14 - Nggak Tergapai

161 15 2
                                        

Chapter - 14

Setelah berhasil menutup pintu kamarku dengan pelan, lantas ku sandarkan punggungku sebentar di daun pintu. Dengan keadaan sadar aku langsung memutuskan untuk mandi kilat. Aku tidak bisa tampil seperti ini jika ada Atlas dirumahku.

Yap! Atlas masih berada di rumahku dan itu semua akibat paksaan dari Bunda.

Sejujurnya di dalam hatiku, tepatnya di lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat senang. Karena, berkat Bunda aku bisa satu langkah lebih dekat dengan pujaan hatiku. Tolong ingatkan aku untuk berterima kasih kepada Bundaku hari ini.

Setelah mandi dan berdandan Ala anak rumahan, aku nekat keluar kamar dan berniat menghampiri Atlas di ruang tamu.

Ternyata disana Atlas tidak sendirian, ada Bunda dan Lavina yang sudah duduk manis di antara kanan dan kiri Atlas. Tepatnya, Bunda di sisi kanan dan Lavina disisi kiri. Mereka berdua__Bunda dan Lavina__ sedang senyam-senyum memperhatikan Atlas yang sedang menyeruput minumannya.

Aku tahu kali ini Atlas merasa canggung, bahkan mungkin risih di tatap begitu oleh dua orang perempuan yang notabene baru dirinya kenal. Aku bisa melihat dengan jelas dari sorot mata cowok itu.

"Nggak masak, Bun?"

Aku menoleh, ternyata Ayah yang barusan masuk dari pintu depan sedang bicara. Beliau memperhatikan Bunda, Atlas, lalu Lavina secara bergantian. Kemudian menatap ke-arahku.

"Masak. Tinggal nunggu nasi nya mateng doang kok," balas Bunda kemudian, tetapi kembali memandangi wajah Atlas.

"Kak Atlas pacarnya kak Luna, ya?" Tanya si bocil kematian tiba-tiba, aku langsung menghampiri bocah itu untuk menyadarkannya.

"He-he-he, bukan," balas Atlas dengan cengengesan terpaksa nya.

"Nggak usah di dengerin, Tlas, ini anak ada kurang-kurang nya," kataku menegahi.

"Apasih!" Desis Lavina, lirih. Dan aku jelas tidak memperdulikannya.

"Ayah, ini temen sekelasnya Luna, Atlas namanya," Tidak mau diam saja, kali ini aku memperkenalkan Atlas kepada ayahku. Dan Ayahku tentu meresponnya dengan baik.

"Halo, Om," Sapa Atlas khas dengan suara yang selalu terdengar nyaman ditelingaku itu. Lantas menyalimi tangan Ayahku.

"Oh, iya, Halo.. Atlas," balas Ayahku ramah, tanpa lupa untuk tersenyum. Dan jujur saja, aku sangat menyukai interaksi ini.

Kenapa? Ya, aku juga tidak tahu kenapa. Aku hanya suka. Itu saja.

"Tadi dompet Bunda kecopetan, Yah, di pasar. Jadi nggak bisa bayar bubur ayam. Untung aja di pinjemin uang sama Atlas. Kalau enggak, nggak tau lagi Bunda harus ngapain." Bunda bangkit dari tempat duduknya kemudian dengan refleks menabok pelan pundak Ayah. "Ayah, pun, di telponin nggak di angkat-angkat! Darimana, sih, daritadi baru nongol?"

"Dari rumah Pramana tadi, main sebentar," jawab Ayah dengan ekspresi santuy nya.

Mendengar nama Om Pramana disebut, kepalaku langsung tertoleh dengan refleks ke arah Atlas, aku memandang dengan perasaan penasaran, aku ingin melihat bagaimana reaksi Atlas jika mengetahui Ayah kandungnya tinggal tepat di depan rumahku.

Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang