4 - Berujung di Abaikan

463 66 429
                                        

Chapter - 4

Haruskah ku ucapkan rasa terimakasihku ini secara terang-terangan kepada Atlas?

Sebuah ucapan terimakasih sebesar-besarnya. Karena berkat dia, aku selalu bangun pagi tanpa perlu repot-repot di bangunkan.

Nggak ada yang namanya benci hari senin. Semua hari akan ku tempuh dengan lapang dada jika itu ada Atlas di tiap bait nya. Seperti syair lagu.

Jika Atlas itu sebuah lagu, mungkin aku akan mengulang-ulang lagu itu sampai aku hafal dan paham betul tiap bait lagu dan makna-nya. Atlas adalah satu-satunya orang yang berhasil membuatku terkesan. Dia, cinta pertamaku.

Meski banyak yang bilang, jarang ada orang yang berhasil di fase cinta pertama, aku nggak perduli. Toh, cinta pertama bagiku, belum tentu juga cinta pertama bagi Atlas.

Haha! Aku berpikir seolah Atlas juga menyukaiku.

"Ih, percis orang gila. Senyum-senyum sendiri."

Aku melirik sinis wajah jelek bocil dajjal dari kaca spion motorku. "Apa?!"

"Kakak jangan senyum-senyum sendiri, aku malu kalau temenku lihat. Nanti mereka ngira-nya aku punya kakak gila."

Tanpa mau ambil pusing dengan peringatan Lavina, aku malah semakin tersenyum lebar. Bahkan tertawa meniru suara genderuwo sampai bocil di belakangku teriak-teriak kesal menyuruhku diam.

Beberapa menit berlalu, akhirnya aku sampai di sekolah Lavina. SMP Satu Nusa. Bocah itu segera turun dari boncengan dan mengulurkan tangannya kepadaku.

Patut di acungi jempol sih, meski sering kesal dengan kejahilanku, bocah ini tetap nggak pernah lupa menyalimi tanganku saat pergi sekolah.

"Astaga!"

Aku mengernyitkan dahi, heran melihat wajah panik Lavina, "Kenapa?"

"Buku catatan aku ketinggalan kak!" Lavina semakin panik.

"Buku catatan yang mana?" Tanyaku ikutan panik.

"Hari ini ada ulangan, kalau buku catatannya nggak di bawa, aku nggak boleh ikut ulangan!"

"Yaudah jangan nangis," buru-buru ku lirik jam di pergelangan tanganku. 06:45. Aku masih punya waktu pulang kerumah dan mengambil buku catatan Lavina. Tapi sudah pasti aku bakalan telat sampai ke sekolahku.

"Cepetan kak, balik! Tolong ambilin buku catatan aku!"

Aku menimbang-nimbang ide yang melintas di kepalaku, "Nggak bisa di kibulin aja gurunya, Lav? Kamu pura-pura kumpul buku, sembarang aja. Yang penting kan bisa ikut ulangan."

"Nggak bisa, Kak Luna! Catatannya di nilai dulu sama gurunya!!"

Lavina semakin menangis. Padahal hanya hal sepele, tapi lagak menangisnya sudah seperti orang yang sedang dalam perkara besar.

"Iya-iya, kakak ambilin." Kataku akhirnya sambil mengusap-usap air mata di wajah Lavina. "Buku catatan apa, Lav? Dimana?" Tanyaku.

"Biologi. Aku lupa dimana, kayaknya di meja ruang tamu. Tadi pagi aku baca-baca soalnya."

Ok, aku mengangguk. Sebelum akhirnya membelah jalanan untuk kembali pulang kerumahku menjemput buku Lavina yang tertinggal.

Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang