ke kamarnya dan mulai mencari kontak Maya didalam ponselnya. Awalnya Rian ragu, tapi akhirnya dia tetap mengirim pesan pada Maya.
Semestaku
May
Kita harus ketemu
Rian tak yakin dengan jawaban Maya, namun Rian berharap Maya mau menemuinya.
🍣🍣🍣
Helowww wkwk aku up hehe
Ga tau pengen up aja walaupun sebenernya aku punya banyak beban hafalan
See you next chapter
Spoiler ajaa kebenaran akan terungkap di part selanjutnya
Sosok Mirza juga muncul eeaakkkk
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Fiksi RemajaPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
