Chapter - 13
Kalau bisa angkat tangan, aku sudah angkat tangan sejak setengah jam yang lalu. Tanganku pegel banget bawa belanjaan Bunda yang daritadi nambah melulu.
Sejenak ku letakkan keresek besar ini di atas ubin yang agak becek. Bunda sedang sibuk berbincang dengan penjual ayam, jadi aku punya kesempatan untuk mengistirahatkan tanganku barang sebentar.
Nggak sampai 5 menit setelahnya Bunda kembali memanggilku. Mulutnya komat-kamit mengomel karena tidak bisa merayu penjual ayam untuk mendapatkan harga yang cocok menurutnya.
"Abis ini masih ada lagi yang mau di beli, Bun?" Tanyaku to the point. Sumpah demi kantong ajaibnya Doraemon, aku sudah nggak sanggup lagi. Mana perutku belum di isi apapun lagi sejak bangun tidur.
"Udah, kok," kata Bunda. Dan aku langsung lega seketika.
"Yaudah deh, pak. Mau 2 kilo aja."Bunda masih sibuk dengan belanjaannya.
Hiruk pikuk suasana di pagi ini membuat kepalaku pusing, apalagi saat terdengar seorang ibu-ibu yang tiba-tiba teriak.
"COPETTT! COPET!"
Aku langsung kalang kabut seketika. Semua orang riuh berteriak sahut-sahutan termasuk Bunda yang langsung mendatangi seorang ibu-ibu yang barusan teriak. Semua orang berkumpul dan tampak panik.
"Lari kemana buk, copet-nya?" Ku dengar Bunda mulai mengintrogasi sang ibu yang habis kecopetan tadi.
"Aduh, saya nggak tau, Mbak. Baru sadar ini kalau kecopetan. Pas mau bayar, langsung sadar, kok, dompetnya nggak ada. Aduhh gimana, atuh!"
"Tadi ada?"
"Tadi mah, ada. Saya abis belanja sayur kok, di kios sana."
Pokoknya Bunda sibuk mengepoi(kepo) ibu-ibu yang habis kecopetan tadi. Sedangkan aku bersandar di perbatasan tembok sambil melamun. Di kondisi begini kalau tiba-tiba aku ketemu Atlas gimana reaksinya, ya? Pasti dia bakalan mengira kalau aku adalah anak yang sangat berbakti karena setiap hari minggu tiba, aku selalu menemani Bunda belanja mingguan di Pasar. Hahaha.
Tetapi.. setelah di pikir-pikir, mending jangan, deh. Nanti yang ada dia ilfiel lagi saat melihatku yang masih memakai piyama tidur dan cardigan. Sebenarnya juga kan, aku ikut Bunda tadi karena aku ingin menikmati 2 mangkuk bubur ayam legendaris, kesukaanku. Jadi jujur, jangankan mau ber-outfit, mandi pun aku belum.
Sekilas ku lirik jam tangan di pergelangan tanganku. Pantas saja perutku keroncongan. Sudah hampir jam 8 pagi ternyata.
"Bun!" Setelah beberapa menit diam akhirnya aku memberanikan diri untuk memanggil Bunda. Sembari mengode beliau dengan cara menepuk-nepuk perutku pelan.
***
"Jadi tadi Bunda kasih aja uang kembalian beli Ayam. Lagian kasian, Lun, dompetnya hilang, gimana caranya pulang kalau nggak punya uang se-peserpun."
Aku menggut-manggut mendengarkan Bunda sharing soal ibu-ibu yang kecopetan tadi. "Jadi, emangnya semuanya hilang, Bun?"
"Hilang semuanya! KTP, SIM, ATM, Kartu kredit, sama surat-emas juga katanya disitu semua," jelas Bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
Novela JuvenilDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
