Sick

1K 63 31
                                        

Disekolah, ramai perbincangan soal kasus pembunuhan itu, karena ternyata ia adalah alumni dari sekolah tersebut, dan cukup terkenal pada masanya karena kenakalan dan perbuatan buruknya.

Bisik-bisik soal kasus tersebut tak luput dari pendengaran Saga dan Regan yang tengah melintas di antara mereka. Saga nampak lelah mendengar semua perbincangan soal kasus itu.

"Ck, sana sini bahas gituan mulu. Gaada yang lain apa. Udah si toh orang nya juga udah meninggal, ngapain dosanya masih diomongin disini", keluhnya yang hanya didengar oleh Regan.

"Emang dia siapa bang? Terkenal ya?", tanyanya pada Saga.

"Alumni sekolah ini, dua tahun lalu lah, waktu gue kelas 10 dia kelas 12", jelasnya.

"Oh, beneran senakal itu ya bang? Kok sampe terkenal banget", tanya Regan yang membuat Saga semakin muak.

"Jangan tanya-tanya lagi deh Re, eneg banget denger berita soal dia terus. Udah sana lo masuk ke kelas, masih ada 15 menit kalo mau sambung tidur, ntar balik gue samperin ke kelas", ucap Saga yang lantas diangguki oleh Regan, sebenarnya Regan penasaran, siapa orang itu, dan kenapa Saga nampak tak suka dengannya. Tapi, ia tak ingin membantah Saga, bisa-bisa ia kena omel pagi ini.

-----------------------------------------------------

Saat istirahat, hanya Saga dan Mahesa yang tengah makan bersama di kantin, Jidan dan Azka masih belum ada kabar soal presensi mereka. Dihubungi pun keduanya tidak bisa. Mereka berencana menanyakan pada Juan, jadi mereka menunggu kedatangan adik mereka dan juga Juan dikantin.

Tak berapa lama, Regan dan Sean datang, hanya berdua, tak nampak Juan diantara mereka.

"Juan mana?", tanyanya.

"Gaada, dia absen sakit", jawab Sean.

"Kenapa bang nanyain Juan?", tanya Regan pada keduanya.

"Engga, Jidan sama Azka ga berangkat. Gaada keterangan izin atau sakit. Gue mau nanyain ke Juan niatnya, eh malah bocahnya ga berangkat. Yaudah kalian pesen makan sana, tinggal 15 menit", suruhnya pada keduanya. Mereka pun lantas pergi memesan makanan, dan tak lama kembali lagi ke meja Hesa dan Saga.

"Bang, tau ga si, kasus ya--", Sean memotong ucapannya karena melihat sinyal dari Regan dan Hesa untuk berhenti. Mereka nampaknya tau arah pembicaraan Sean. Ia bingung, tapi tetap menurut.

"Hm, Juan sakit apa? Anak taekwondo bisa sakit juga ternyata", ucap Hesa mencoba mengalihkan topik.

"Gatau bang, Juan ditelpon juga ga ngangkat. Iya sih bener, jarang banget Juan sakit. Kita jengukin aja yuk Re, sekalian nanti beli alat buat lukis", ajak Sean pada Regan. Regan hanya membalas dengan lirikan yang ia tujukan pada Saga.

"Gak, perginya sama gue", tolak Saga yang tau maksud mereka.

"Ish, bang ga asik banget lo, kasian Regan tau. Lo over protektif banget deh, lo bisa percaya gue kok bang, gue ga bakal ngajak Regan yang aneh-aneh", ucap Sean meyakinkan.

"Tap--", ucapan Saga terpotong oleh Hesa.

"Sekali-kali ga. Regan udah gede, ga seharusnya lo over sampe kaya gitu. Dia juga pasti bosen kalo cuma di rumah terus. Gue tau lo khawatir, apalagi banyak berita miring akhir-akhir ini, tapi lo juga harus bisa percaya Regan. Regan tu cowo, dia pasti bisa jaga diri juga", ucap Hesa panjang lebar.

"Ck, lo semua gatau gimana takutnya gue. Yaudah, kali ini aja. Jangan matiin hp lo Re, lokasi lo juga", Regan yang mendengar itu bersorak kesenangan. Ia tak tau apa sebenarnya yang membuat Saga takut, entah kejadian apa yang membuat Saga sampai setakut itu untuk melepas Regan.

RED THREAD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang