-Merasa Dikhianati-

523 92 5
                                        

Sudah 3 hari sejak kejadian Rose ke mansion Jeffri dan selama itu juga dia belum mengatakan yang sebenarnya kepada Jane. Dia hanya takut Jane marah dan itu bisa berakibat buruk kepada hubungan mereka.

Ini juga sudah hari ke 8 Jane berada di Australia dan pekerjaannya masih saja banyak.

Seperti sekarang, dia kelihatan sibuk menguruskan beberapa berkas didalam ruangan kerjanya.

"Mark, masuk keruangan saya sekarang" ujarnya melalui interkom.

Tok tok tok

Ceklekk

Masuklah Mark yang bergegas menghampiri Jane "Iya Sajangnim?"

"Kapan meeting kita sama perusahan JWorld akan diadakan?"

"Wakil dari perusahan JWorld sudah menelfon saya. Mereka bilang mereka ingin meeting itu diadakan besok" sahut Mark.

"Syukurlah. Saya sudah tidak sabar untuk pulang"

Mark tersenyum tipis "Sajangnim kelihatan senang. Apa ada yang menunggu kepulangan Sajangnim?"

Jane mengangguk dan ikut tersenyum "Calon istri saya sudah menunggu kepulangan saya"

"Eoh, Sajangnim sudah punya calon istri?"

"Iya dan kami akan menikah dalam waktu yang terdekat"

"Saya turut merasa senang"

"Terima kasih. Kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu"

Mark membungkuk sopan dan berganjak keluar dari ruangan Jane.

Bukannya melanjutkan pekerjaannya, Jane malah menyandarkan badannya dibangku dan dia memilih untuk menatap photo Rose yang ada diponselnya. Ah, betapa rindunya dirinya kepada wanita pemilik hatinya itu.

Ting!

Dahi Jane mengernyit ketika melihat satu nomer asing yang mengirimkan pesan kepadanya.

Unknown number

-Hey Jane. Terima kasih untuk waktunya-

-Siapa? Waktu apa?-

-Waktu untuk gue bersama Rose-

-Jeffri!?! Apa yang lo inginkan sialan!?!-

-Gue hanya mau berterima kasih buat lo karena sudah membiarkan gue menikmati waktu gue bersama Rose-

-Maksud lo apa sialan!?-

*Sent a video

Nafas Jane memburu. Tangannya terkepal emosi. Didalam video yang dikirim oleh Jeffri itu, dia dapat melihat CCTV yang menunjukkan kalau Rose memasuki mansion Jeffri. Bahkan Jane dapat melihat Rose yang keluar dari mansion Jeffri dengan kondisi yang acak acakan membuatkan fikiran buruk langsung menghampirinya.

Brakk

Jane menggebrak meja kerjanya itu. Matanya memerah menandakan kalau dia sudah tersulut emosi "Rosie, ternyata kamu hanya mempermainkan hati aku hah!?!" Gumamnya marah.

Sekarang dia benar benar merasa dikhianati. Dia sudah memberikan segalanya kepada Rose namun wanita itu malah kembali menyakiti hatinya. Sial! Tidak seharusnya dia memberikan peluang kepada wanita itu.

"Lo harus membayar apa yang sudah lo lakukan Roseanne" gumamnya.

Dengan nafas yang memburu, Jane keluar dari ruangan kerjanya "Mark!"

"Iya Sajangnim?" Sahut Mark bergegas bangkit.

"Kamu uruskan meeting besok! Saya harus kembali ke Korea!"

"Tapi Sajangnim, Direktur perusahan JWorld mau Sajangnim ikut meeting bersama"

"Saya tidak peduli!" Sentak Jane "Kalau mereka protes, batalkan saja kerjasamanya!"

Mark menelan ludahnya dengan kasar. Aura yang dikeluarkan oleh atasannya itu benar benar membuatkan dia ketakutan.

"Hubungi Alex. Bilang sama dia untuk segera menyiapkan pesawat peribadi saya!" Lanjut Jane.

"Baiklah Sajangnim" sahut Mark.

Jane menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berganjak pergi dari sana.

"Kenapa sama Sajangnim?" Tanya Mia, assistant Jane yang selama ini menguruskan perusahan Jane yang ada di Australia ini.

"Moodnya tiba tiba saja buruk. Sepertinya dia ada masalah" sahut Mark membuatkan Mia mengangguk faham.


*

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6.30 menit malam dan terlihatlah Rose yang sibuk didapur bersama Ahjumma Hana. Mereka akan menyiapkan makan malam bersama karena Rose memaksa untuk ikut memasak bersama.

"Rose, kamu baik baik saja?" Pertanyaan dari Ahjumma Hana membuatkan Rose tersadar dari lamunannya.

"E-eoh, aku baik baik saja kok"

"Akhir akhir ini kamu sering melamun. Kamu ada masalah hurm?"

Rose menghela nafasnya "Aku takut"

Dahi Ahjumma mengernyit "Takut kenapa?" Khawatirnya.

"Apa kalau aku bikin kesalahan, Jane akan marah sama aku?"

"Tergantung. Kalau kesalahan kamu besar, Jane mungkin akan marah. Tapi Ahjumma yakin Jane pasti bisa memaafkan kamu. Dia mencintai kamu bukan?"

"Hah~ semoga saja" sahut Rose sendu.

"Rose" Jisoo menghampiri mereka dengan membawa kunci mobilnya.

"Oppa mau kemana?"

"Ke bandara untuk menjemput Jane"

"Mwo!? Jane sudah pulang!? Kenapa tiba tiba?"

"Aku juga tidak tahu. Jane tiba tiba saja menelfon aku dan meminta aku untuk menjemputnya dibandara. Suaranya juga aneh. Dia seperti lagi menahan emosi" jelas Jisoo.

"Apa mungkin ada masalah yang terjadi?" Tebak Rose.

"Bisa jadi si" sahut Jisoo "Ya sudah, aku duluan ya"

"Arreosso. Nanti Oppa sama Jane pulang makan malam ya"

Jisoo mengangguk dan bergegas pergi dari sana.

"Ayo Ahjumma, kita harus segera memasak" ujar Rose diangguki oleh Ahjumma Hana.




Setelah hampir 1 jam, mereka akhirnya selesai memasak dan makanan juga sudah dihidangkan diatas meja.

Rose menunggu kepulangan Jane dengan tidak sabarnya. Dia sudah terlalu merindui cowoknya itu.

Tidak butuh waktu yang lama, pintu mansion dibuka dan masuklah sosok Jane.

Dahi Rose mengernyit. Kenapa raut wajah Jane kelihatan datar? "Jane" panggilnya.

"Sini!" Dengan kasarnya Jane menyeret Rose menuju kekamar.

Jisoo yang melihat Jane emosi bergegas menyusul keduanya.

"Jane kenapa?" Bingung Rose setibanya dikamar.

Plakkk

Bukannya pelukan hangat yang didapatkan namun Rose malah menerima tamparan dari Jane membuatkan dia tersungkur jatuh.

"Dasar pengkhianat!"
















  Tekan
    👇

Dark✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang