Bab 39

172 70 22
                                        

Harap vote sebelum membaca
Terimakasih

_𝖘𝖊𝖑𝖆𝖒𝖆𝖙 𝖒𝖊𝖒𝖇𝖆𝖈𝖆_

Tanpa pikir panjang Dewi melangkah cepat kearah wanita yang memakai topeng mata dan langsung mencekiknya, membuat cake kecil yang dipegang terjatuh. "Kenapa kamu disini?"

Wanita bergaun putih tersebut tidak langsung menjawabnya, dia tersenyum tenang memegang lengan Dewi yang mencekik dengan tangan berselimut kain sarung putih brokat. "Aku tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan posisi seperti ini."

Dewi melepaskan cengkraman tangannya, menatapnya dengan intens. Wanita itu tersenyum, meraba lehernya yang tidak terluka. "Aku hanya ingin membuat perayaan kecil untukmu. Siapa tahu kamu tidak akan merasakan ulang tahun bulan depan."

Merasa kesal, Dewi menarik topeng silver dan membuangnya asal, sangat tidak sopan. "Kenapa kamu disini?" Dia mengulangi.

Nita, wajah dibalik topeng itu tersenyum, wajahnya yang terkena cahaya lampu makin menampakkan kecantikannya. Dia tidak mempermasalahkan topengnya yang tergeletak di alas. "Bukankah harusnya pertanyaan yang kamu lontarkan adalah kenapa kamu masih hidup sedangkan aku sudah membunuhmu dengan pisau?"

"Bajingan!" Dewi yang kesal kembali mencekik Nita. Tetapi dia kalah cepat. Nita dengan mudah menghindar, mencengkram lengan Dewi dan memutar sahabatnya hingga kedua tangan berada dibelakang punggung.

Masih dalam posisi mengunci, Nita mengeluarkan tawa mengejek. "Kau tidak bisa melawan dengan teknik yang sama, Dewi. Bahkan kamu sendiri tahu hal itu."

"Kamu bukan Nita! Nita tidak akan mungkin melakukan ini pada sahabatnya."

Nita masih mengunci. "Kau benar, Nita tidak akan melakukannya, tapi apakah kamu lupa bahwa kamulah yang telah membunuh Nita yang bodoh, hingga dengan mudah kamu bisa meraup keuntungan dengan nilai tinggi dan tidak perlu mengkhawatirkan amarahnya orang tuamu. Nita yang itu sangat baik padamu, kenapa kamu sia-siakan?"

Sejak duduk dibangku SMP, tepatnya saat mengunjungi rumah Dewi. Nita tidak sengaja melihat secara langsung bagaimana ibu sahabatnya memperlakukan Dewi dengan makian ketika melihat nilai akademisnya tidak sempurna. Dewi dibanding-bandingkan dengan adik laki-lakinya yang jenius didepan mata Nita. Dia yang merasa kasian mulai membantu mengajari sahabat, tetapi tidak semudah itu. Hingga jalan satu-satunya dia membantu memberikan contekan agar dia bebas dari amarah ibunya, tetapi sekarang apa yang terjadi? Dia hanya dimanfaatkan.

"Ini tidak seperti yang kamu kira."

"Lalu apa yang bisa dijelaskan dari seseorang yang dengan sadar melukai sahabatnya sendiri?" Nita berucap tenang. "Dewi, kau tidak perlu memakai topeng lagi, aku tahu semuanya."

"Apa yang kamu tahu!" Terdengar nada marah dan cemas dari ucapannya.

"Semuanya," Nita tersenyum mengingat semua kejadian hingga akhirnya ia tiba disini. Dia tidak pernah menyangka sahabatnya yang dulu selalu bersama, beralih menjadi musuhnya. Dia awalnya tidak tahu mengapa Dewi selalu berusaha menjauhi teman-temannya dari dia. Nita yang hidupnya dipenuhi oleh teman tentu saja merasa aneh. Tetapi dia hanya berpikir bahwa Dewi tidak ingin dia berteman dengan yang lain. Namun perkiraannya salah. Dewi sengaja melakukan hal itu agar dia tidak memiliki teman atau lebih tepatnya dia merasakan apa yang dirasakan Dewi sebelum mengenalnya.

Sakit, tentu saja. Nita tersenyum, melanjutkan. "Aku tidak pindah sekolah tanpa tujuan. Harusnya kamu lebih pintar dengan menyelidiki kepindahanku, bukan malah mempermasalahkan pertemuanku dengan Bagas hingga melakukan pembullyan."

Dendam Tersirat✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang