Setelah berabad-abad lamanya akhirnya ada ekstra part wkwk
Happy reading guys!
Benar kata orang, seberat apapun ujiannya, kalau memang jodoh, sejauh apapun pergi, pasti akan kembali.
Begitu juga dengan Rian dan Maya.
Mereka pernah berada di titik paling manis dalam hidup: bertunangan, merencanakan masa depan, membicarakan rumah, nama anak, bahkan warna tirai ruang tamu. Tapi hidup tidak selalu berjalan semulus sesuai rencana.
Cinta yang sempat memudar. Tidak ada keterangan. Rasa yang dulu hangat mulai terasa dingin, berubah penuh pertanyaan. Apakah ini cinta? Ataukah hanya kebiasaan?
Serta masalah mahar. Bukan Maya yang meminta, tapi ibunya dengan harapan tinggi dan standar keluarga—menuntut jumlah yang tidak kecil. Maya malu—bukan hanya karena jumlah yang diminta ibunya, tapi karena merasa dirinya tidak pantas menuntut apapun, disaat hatinya bimbang antara mencintai Rian atau tidak.
Cincin pertunangan dikembalikan. Undangan yang sudah dirancang dilupakan begitu saja.
Berbulan-bulan berlalu. Rian dan Maya menjalani hidup masing-masing. Tidak saling kabar. Tidak saling tanya. Tapi jauh di dalam hati mereka tahu, belum benar-benar selesai. Ada yang masih menggantung. Ada yang belum benar-benar hilang.
Takdir akhirnya bekerja lewat cara yang tak terduga. Sebuah acara reuni mempertemukan mereka kembali. Menyadarkan mereka akan perasaan yang sebenarnya.
Mereka bicara dari hati ke hati. Tanpa gengsi. Tanpa tuntutan. Kali ini, cinta mereka terasa lebih dewasa.
Meski Rian mampu menyanggupi tapi Maya tidak mau memberatkan. Maya pun memberanikan diri bicara pada ibunya. Dengan tenang, ia menjelaskan bahwa yang ia ingin menikah bukan dengan kemewahan, tapi dengan hati yang ringan.
Butuh waktu, butuh air mata, tapi akhirnya sang ibu luluh. Ia melihat sendiri, betapa Maya jauh lebih bahagia ketika diperjuangkan tanpa paksaan.
Mereka menikah di awal tahun. Dan
kini, Maya sedang mengandung anak pertama mereka. Empat bulan sudah. Rian tak henti-hentinya menatap perut Maya sambil tersenyum, seakan tak percaya bahwa perempuan yang dulu nyaris hilang kini duduk di sampingnya, menanti kehidupan baru bersama.
•••
Kediaman Abas pagi itu ramai. Suara ibu-ibu terdengar dari dapur, wajan besar mengepul, aroma rempah dan santan memenuhi udara. Acara empat bulanan kehamilan Maya sedang dipersiapkan dengan suka cita. Tenda sederhana sudah berdiri di halaman, kursi disusun rapi, dan beberapa tetangga sibuk memotong bahan masakan di tikar depan rumah.
Ini bukan hanya momen penting bagi Rian dan Maya, tapi juga jadi ajang silaturahmi keluarga dan warga sekitar. Semua ikut membantu, semua ikut merasakan kebahagiaan mereka.
Di tengah keramaian, muncul sosok yang tak asing—Ninda. Perempuan yang dulu sempat masuk dalam babak rumit kisah cinta Rian dan Maya. Siapa sangka, ia datang tak sendiri, melainkan bergandengan tangan dengan Mirza. Ya, Mirza. Pria yang juga pernah menjadi kesalahpahaman terbesar Rian dan Maya.
Sungguh takdir berjalan dengan caranya sendiri. Dulu mereka berempat pernah berada dalam pusaran emosi, pertanyaan, dan kebimbangan. Kini, semuanya berdiri di tempat yang berbeda—lebih dewasa, lebih tenang, dan justru... lebih bahagia.
Ninda tersenyum ramah pada Maya yang menyambutnya dengan pelukan hangat. Tidak ada canggung. Tidak ada luka yang tersisa. Yang ada hanyalah kelegaan, bahwa mereka semua telah sampai di versi hidup yang paling tulus.
“Haidar pulang kan, Bun?” tanya Rian, sambil menatap ibunya yang tengah sibuk menyusun hantaran.
“Katanya pas ditelpon minggu lalu, InsyaAllah pulang,” jawab ibunya sambil tersenyum singkat, meski ada sedikit ragu di matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Teen FictionPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
