(6) "FINAL"

4 1 0
                                    

"selamat pagi mah, pah" sapaku sembari berjalan menuruni anak tangga. terlihat disana papah sedang menyantap sarapan paginya dan mamah yang sibuk mencuci piring.

"pagi fay" jawab mamah masih dengan kegiatannya.

"kok gak dijawab sih pah sapaan fay" gerutu ku kesal. lalu aku memilih duduk disamping papah dan mulai mengambil nasi beserta lauk yang ada dimeja.

"papah lagi makan loh, nanti keselek malah repot" ujar papah dan aku tak menjawab ucapan papah itu.

"tanggal 22 ada apa fay?" tanya papah membuka pembicaraan. aku memandang papah dengan tatapan tanya, bagaimana bisa papah tau tentang tanggal 22.

"papah tau?" tanyaku.

"mamah yang kasih tau" jawab papah dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.

"papah pasti udah tau" jawabku.

"kamu pacaran sama Dernan?" tanya papah dan ku jawab anggukan.

"udah diterima?" tanya papah sekali lagi.

"belum" jawabku sembari menggelengkan kepala.

papah menghembuskan nafas pelan. aku paham pasti papah tidak suka jika aku berpacaran, tapi mamah menyetujui itu kan.

"papah gak mau nantinya kamu sakit hati" ucap papah.

"fay bisa menjamin kalau Dernan gak akan nyakitin hati fay" jawabku. benar kan? Dernan bahkan tidak pernah menyakiti hatiku entah dengan sikapnya, perilakunya maupun omongannya.

"namanya manusia bisa berubah kapan aja" ucap papah.

"fay, seenggaknya kamu harus tau latar belakang keluarganya sebelum kamu nerima dia sepenuhnya" ucap mamah sembari melangkah menghampiri ku.

"kan aku pacaran sama dia mah, bukan keluarganya" ucapku.

"yaudah terserah kamu fay, intinya papah gak akan segan-segan buat ngusir Dernan dari kehidupan kamu kalau dia berani nyakitin kamu" ucap papah dengan tegas. aku menatap papah dengan rasa yang campur aduk, rasa senang karena papah perhatian denganku, ada juga rasa takut jika Dernan akan menyakitiku dan berakhir terkena amukan papah. papah itu tipikal orang yang emosian.

"iya pah" jawabku dengan sedikit ragu. namun aku percaya pada Dernan ia tidak mungkin akan menyakitiku.

"yaudah pah, mah, fay berangkat dulu ya" pamitku. lalu aku menyalimi mereka berdua secara bergantian. setelah itu aku menuju ke bagasi untuk mengambil motor kemudian mulai menancapkan gas menuju ke sekolah.

sepanjang perjalanan aku memikirkan perkataan papah. "yaudah terserah kamu fay, intinya papah gak akan segan-segan buat ngusir Dernan dari kehidupan kamu kalau dia berani nyakitin kamu". perkataan papah masih membenak di otakku. disisi lain, aku takut Dernan akan menyakitiku dan disisi lain aku percaya pada Dernan kalau dia tidak akan menyakitiku. namun bagaimana jika Dernan menyakitiku? apa aku benar-benar akan kehilangan dia?

tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya aku telah sampai di sekolah. aku mulai memarkirkan motorku dan aku melihat Bryan baru saja datang.

"fay" panggilnya, aku pun sontak menoleh.

"tanggal 22 kan hari ini?" tanya Bryan padaku dan ku jawab anggukan.

"lo udah jadian sama Dernan?" pertanyaan dari Bryan membuatku mengerutkan kening bingung

"gak usah bingung, gue tau itu dari Dernan" ucap Bryan.

"Dernan beruntung bisa dapetin lo. duluan ya" ucap Bryan sebelum melenggang pergi dari parkiran. apa maksut ucapan Bryan? Dernan beruntung jika mendapatkan ku? apa tujuan Bryan mengatakan itu? aku benar-benar tidak mengerti. aku akan menanyakan hal itu nanti.

EGOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang