21 - Kemanapun Asal Denganmu

69 10 0
                                        

Chapter - 21

Aku langsung berdiri saat melihat pergerakan Atlas yang menghampiriku. Cowok berkemeja hitam itu menatapku dengan seulas senyum tipis. Sebuah hal yang mampu membuatku menahan nafas seketika.

"Belum jadi kue nya, masih nunggu sekitar satu jam-an lagi." Katanya.

Aku membeo sejenak setelah melepaskan nafasku yang sempat tertahan, kemudian mengangguk-angguk.

"Mau lihat pasar malam yang baru buka di dekat sini, nggak?"

Aku balas mengangguk seperti tak ada pilihan lain, karena di dalam otakku hanya ada kalimat - kemanapun asal dengan Atlas - dan aku tidak perlu mencari opsi lain selain meng 'iya' kan ajakannya.

Selama perjalanan kami kebanyakan diam, Atlas yang sibuk mengemudikan mobilnya dan aku yang sibuk chatting dengan kedua sahabatku.

Sampai kami tiba di area pasar malam tersebut.

Satu hal mencolok yang pertama kali memanjakan mataku adalah lampu-lampu warna-warni yang bersinar begitu terang. Aku turun mobil dengan reaksi yang berbinar-binar.

Sudah lama tidak pergi melihat keindahan ini. Dulu pernah di ajak Ayah dan Bunda ke Dufan, tetapi waktu itu siang hari.

Ternyata bianglala, kora-kora dan semua yang ada disini sangat indah jika di lihat saat malam hari.

Bukan berarti aku tak pernah lihat, hanya saja aku jarang memperhatikannya dengan detail.

"Mau coba naik Wahana?" Suara Atlas menginterupsiku, mengalihkan tatapanku yang semula tertuju ke arah bianglala yang sedang berputar.

"Boleh, sih." Jawabku, kemudian teralihkan lagi dengan suara teriakan orang-orang yang sedang berada di atas kora-kora yang berayun kencang.

"Mau naik itu, kah?"

"Hah?" Aku buru-buru menggeleng saat Atlas menunjuk ke arah ayunan raksasa itu. Membayangkannya saja membuat bulu kudukku meremang karena ngeri, apalagi saat benar-benar berada di sana.

"Atau mau naik sangkar burung yang berputar itu?" Kali ini Atlas menunjuk ke arah bianglala. Suatu hal yang membuatku menahan rasa geli yang muncul begitu saja di dalam diriku.

"Apa, sangkar burung yang berputar?" Tanyaku geli. Apalagi saat melihat respon Atlas yang mengerutkan kening sambil menggaruk jidatnya, tampak bingung.

"Iya gue nggak tau namanya apa, cuma itu bentuknya mirip sangkar burung."

"Namanya bianglala, kalau menurut KBBI." kataku memberitahu.

Atlas tertawa kecil, "Namanya kayak elegan banget gitu ya, untuk sebuah benda yang agak membahayakan."

Bibirku langsung terkatup rapat mendengar kata-kata Atlas barusan. Itu benar, tapi... "Kalau lo sudah berada di sana mungkin pandangan lo bisa berubah.." ucapku positif, sambil menunjuk wahana yang kata Atlas bernama elegan dengan potensi agak membahayakan itu, "Melihat pemandangan dari atas sana itu indah banget loh. Sekaligus mendebarkan."

"Lebih berdebar daripada lagi deket sama crush," Lanjutku lagi sambil tertawa receh. Aku harus meyakinkan Atlas akan hal itu, karena mungkin sebab ini yang akan membuatku di ingat Atlas selamanya.

"Serius?" Tanya Atlas geli. Dan ku jawab dengan anggukan antusias.

"Emang lo belum pernah sekalipun coba wahana-nya?"

"Belum.."

Aku sontak melebarkan mata, heran. "Kenapa?"

"Karena.. nggak pernah pengen aja." Balas Atlas ringan. Dia menatapku sebentar lantas netranya kembali memandang wahana sangkar burung yang berputar itu.

"Oke, karena lo belum pernah coba. Ayo hari ini coba naik sama gue." Aku tersenyum lebar sambil menarik tangan Atlas untuk mendekati wahana tersebut. Mendekati sang penjual tiket dan membeli dua tiketnya untuk kami.

"Emang dekat sama crush lo, se-berdebar itu?" Tanya Atlas saat pintu bianglala baru ditutup oleh penjaganya.

Aku kontan terkikik geli. "Ini mah belum ada apa-apanya," balasku.

Mesin bianglala yang baru bergerak beberapa detik kembali berhenti, untuk berganti penumpang.

"Tunggu sampai berhenti di paling atas, lo bakal tau se berdebar apa." Ujarku yakin.

"Oh, ya?" Atlas memandang ke arah bawah yang masih tampak begitu dekat, sedangkan aku sudah bersiap-siap dengan berpegangan  di besi-besi se besar ibu jari ini. Bianglala kembali bergerak lebih tinggi, mataku terpejam, dan jantungku kini mulai terasa tak karu-karuan. Seingatku dulu aku tidak begitu takut ketinggian, tapi sekarang kok rasanya berbeda, ya?

"Kayaknya gue bukan orang yang bisa berdebar-debar karena hal ini deh.. lo terlalu lebay."

Perkataan Atlas yang begitu terdengar santai memicuku untuk membuka mata. Tapi setelah itu aku terpekik ketakutan saat Atlas menggerakkan tubuhnya hingga sangkar yang bergelantungan ini bergoyang-goyang.

Apaaa? Aku lebay katanya?! Yang bener aja!

"Atlas lo jangan main-main, ya. Ini berhubungan dengan hidup dan mati!" Peringatku, tidak main-main. Sumpah ini nggak lucu kalau Atlas menganggapnya menjadi sebuah candaan.

"Mustahil lo dekat dengan crush lo sambil berdebar ketakutan gini, kan?"

"Plis deh, nggak ada waktu buat bahas crush-crush-an. Gue beneran takut banget!" Tanpa sadar aku memekik ketakutan, aku sudah tidak yakin dengan kondisi mukaku sekarang. Yang ada dipikiranku sekarang hanya ada Allah dan Rasul, Allah dan Rasul, Allah dan Rasul.

Aku membaca semua doa yang ku hafal, tidak tanggung-tanggung aku membaca doa sambil bersuara.

Hingga Atlas tertawa di sela-sela doa-ku yang sedang khusuk.

"Lo baca doa selamat?" Tanyanya ringan dengan nada mengejek. Tentu hal itu membuatku melebarkan mata, menatap matanya tajam.

Sial! Bianglala kembali berhenti, dan kali ini kami benar-benar berada tepat di paling atas. Dan yang lebih sial lagi, sangkar ini terus bergoyang-goyang terkena hembusan angin yang rasanya lebih terasa kencang dan dingin. Menambahkan sensasi yang lebih mencekam dari yang sudah-sudah.

"Jangan main main ya, anjir!" Peringatku tidak main-main.

Kemudian Atlas memandangku dengan sorot serius. Bianglala kembali bergerak pelan, kemudian berhenti. "Jangan terlalu fokus sama ketinggiannya. Coba lemesin badan lo, terus liat ke bawah.."

Aku tertegun sejenak, menarik nafas kemudian menetralkan raut wajahku. Ucapan Atlas terngiang di kepalaku. Aku merapalkannya bagai sebuah mantra.

"Lihat Luna, nggak se seram itu. Lawan rasa takut lo.." Kali ini Atlas bersuara sangat pelan nyaris berbisik, disertai dengan tangannya yang meraih kedua tanganku untuk di genggam erat. "Seperti kata lo, melihat ke bawah dari atas sini, rasanya mendebarkan, dan... so far ini menyenangkan."

Aku memandang Atlas dengan degub jantung menggila, mengulang kembali setiap ucapannya di dalam pikiranku. Dan perlahan matakuku melirik ke bawah sana.

Aku masih takut, dan hal ini tidak langsung membuatku damai. Aku masih takut ketinggian. Tetapi ucapan Atlas bagaikan mantra yang melesat dan melekat masuk merangkum seluruh tubuhku, membungkusku bagai selimut tebal yang memberikan kehangatan dan kenyamanan di musim hujan.

***

9 Desember 2025
windyaaw_

Silent LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang