•••
Di tempat lain. Jeno tidak habisnya menggerutu menahan kesal.
Setelah pisah arah dengan jisung, alpha itu mengitari seluruh tempat demi menemukan si bajingan jaemin. Berusaha membelah kerumunan orang orang yg sebenarnya sangat tidak disukainya.
Tidak sampai disitu saja. Entah harus bersyukur atau tidak. Ia malah justru bertemu para omega disini.
Renjun dan chenle juga berada di bandara. Katanya ingin mengantar sang sahabat untuk terakhir kali. Memangnya haechan mau mati, dengus jeno dalam hati.
Beban mencari jaemin belum ketemu dan sekarang makin bertambah dengan membawa omega omega tersebut bersamanya. Ingin merutuk saja jika renjun tidak ada disini.
Mengamit lengan jeno, renjun bertanya. “Jaemin mana? Kenapa tidak ikut mengantar haechan?”
Belum sempat jeno menjawab, chenle ikut ikutan menyahut. “Seharusnya dia yg mengantar kakaknya! Adik macam apa dia. Tidak memiliki sopan santun, setidaknya ucapkan sesuatu sebelum haechan pergi. Aku menyesal pernah memujinya!” Tandas pemuda zhong yg dibalas anggukan dari arah samping.
Memperhatikan sang sahabat yg kesusahan. Chenle berniat membantu dengan menyandang tas omega tersebut ke pundaknya.
Jeno menghembuskan nafasnya pelan. Berada di sekitar para omega benar benar tidak cocok baginya. Ia merasa tidak berhak untuk ikut menimpali.
Alhasil ia pun membawa para omega menuju ketempat jaemin dan jisung berada. Mendiamkan saja segala ocehan menyebalkan omega omega tersebut. Jeno sama sekali tidak tertarik bergabung. Mereka terlalu cerewet. Bikin pusing saja.
Melempar topinya begitu saja kearah jaemin setelah melihat kedua alpha itu malah asik asiknya duduk. Mau berteriak, tapi jeno juga masih trauma atas kejadian beberapa hari lalu di mall. Dimana renjun mengomelinya dengan suara keras sampai para pengunjung menatap keduanya risih. Ia tidak berniat mengulangi kesalahan yg sama.
Jisung menoleh, menatap jeno dengan kerutan dahi. Melirik kearah belakang jeno sembari meminta penjelasan kepada alpha Lee tersebut.
“Mereka menurut. Jadi aku bawa kesini saja.” Balasnya keki.
Kerutan di kening jisung bukannya berkurang melainkan semakin dalam. Tak paham sebetulnya.
Pandangan mereka teralihkan ke jaemin. Posisi alpha itu tak berubah dari terakhir kali. Masih menekuk wajahnya kedalam lipatan lengan. Keadaanya sedikit berangsur tenang.
“Hoii bocah, angkat kepalamu.” Kata jeno dengan tangan menyenggol lengan jaemin. Ia memang masih kesal dengan alpha satu ini. Bagaimana tidak, sudah lelah mencari kesudut bandara eh tau taunya sang empu malah enak enaknya duduk ditemani satu cup kopi panas.
Tidak ada tanggapan. Jaemin sama sekali tak mengindahkan perkataan jeno. Ia masih kukuh menyembunyikan raut memalukannya.
Sampai sebuah suara yg begitu jaemin kenal mengalun indah memanggil namanya. Jantungnya berdetak tiba tiba.
“Alpha..”
Mengangkat wajahnya panik, jaemin sepertinya tengah bermimpi haechan baru saja memanggilnya.
Mengusap kedua matanya, alpha remaja tersebut menatap jisung. “Hyung, sepertinya aku perlu ke psikolog. Bisa bisanya suara haechan mengolok ngolok telinga—”
Seseorang muncul dari belakang punggung lebar jeno. Memandang jaemin dengan sorotan teduhnya.
“Ini benar aku..omegamu”
Deg!
Sepasang matanya harus melebar kala haechan benar benar berdiri dihadapannya. Omega itu menyunggingkan senyum manisnya pada jaemin. Alpha diserang shock berat sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEPROMENO [NAHYUCK VERS]
FantasyREMAKE DARI BOOK SAYA SEBELUMNYA!! Haechan harus dihadapkan pada situasi sulit ketika mengetahui sang mate ialah Adiknya sendiri. Memiliki hubungan yg buruk membuat salah satunya semakin tak ingin saling terikat. Benang takdir seolah memperumit sega...
![PEPROMENO [NAHYUCK VERS]](https://img.wattpad.com/cover/333067837-64-k307428.jpg)