Ch-19

5.2K 280 11
                                        

Selama perjalanan menuju mansion, Ara hanya diam.. ia masih terpikir akan kilasan memori tadi.. dia yakin betul memori tersebut merupakan memori Denyara.

Dalam kilasan itu ia melihat sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia, yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak, mereka terlihat sangat harmonis dan hangat.. saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain.

Kemudian scene itu beralih, foto si pria yang berperan sebagai Ayah dalam keluarga itu, terpajang di atas sebuah peti mati, dan Istrinya juga semua yang menghadiri pemakaman itu mengenakan pakaian hitam, sang Istri tampak sangat terpukul.

Lalu anak kecil yang merupakan anak mereka berdua, sibuk melihat kesana kemari.. tak mengerti mengapa ibunya menangis, dan semua orang terdiam..

"Ibu.. Ayah kok bobo di citu?" Tanya anak itu polos

Namun tidak ada jawaban, si anak hanya melihat sang ibu yang terdiam sembari menatap kosong kedepan, namun dari matanya tak berhenti mengeluarkan air mata, sorot kesedihan yang mendalam begitu terpancar walau kita hanya melihat matanya..

Sang anak yang tidak mendapat jawaban pun beralih bertanya pada orang dewasa disekitarnya..

"Paman kok Ayah bobok citu?" Tanya nya lagi polos.

Lagi lagi anak itu tak mendapat jawabannya.. sang paman hanya mengusap kepalanya.. dan beranjak dari sana dengan kepala tertunduk..

Anak kecil itu bingung.. kenapa semua orang diam dan sedih? Kenapa Ayah nya tidur disana? Padahal ayahnya sudah berjanji akan tidur bersamanya malam ini, karena kemarin Ayahnya lembur di kantor jadi tidak bisa menemaninya tidur..

Scene kembali berlanjut, di sebuah makam, di atas nisan itu tertulis..

'Arya Danuarja'.

"Ang.."

"Yanggg.."

"Sayaanggg!!!" Teriak Xavier yang langsung membangunkan Ara..

Ara terdiam.. ia masih terkejut dengan cara Xavier dalam membangunkannya.

"Maaf.. kamu gak papa? Kenapa nangis Hem?? Ada yang sakit? Atau mimpi buruk? Ayo bilang sama aku.." ucap Xavier lembut

Ara masih diam.. "sayang... kok nangis?? Kenapa? hem??" Ucap Xavier lagi sambil menghapus air mata Ara yang entah kenapa semakin deras.

Sedangkan Ara sendiri, baru menyadari dirinya menangis.. entah mengapa ingatan itu sangatlah mengusik dirinya.. seolah anak kecil itu adalah dirinya.. dan entah mengapa rasanya sesak sekali melihat pria itu terbaring dipeti mati..

Tangisan Ara semakin menjadi.. bahkan sampai terisak isak.. Xavier yang melihat itu pun langsung memeluk Ara dan mengusap punggung Ara menenangkan..

Mereka sudah sampai di mansion, saat ingin menggendong Ara, Xavier melihat Ara yang menangis di dalam tidurnya.. Xavier pun mencoba membangunkan Ara.. dan inilah yang terjadi..

Setelah merasa Ara cukup tenang.. Xavier melepas pelukannya.. "udah? Kenapa Hem?? Cantiknya Xavier ini nangis? Mimpi buruk ya??" Tanya Xavier.

"He'em.." Ara hanya bisa menganggukkan kepalanya karena sesungguhnya ia pun juga tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya..

Banyak pertanyaan dibenaknya.. siapa wanita tadi? Apa maksud kilasan itu? Siapa pria yang ia tangisi? Dan siapa anak kecil itu?? Saking banyaknya pertanyaan yang timbul, kepalanya kembali berdenyut sakit.

Segera ia memeluk Xavier, "Tuan.. mau bobo lagi.. tapi gendong Ara ya.. mau gendong depan.." rengek Ara untuk menutupi rasa sakitnya agar tak terlihat oleh Xavier.

Denyara And 3 Handsome Beast  (Transmigrasi Series 1)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang