Ch-23

5.1K 274 40
                                        

"mmhhh.."lenguhnya sambil mengerjapkan matanya yang bulat.. hingga perlahan matanya yang bulat itu terbuka, menampilkan kelereng coklat terang yang indah..

Ara melihat sekelilingnya, satu kata yang terlintas di benaknya, 'asing', 'jangan bilang kalo gue transmigrasi lagi?!' batinnya panik, hingga ia pun  dengan cepat ia pun mengubah posisinya menjadi duduk, melupakan dirinya yang tengah hamil, sehingga karena gerakan spontannya itu kram perutnya pun kembali.

"Auuwshhh.. shhh.. akkh.." rintihnya sambil memegangi perutnya.

'gue masih hamil, berarti gue gak transmigrasi tiba tiba, trus gue ngerasa sakit juga, berarti bukan mimpi.. apa jangan jangan gue di culik kali ya?! Atau.. gue.. di.. dijual?!' batinnya panik..

'bangsyat kalian kalo beneran gue di jual!' batinnya kesal.

Dengan perlahan ia pun mencoba turun dari tempat tidur, sambil terus mengelus perutnya ia berjalan perlahan, karena kram perutnya masih terasa..

"Tuaann.. tuan Marcus!, Tuan Edgar!, Tuan Xavier!, Shhh.. tuann... Astaga ini dimana??" Ucap Ara.

Sementara itu di tepi danau yang luas dan indah, tiga orang pria, sedang menyiapkan kejutan untuk sang istri tercinta.

"Ok beres.. sekarang tinggal bangunin Ara, selesai deh.." ucap Xavier..

"Iya, ayo!" Seru Edgar.

Lalu mereka bertiga pun menuju glamping atau glam camping mereka, yang tidak terlalu jauh dari danau..

Sesampainya di glamping mereka, mereka melihat Ara yang sudah bangun bersandar di pintu glamping, sambil memegangi perutnya, namun yang menjadi fokus mereka bertiga adalah, wajah Ara yang pucat dan lelehan air mata yang masih mengalir di pipi cabinya.

Segera saja mereka langsung berlari menghampiri Ara, "sayang kamu kenapa?" Tanya Edgar panik.

"Ada yang sakit? Kok nangis?" Tanya Marcus perhatian.

"Perutnya sakit lagi?" Kini giliran Xavier yang bertanya.

Ara yang melihat mereka bertiga pun entah mengapa merasa lega, jujur ia sudah memiliki rasa pada mereka bertiga, rasa itu sama besarnya, dia hanya takut, dia sadar dia bertransmigrasi secara tiba tiba tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi lagi secara tiba tiba juga, dia tidak ingin pergi tanpa berpamitan dengan mereka.

Melihat Ara yang hanya diam dan menangis, membuat mereka menjadi lebih khawatir lagi, "sayang..."  "Ara gapapa tuan.. Ara cuma takut tadi bangun bukan dirumah terus gak ada tuan juga.. Ara.. Ara.." ucapan Marcus disela oleh ucapan Ara yang berusaha menjelaskan kondisinya.

"Ok, kamu yang tenang ya.. kita ke dalam dulu ok.." ucap Edgar yang di angguki Ara

"Jadi.. kita lagi buat surprise buat kamu.. makanya kita gak bilang.. kita gak tau kamu bakalan sepanik ini.. maafin kita ya.." ucap Marcus

Ara menggeleng, "Ara yang minta maaf udah kacauin kejutan nya tuan.." ucap Ara sedih.

"Siapa bilang kamu kacauin kejutan kita?? Ini bahkan belum seperempat nya ok! Masih ada yang lain.. jangan sedih lagi ya.. oh ya sekarang udah jam 6, mending kamu mandi dulu, kita udah siapin dress cantik buat kamu.. trus liat kejutan yang udah kita siapin." Ucap Xavier

"Iya benar kata Xavier gih mandi!" Ucap Edgar.

'cih ikut ikutan' batin Xavier sambil menatap Edgar jengkel.

'apa kamu?' batin Edgar sambil balas menatap Xavier, seolah mereka sedang perang batin.

"Ok.. tapi anterin ya.." ucap Ara malu.

Denyara And 3 Handsome Beast  (Transmigrasi Series 1)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang