Jisung mengerjapkan matanya ketika dia merasakan seseorang membelai kepalanya lembut. Dia menyesuaikan pandangannya dengan cahaya. Seseorang tersenyum menatapnya. Jisung kembali menutup matanya memastikan apa yang dia lihat tidaklah salah. Ketika dia membuka mata lagi, orang itu masih tersenyum menatapnya.
"Renjung Hyung" Jika sedang tidak sakit pastilah Jisung sudah memekik kegirangan dan melompat memeluk Renjun. Sayangnya jangankan melompat suara yang dia keluarkan pun hampir tidak terdengar.
"Aegi, bagaimana kabarmu?" Renjun mendekatkan dirinya.
Jisung hanya tersenyum, mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja meski badannya masih terasa lemah.
"Hyung sangat merindukanmu, apa kamu merindukan Hyung?" Tanya Renjun.
Jisung mengangguk tersenyum.
"Kamu harus segera sembuh eoh? Ayo kita pergi berlibur seperti yang kamu inginkan, Hyung akan mengajakmu kemanapun kamu kamu"
Mata Jisung menbulah seoalah mengatakan "benarkah?" Kepada Renjun. Melihat reaksi itu Renjun terkekeh.
~~~
Seharian ini Jisung hanya terbaring, untunglah kondisinya semakin membaik, Dia sudah bisa diajak berbicara. Kondisinya tidak selemah kemarin-kemarin.
"Hyung aku bosan" Ucap Jisung.
"Sabarlah Jie, kalau sudah sembuh kamu boleh pulang" Ucap Mark.
Mark hari ini menemani Jisung, Jaemin harus kembali kuliah dan mengurus perusahaan yang beberapa hari ini terbengkalai, untunglah ada Renjun meskipun dia sudah kembali ke Korea tapi selama sisa semester ini dia masih cuti kuliah. Renjun sedang kembali ke rumah untuk membawa beberapa pakaian.
"Hyung" Jisung memanggil Mark.
"Hmm" Jawab Mark sambil menatap lembut Jisung.
"Apakah aku akan meninggal?" Tanya Jisung.
Mark tidak menyangka Jisung akan menanyakan hal itu. Dia tidak bisa mengatakan kondisi Jisung yang sebenarnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Hyung akan menyembuhkanmu?" Jawab Mark.
"Berapa lama aku bisa bertahan?" Meskipun Mark tidak mengatakannya, Jisung adalah Jisung, dia paling tahu kondisi tubuhnya sendiri.
"Aegi, kamu tidak perlu memikirkan itu, Hyung pasti akan menyembuhkanmu"
"Apakah sebentar lagi? Sebulan? Dua bulan?" Jisung terus bertanya kepada Mark.
Mark terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Jisung.
"Ah, rupanya tidak lama lagi" Jisung terkekeh, tanpa sadar dia meneteskan air mata.
"Jisung..."
"Aku tidak takut Hyung, aku tidak takut dengan kematian" Jisung menatap Mark.
"Dulu, aku selalu berkejar-kejaran dengan takdir, aku bahkan terkadang menginginkan kematian itu datang"
Jisung menyeka air matanya, tanpa sadar Mark pun menangis, dia tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Jisung.
"Setiap malam aku berharap aku mati, mungkin Tuhan mengabulkannya sekarang"
"Tidak Jie, Hyung akan menyembuhkanmu, Hyung janji!" Mark menggenggam tangan Jisung.
"Hyung" Jisung tersenyun sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan berjanji apapun"
"Ani, berjanjilah satu hal" Kata Jisung.
"Jika aku pergi berjanjilah untuk selalu bahagia"
Mark menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak mampu menahan airmatanya. Bagaimana mungkin dia akan bahagia jika Jisung tidak ada. Dia sudah menghabiskan bertahun-tahun merindukan adik kecilnya, tapi setelah mereka bertemu, bahkal belum lama mereka bertemu, apakah Tuhan akan dengan kejam memisahkan mereka kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Dream | Park Jisung
Fiksi PenggemarApakah aku bahkan boleh memimpikan masa depan yang indah? Aku ingin mati saja.
