Sebuah kereta berhenti distasiun. Menurunkan beberapa penumpang yang sudah sampai ditempat tujuannya, kemudian mengangkut penumpang lain yang hendak berangkat ke tujuan selanjutnya.
Rian salah satu penumpang kereta yang telah sampah di tujuannya. Ya ia telah kembali ke kota asalnya. Ia melirik kanan kiri mencari seseorang yang dikenalnya, namun tidak ada. Ia merogoh saku dan mengambil handphonenya.
Segera ia menelpon orang yang dicarinya.
"May, aku udah sampe distasiun, kamu dimana?"
"Eh, kamu udah sampe? Tunggu aku masih dijalan."
Alih-alih mengabari keluarganya terlebih dahulu, Rian lebih memilih bertemu Maya terlebih dahulu. Ya mungkin ini yang terakhir kalinya ia menghabiskan waktu dengan Maya sebelum nanti ia menikah dengan perempuan lain.
Tak berselang lama Maya tiba dengan mobilnya, Rian langsung menghampiri mantan kekasihnya itu.
"Aku yang nyetir?"
Maya menggeleng. "Jangan, aku aja kamu pasti capek! Kita mau kemana?"
"Kemana aja asal hari ini kita habiskan waktu bersama!"
Selama perjalanan cukup canggung di antara keduanya, mengingat apa yang telah terjadi pada hubungan keduanya.
"Gimana perasaan kamu satu tempat kerja sama crush asli kamu?" Rian memulai percakapan.
"Biasa aja, " Jawab Maya seadanya.
"Masa sih?"
"Udah ah jangan bahas itu!" Sungguh Maya tidak mau membahasnya.
"Oh iya gimana perasaannya mau nikah sama tetangga sekaligus temen deket?" tanya Maya.
"Udah ah jangan bahas itu!" Rian membalikan perkataan Maya, hal itu membuat Maya kesal. Maya memasang wajah cemberut, Rian yang melihatnya pun tertawa.
Ini seperti saat mereka sedang menjalin hubungan dahulu.
"Kamu enggak ngasih tau orang rumah kalo kamu udah di sini?"
Rian menggeleng.
"Parah banget!"
"Kalo aku ngasih tau mereka, aku gak akan bisa sama kamu sekarang."
"Mau kemana kita?" Tanya Maya. Sebenarnya mereka tidak punya tempat tujuan.
"Kawin lari mau gak?" Tiba-tiba saja kalimat nyeleneh itu keluar dari mulut Rian.
"Sembarangan!"
"Aku tahu kamu cinta sama aku."
"Dih, aku cintanya sama Mirza!" Bohong, Maya berbohong.
"Masa iya kamu gak ada perasaan sedikitpun sama aku? selama kita pacaran sering ciuman loh, pas ciuman itu kamu juga kayak suka banget, menikmati juga!" Tolong tutup mulut Rian sekarang juga. Pipi Maya merah merona karena ucapan pria matang itu.
"Bisa jangan mesum?"
"Siapa coba yang mesum? Aku gak mesum. "
Tapi perkataannya tadi sungguh meresahkan, dasar cowok.
"Aku serius, kamu beneran gak mau kawin lari?"
"Masa aku kawin lari sama calon suami orang?" Benar, mau bagaimana pun rencana pernikahan Rian dan Ninda sudah setengah matang, banyak yang sudah mengetahui keduanya akan menikah secepatnya dan acara lamaran mereka dalam waktu dekat ini.
"Padahal aku bisa usahain mahar yang mama kamu minta, May."
Ya, alasan utama yang membuat Maya memutuskan untuk menyudahi pertunangannya dengan Rian adalah permintaan sang ibu yang gila. Meminta mahar yang sangat besar dan syarat-syarat yang harus Rian laksanakan dalam waktu panjang.
"Emang kamu sanggup?"
Rian menghela nafas. Iya dirinya memang tidak bisa menyanggupi itu semua.
"Mungkin kita emang enggak jodoh, Yan. Tapi aku seneng bisa kenal sama kamu, dewasa bareng kamu, anak kita nanti bisalah dijodohin sebagai ganti kita yang gak bisa sama sama!"
Hubungan yang lama tidak menjamin akan selamanya. Terikat hubungan pertunangan tidak menjamin akan sampai dipernikahan. Mereka terpaksa berpisah karena takdir, namun hebatnya mereka bisa meluruskan terlebih dahulu semua yang mengganjal. Hubungan mereka kini benar-benar berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Dla nastolatkówPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
