19. Sekat

1.4K 160 29
                                        

~I say "fuck it" when I feel it
'Cause no one's keepin' tally
I do what I want with who I like
I ain't gon' conceal it
While you talkin' all that shit
I'll be gettin' mine, gettin' mine....

Entah sudah putaran yang keberapa Nova tak berniat memutar lagu lain. Menurut Nova lagu Tally milik BLACKPINK adalah lagu tergalau, memang cocok diputar sekarang. Nova mencoba tidur dengan headset yang masing terpasang dikedua telinganya. Namun sekeras apapun Nova mencoba memaksa masuk ke alam mimpi, pikirannya terlalu berisik sehingga dia tidak bisa tidur.

Nova melepas headsetnya, kemudian bangkit lalu keluar dari kamarnya, dan menuju kamar Haidar. Ini baru pukul setengah sebelas, biasanya Haidar masih terjaga dan bermain game. Namun begitu sampai dikamar Haidar di sana tidak ada siapa-siapa. Kemana dia?

Oke, Haidar memang suka nongkrong, mungkinkah belum pulang? Tapi Nova tak menyadari kepergiannya. Seingat Nova, Haidar tidak pergi keluar.

Nova pun pergi ke kamar adiknya yang satunya lagi, dia ingin bertanya kemana Haidar pergi. Ekspektasi Nova, dia akan menemukan adiknya yang masih berkutat dengan buku-buku tebal, namun yang Nova lihat sekarang bukan itu. Kedua adiknya tidur bersama. Mereka tidur saling berpelukan, eh tidak, Haidar yang memeluk Naufal. Tidak heran, memang kebiasaan Haidar ketika tidur harus ada yang dia peluk, jika tidak memeluk apa-apa tidurnya tidak akan nyenyak.

Hati Nova sontak menghangat menyaksikannya. Oke ini perlu diabadikan. Untunglah Nova tidak lupa membawa ponselnya, memang awalnya Nova hendak menunjukan sesuatu pada Haidar makanya dia membawa ponsel. Satu foto berhasil dia ambil.

Usai mengambil foto Nova membuka aplikasi Whatsapp, mencari kontak sang kakak, hendak mengajak videocall. Nova sempat ragu kakaknya itu masih terjaga atau tidak disana, namun tak lama panggilan dijawab.

"Kenapa, Va?" Tanyanya dari sebrang sana.

Nova mengatur kameranya menjadi kamera belakang dan mengarahkannya pada Naufal dan juga Haidar. "Liat adek-adek lo A!"

"Loh tumben. " Dari layar tampak ekspresi Rian yang sedikit terkejut.

"Pas gue masuk dah pules mereka, entah gimana ceritanya bisa tidur bareng, biasanya pada gengsi. " Nova tertawa kecil.

"Udah pada gede jadi gak heran kalo pada gengsian!" Sahut Rian sembari tertawa juga.

"Oh iya, kok lo belum tidur A?" Tanya Nova. Setelah seharian kerja harusnya Rian sudah istirahat sejak tadi bukan? Tubuhnya pasti lelah.

"Lo sendiri kenapa masih melek?" Oke ini menyebalkan, bukannya menjawab Rian malah bertanya balik.

"Gue lagi overthinking," Lanjutnya menjawab pertanyaan Nova tadi.

"Oh, sama kalo gitu!"

Rian tampak sangat terkejut mendengar jawaban Nova, lantas dia pun bertanya, "Lah, apa yang lo overthinking in Va? Tumbenan suami mbak Jisoo ada beban pikiran!"

"Dari dulu juga beban pikiran gue banyak kali A, cuma gak terlalu gue pikirin. Tapi kali ini bikin kepikiran banget." Nova juga bingung mengapa hal itu sangat menganggu.

"Kalo lo mau cerita ke gue, cerita Va! Kapan pun itu gue punya waktu kosong kalo emang lo butuh gue, tapi kalo emang lo gak mau cerita ke gue juga gak apa-apa, tapi inget jangan pendem sendiri. Gue aja suka bagi beban ke lo, masa lo gak mau bagi beban lo ke gue."

"Nanti deh A, sekarang mah gak pengen bahas dulu. Omong-omong lo sadar gak sih, A, mereka berdua berjarak?" Nova tidak sebodoh itu sampai tak menyadari sekat yang hadir diantara kedua adiknya. Meskipun keduanya selalu bersikap biasa-biasa saja , namun Nova bisa melihat dengan jelas mereka jadi berjarak semenjak masuk usia remaja.

PERSEGI | 00L dreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang