Malam itu Jisung terbangun dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran melewati pelipisnya. Jisung merasakan sakit luar biasa pada jantungnya, dia meringis sambil memegangi dada sebelah kirinya.
"A-ah s-sakit" Jisung meringis.
Dia meremas dadanya, airmata mengalir. Jisung merasa sangat kesakitan, dia tidak mampu untuk bangun dari tempat tidurnya saking sakitnya.
"H-hyung, tolong aku" Jisung sedikit berteriak meskipun itu lebih terdengar seperti lirihan bukan seperti teriakan. Tentu saja baik Jaemin atau Jeno tidak ada yang mendengarnya.
"S-sakit sekali" Jisung meringkukan badannya sambil memegang dadanya yang semakin sakit. Perlahan dia menggerakan tangannya merain ponselnya. Dia memencet angka satu panggilan cepat untuk Jaemin. Telponnya tersambung tapi belum ada tanda-tanda Jaemin mengangkat telponnya.
"H-hyung jebaal"
Setelah beberapa saat akhirnya Jaemin mengangkat telponnya.
"Wae?" Terdengar suara Jaemin, suaranya sedikit serak nampaknya dia baru terbangun dari tidurnya.
"Hyung" suara Jisung lemah.
Jaemin terheran, dia tidak menyadari siapa yang menelponnya, dia kemudian menatap layar handphonenya. Menyadari itu Jisung, Jaemin mengerutkan keningnya, kenapa Jisung memanggilnya selarut ini.
"Jie.."
"H-hyung" Jisung berusaha sekuat tenaga untuk berbicara tapi rasa sakitnya semakin menjadi. Mendengar suara Jisung, Jaemin terperanjat, membangunkan Jeno yang tidur di sampingnya. Jaemin kemudian berlari menuju kamar Jisung, Jeno yang bahkan masih bingung pun ikut berlari mengikuti Jaemin.
Jaemin buru-buru membuka pintu kamar Jisung, dia sangat terkejut melihat Jisung yang sedang meringkuk kesakitan.
"JISUNG!" Teriak Jaemin.
Dia segera mengahampiri Jisung meletakan kepala Jisung dipangkuannya. Jeno mendekat khawatir.
Jisung terlihat lemah, mukanya sudah sangat pucat.
"Apa yang terjadi?" Ucap Jeno.
"S-sakit h-hyung" ucap Jisung terbata-bata, lemah. Tidak lama kemudian Jisung kehilangan kesadarannya.
"JISUNG!!" Jaemin membeku, melihat tubuh Jisung terkulai tak berdaya dia jadi tidak bisa berpikir jernih. Perasaannya campur aduk, dia takut. Bagaimana jika Jisung tidak membuka kembali matanya?
"Ya! Apa yang kamu lakukan?" Suara Jeno tiba-tiba menyadarkan pikirannya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit segera, aish!" Jeno mengambil alih tubuh Jisung, dia menggendongnya, Jaemin mengikutinya dari belakang.
"Kamu bisa mengendarai mobil?" Tanya Jeno, melihat tubuh Jaemin yang gemetar ketakutan. Dia tidak pernah melihat Jaemin seperti ini sebelumnya.
"Aku tidak bisa" Jaemin menundukka kepalanya, dia menangis.
"Duduklah di belakang bersama Jisung, biar aku yang mengendarai mobil dan hubungi Mark" Jaemin mengangguk.
Dengan tangan gemetar dia memanggil Mark.
"Jaemin,ada apa kamu memanggil selarut ini?" Tanya Mark.
"Hyung, apa Hyung sedang ada di Rumah Sakit?" Suara Jaemin bergetar.
"Aniya, aku sedang di rumah"
"J-jisung pingsan" Air mata kembali lolos dari kedua mata Jaemin.
"Apa?? Kamu sedang dalam perjalanan? Aku akan segera menyusul" Jawab Mark.
Panggilan berakhir.
Tangan Jaemin bergetar mengusap wajah Jisung yang terlihat semakin pucat, entah kenapa dia tidak bisa berpikir dengan jernih malam ini, dia terlalu takut. Sebenarnya setiap hari Jaemin diliputi rasa takut, dia takut jika Jisung tiba-tiba meninggalkannya, sikap dia yang seolah kuat dan tegar selama ini hanyalah topeng, dia tidak ingin Jisung sedih dan menjadi tidak bersemangat jika melihatnya bersedih juga.
Tapi melihat Jisung kesakitan dan pingsan di depan matanya, membuat pertahanan Jaemin runtuh. Perasaan sayang yang tumbuh membuatnya takut kehilangan Jisung, dia sangat menyayangi adiknya. Padahal beberapa saat yang lalu dia merasa bahagia karena dia mengetahui kalau Jeno adalah kakaknya. Tapi sekarang. Dia seperti terjatuh kedalam jurang, jika Jisung meninggalkannya dia takut tidak akan bisa bangkit.
"Bertahanlah" Lirih Jaemin sambil mengusap pipi Jisung.
"Kamu anak yang kuat, Hyung mohon bertahanlah" Jaemin semakin terisak.
"Bukankah kamu merindukan Renjun Hyung? Dia bahkan belum kembali, kamu harus membuka matamu dan sembuh Jisungie"
"Dia akan memarahimu jika kamu tidak menunggunya, kamh tahu kan seperti apa jika dia marah? Itu menakutkan" Jaemin terkekeh tapi airmatanya tidak berhenti mengalir.
"Jadi, bangunlah dan bertahanlah" Jaemin mengepalkan tangannya menahan perasaan sesak di dadanya.
~~~
Sesampainya di Rumah Sakit, Mark sudah menunggu di depan pintu UGD, begitu melihat Jaemin, Jeno dan Jisung, Mark segera membawa Jisung untuk memeriksanya. Mark sudah menduga hal seperti ini mungkin saja akan terjadi, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini, dia pun tidak menyangka akan segugup ini, dia takut, sama takutnya seperti Jaemin.
Sudah hampir satu jam Jeno dan Jaemin menunggu di depan ruang UGD, Jaemin terlihat sangat gelisah bahkan dia masih saja menangis. Jeno benar-benar baru melihat sosok Jaemin yang seperti ini. Yang dia tahu, Jaemin sosok yang sangat rasional dan bisa berpikir jernih, tapi dihadapan Jisung yang terbaring lemah Jaemin benar-benar kehilangan akalnya.
"Tenanglah, Jisung pasti bertahan" Jeno menepuk pundak Jaemin menenangkan.
"Hyung, aku takut" lirih Jaemin.
Jeno mengerti, dia kemudian memeluk Jaemin. Sebenarnya Jeno pun merasakan apa uang Jaemin rasakan, tapi dia masih bisa mengontrol perasaannya.
Jaemin melepaskan pelukannya. Dia teringat sesuatu, dia harus menghubungi Renjun.
"Ranjun"
"Ada apa Jaemin?"
"Bisakah kamu segera kembali ke korea?" Tanya Jaemin.
"Ah, aku memang berencana kembali ke Korea dua hari kedepan, tadinya aku ingin merahasiakannya sebagai kejutan untuk Jisung"
"Kembalilah besok" Suara Jaemin bergetar menahan tangis.
"Jaemin, ada apa?" Renjun merasa ada yang tidak beres.
"Jisung..."
"Jisung kenapa?"
"Dia sakit, kembalilah, dia sangat merindukanmu"
"Arraseo, aku akan kembali besok"
Tut. Panggilan berakhir.
Tubuh Jaemin merosot, dia lelah.
Dan takut.
Kenapa Mark belum keluar? Kenapa mereka membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa Jisung? Apa yang terjadi?
Sekuat tenaga Jaemin menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang memenuhi kepalanya, dia harus yakin kalau Jisung akan baik-baik saja, Jisung telah melalui banyak hal, sejauh ini dia sudah berdiri dengan sangat kuat, Jaemin yakin Jisung akan bertahan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Mark keluar dari dalam ruang UGD. Jaemin dan Jeno segera menghampiri Mark.
"Hyung, bagaimana keadaan Jisung"
Mark menundukkan kepalanya, dia menghela napas berat.
"Hyung apa yang terjadi? Kenapa kamu diam saja?" Jaemin menjadi tidak sabaran.
"JAWAB AKU MARK LEE" Jaemin menarik kerah Mark marah.
TBC.
Kyaaaaa, gantung ga? Wkwkwk
Kira-kira apa yang terjadi dengan Jisung?
Bisakah Jisung selamat?
Kita tunggu chapter berikutnya ekekek
Jangan lupa vomen yaaaaaa
Makasih selalu baca cerita aku yang kadang membosankan dan ga jelas kekeke, byeeee💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Dream | Park Jisung
Fiksi PenggemarApakah aku bahkan boleh memimpikan masa depan yang indah? Aku ingin mati saja.
