Jisung menaiki bus. Dia harus pergi ke sekolah, jangan sampai terlambat. Dan dia berharap hari ini kehidupan sekolahnya bisa berjalan dengan baik. Setidaknya dia tidak berpapasan dengan Haruto.
Jisung sampai di sekolahnya tepat waktu, perlahan dia melangkahkan kakinya, dia menggunaka sweater berwarna abu-abu kesukaannya, dia harus menggunakannya untuk menutupi luka dilengannya.
Beruntungnya Jisung karena sampai detik ini dia belum bertemu dengan Haruto bahkan saat makan siang di Kantin tadi dia tidak berpapasan dengan Haruto, setidaknya dia bisa menghela napas lega.
Yang membuat dia takut adalah ketika wali kelasnya memanggilnya.
"Jisung, duduklah"
"Apakah ada yang ingin kamu ceritakan?" Jisung tidak menjawab, dia hanya menunduk.
"Jisung, dengar, kamu bisa menceritakan apapun kepadaku"
"Baik, ssaem"
"Baiklah, jika kamu belum siap bercerita, kamu boleh kembali lagi ke kelas"
Jisung pun berpamitan.
Bel pulang sekolah berbunyi, Jisung segera merapihkan bukunya dan bergegas pulang, rasanya melegakan bisa melewati seharian ini tanpa ada yang mengganggunya. Jisung harus segera pulang, dia akan bekerja di kedai ramen.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, Jisung sampai di depan kedai ramen.
"Nak, kamu datang?" Kakek yang waktu itu menolongnya menyapanya.
"Masuklah, nanti cucuku akan menjelaskan apa yang harus kamu kerjakan" Jisung menurut.
Jisung memasuki kedai cafe, tunggu, dia tidak tahu harus menemui siapa, kakek terlihat sudah pergi meninggalkan kedai. Aduh bagaimana ini?
Jisung hanya terdiam, dia celingukan seperti orang bodoh.
"Hei, kamu Jisung?" tiba-tiba ada yang menyapanya.
"Ah, iya"
"Ikuti aku" Pria itu mengajak Jisung menuju dapur.
"Nah, namaku Jeno, Aku lebih tua, jadi kamu bisa memanggilku Hyung"
Jisung hanya mengangguk.
Jeno menjelaskan panjang lebar apa yang harus Jisung lakukan, berapa gajinya dan sampai kapan dia bekerja. Ketika sekolah Jisung boleh bekerja dari mulai pulang sekolah sampai jam 10 malam, dan ketika libur sekolah jisung bekerja dari jam 9 pagi, Jisung menyetujuinya, lagian apa yang bisa dia tolak? dia tidak punya teman untuk menghabiskan weekend, tidak punya keluarga juga, jadi ya, dia hanya akan sekolah dan bekerja untuk bertahan hidup.
"Tunggu apa lagi?" cepat ganti bajumu dan mulai bekerja.
Lee Jeno ini terdengar sangat dingin, membuat Jisung sedikit takut.
Setelah mengganti pakaiannya Jisung mulai mengerjakan pekerjaannya, dia mengiris bawang, tapi lihatlah, orang yang bagkan tidak bisa mengupas buah ini benar-benar tidak terampil dalam menggunakan pisau.
Jeno menghela napas melihat Jisung yang kesulitan mengiris bawang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.