09. Malam bersama Aji

1.4K 165 26
                                        

"Nggak usah kekanak-kanakan bisa?"

Kalimat yang biasanya Haidar lontarkan pada Naufal, kini kalimat itu dilontarkan orang lain kepadanya.

"..., Lo lebih tua satu tahun dari Naufal tapi lebih dewasaan dia gue liat."

Benarkah?

Menurut Nova lebih dewasa Naufal daripada dirinya, itu sangat bertolak belakang dengan yang menurut Haidar. Selama ini Haidar selalu menganggap dirinya lebih dewasa daripada Naufal dari segi umur maupun sikap, tapi mendengar ucapan Nova, Haidar jadi bertanya-tanya, apakah selama ini dia salah?

Bukan tanpa alasan Haidar bisa memiliki pikiran bahwasannya Naufal itu kekanak-kanakan, itu karena setiap keinginan Naufal harus selalu dikabulkan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi bukan Naufal yang selalu memaksakan keinginannya, tapi memang semua keinginannya selalu dikabulkan. Sejak kecil, Naufal selalu mendapat yang dia mau, dia mungkin tak pernah tau rasanya mengalah dan bahkan mungkin tak akan pernah tau.

Haidar melirik rokoknya yang hampir mati karena lama tidak dihisap, kemudian dia menghisapnya kembali sehingga rokok tersebut kembali menyala. Dihembuskannya asap nikotin itu ke udara. Satu hisapan, satu persen ketenangan. Begitu cara barang ber-zat adiktif itu bekerja.

"Sumpah lo nggak tau diri banget tiba-tiba maksa pengen main ke kosan gue terus maksa minta di jemput juga, eh begitu nyampe malah ngelamun sambil nyebat!" Itu Aji yang mengomel.

Setelah memukul kasur yang tak bersalah Haidar langsung menghubungi Aji, memaksanya untuk menjemputnya dengan alasan, "Gabut di rumah, gue mau ngerusuh di kosan lo."

Sebenarnya bisa saja Aji menolak, tapi dia tetap menjemputnya. Tingkah Haidar yang seharian ini cukup aneh membuat Aji turut penasaran, dia kenapa sebenarnya? Ini memang bukan yang pertama kalinya Haidar datang ke kosannya malam-malam, biasa juga suka begitu walau tidak sering, bahkan kadang sampai menginap jika itu hari minggu atau libur. Bukan hanya Haidar tapi teman-teman Aji yang lain juga. Biasanya Haidar datang ke kosannya seenak hati dia, tanpa menghubungi terlebih dulu motornya selalu sudah menangkring di depan kosannya. Tapi kali ini Haidar meminta untuk di jemput, itu yang mengherankan.

"Sorry tapi gue mau ngelunjak lagi gue mau nginep," ucap Haidar tanpa dosa.

"Nggak boleh!" tolak Aji tanpa pikir panjang. "Besok sekolah bego! Lo nggak bawa seragam, tas, cuma bawa badan doang. Gimana besok sekolah hah?!"

"Ya kan bisa besok subuh-subuh lo anterin gue ke rumah dulu buat ganti baju sama bawa buku."

Haidar Definisi manusia dikasih hati malah minta sekalian jantung, ginjal, paru-paru, otak, mata dan sebagainya.

Aji menghela nafas panjang. Tanpa perlu Haidar jelaskan dengan jelas, kini Aji paham apa yang sedang tadi. Terlihat jelas bahwa Haidar enggan pulang, Aji menerka mungkin Haidar ada masalah dengan salah satu penghuni rumahnya. "Lo mau cerita atau nggak?"

"Cerita apaan dah? Lo pengen gue bacain dongeng? Udah gede lo masih suka pengen diceritain dongeng sebelum tidur Ji? Anjir! Hahaha... " Padahal Aji yakin Haidar paham betul maksudnya, namun dia malah bercanda, ini yang Aji tak suka darinya.

Haidar tertawa sendiri, sementara Aji memasang wajah datar sebagai tanda dia dalam mode serius. Melihat itu tawa Haidar pun lenyap.

"Nggak usah sok dewasa lo! Bahkan orang dewasa juga perlu tempat untuk menceritakan semua masalahnya. Masalah emang nggak akan selesai hanya dengan diceritakan, tapi setidaknya hati akan sedikit lega setelah berhasil menyerukannya."

Aji mengambil bungkus rokok yang semula berada di saku Haidar. Dia mengambil satu batang dan mulai mengonsumsinya. "Nyebat nggak ngajak-ngajak lo," celetuknya.

PERSEGI | 00L dreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang