Nova Bertanya-tanya salahnya dimana? Nova harus bagaimana? Semakin hari sikap Kania semakin aneh. Kekasihnya itu jadi slow respon bahkan kadang hanya membaca pesannya tanpa membalas. Berulang kali Nova bertanya, Kania terus menjawab tidak ada apa-apa. Mengapa gadis seribet ini? Jika memang ada yang salah mengapa tidak langsung mengatakannya, mengapa malah bersikap aneh, kalau begini Nova tak akan pernah tahu letak salahnya dimana.
"Samperin tanya langsung, peka dikit jadi cowok tuh!"
Nova menatap malas Haidar. Mengapa juga dirinya bercerita pada Haidar? Jelas dia lebih tidak berpengalaman bahkan berpacaran pun belum pernah. Tapi hanya Haidar yang saat ini bisa dijadikan tempat cerita. "Harus?"
Haidar berdecak kesal. "Ya iyalah, buset dah A, peka dikit itu Teh Kania ngasih kode!"
"Masa sih? Masalahnya lo sendiri gak punya cewek, bisa dipercaya gak?"
Haidar mengusap-usap dadanya berusaha sabar. "Serah lo dah, kagak usah minta saran gue kalo gak percaya!"
"Idih gitu aja ngambek. Eh tapi apa yang gue harus lakuin?"
"Iya lo samperin dia, ajak dia kemana gitu, terus tanya pelan-pelan baik-baik juga!"
Esok harinya Nova mencoba mengikuti saran dari Haidar. Dia sengaja tak menghubungi Kania terlebih dahulu dan memilih untuk langsung menemui Kania di fakultasnya. Syukurlah, masih banyak adik tingkatnya yang sopan menyapa dirinya. Bukan maksud menjungjung senioritas dan junioritas, akan tetapi memang kini kesopanan dari junior mulai pudar, sekarang banyak yang kurang ajar dan bertingkah seenaknya.
"Bang Nova!" Panggil seseorang sangat nyaring. Nova menoleh rupanya itu salah satu teman kekasihnya.
"Eh Gia, kenapa Gi?"
"Gue yang harusnya nanya, lo ngapain ke sini?" Tanyanya.
"Mau ketemu Kania, dia di kelas atau di mana?"
Gia terdiam, tampak seperti bingung. "Loh, Kania jadwal kelasnya siang bang, gue juga, cuma gue berangkat dari pagi karena ada urusan."
"Lah tadi Kania bilang sama gue ada kelas jam sembilan, gue mau jemput dia tadinya mau anterin ke sini, tapi kata dia gak usah dia udah berangkat duluan dia sengaja berangkat jam tujuhan karena ada urusan. Gue niatnya kan sekarang jam setengah delapan, ada tiga puluh menit sebelum kelas Kania mulai, mau ngobrol bentar. "
"Tapi Kania kelasnya siang bang, dia juga belum ke kampus!" Kata Gia.
"Terus masa Kania boong? Dia bahkan kirim pap waktu lagi di jalan!" Tidak mungkin, kalo pun iya untuk apa Kania berbohong tentang kelasnya? Shit, beban pikiran Nova bertambah.
"Terus lo mikir gue yang boong bang? Buat apa gue boong coba!"
Lantas pergi kemana sebenarnya Kania?
•••
"Ya gimana-gimananya terserah kamu, kamu urus aja, kamu kan ketua OSIS nya, kamu yang bikin keputusan. Bapak cuma tinggal menyetujui nanti!"
Jawaban yang sangat tak Naufal harapkan. Ayolah, ketika Naufal bertanya harus bagaimana, Naufal berharap akan mendapat intruksi tentang apa yang harus dirinya lakukan, sialnya dia malah disuruh membuat keputusan sendiri.
Baik sang ayah maupun sang guru, keduanya sama-sama selalu menyuruh Naufal memutuskan sesuatu sendiri. Padahal Naufal paling benci hal itu, Naufal sangat benci ketika harus mengambil keputusan. Sungguh Naufal lebih suka jika dirinya diatur, dia ingin diarahkan, bukannya harus menentukan semuanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERSEGI | 00L dream
Novela JuvenilPersegi atau segitiga? Rian, Nova, Haidar, dan Naufal adalah empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga yang sama, namun mengalami perlakuan yang berbeda dari sang ayah. Rian dan Nova, sebagai kakak, sering diberi tanggung jawab lebih dan perhatian...
