17 - Cokelat Misterius

79 11 4
                                        

Chapter 17

Memangnya salah ya cewek kalau nggak sengaja kelepasan ngomong kasar?

Itu pertanyaan yg muncul bolak balik di otakku.

Setelah kejadian di sekolah tadi bersama Atlas, aku langsung izin pulang karena sakit perut yang tidak tertahankan. Kadang-kadang hal ini memang terjadi saat aku datang bulan.

Dan sekarang itu semua tak penting sama sekali. Karena yang terpenting bagaimana caranya untukku melupakan Atlas dan kejadian memalukan yang terjadi padaku hari ini.

Aku sangat sering cemas dengan sikapku sendiri. Sangat takut membuat orang bereaksi atas tindakanku yang mungkin salah. Meskipun itu bukanlah suatu hal besar yang harus dipikirkan secara terus-terusan, tapi entah kenapa aku membuatnya menjadi sulit. Pikiranku. Aku lelah gelisah sendirian.

Sekejap ku tarik nafas sedalam-dalamnya untuk sedikit membantu menghilangkan kecemasan, kemudian berjalan turun dari ranjang untuk keluar kamar. Sepertinya jika terus-terusan di kamar, aku akan semakin gila. Jadi aku memutuskan untuk turun kebawah dan mencari makanan yang cukup lezat untuk dimakan. Sebelum keluar kamar aku menyempatkan diri untuk mengambil ponselku yang sedang di cas.

Saat kulihat bilah notifikasinya, ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

+628×××
Besok temuin gue di taman rumput. Istirahat kedua. Sendiri!

Dilihat-lihat dari caranya mengechatku, sepertinya sang pengirim punya masalah penting  yang harus segera dibicarakan denganku.

Sejenak kutelan air liurku, apa selama ini aku punya musuh? Tentu saja aku sontak menggeleng. Bermusuh-musuhan dengan sesama makhluk hidup itu sama sekali bukan style-ku.

Bukannya aku sok bijak, tetapi kenangan kelam bertahun-tahun lalu membuatku agak takut dengan sikap orang lain yang terlihat tidak senang denganku. Ya.. aku pernah bilang, aku pernah menjadi korban bullying.

Tidak separah itu memang, tetapi itu cukup untuk membuat kepercayaan diriku hilang.

Aku memutuskan untuk tidak membuka pesan itu dan memilih untuk langsung memblokirnya saja. Karena... aku mencoba yakin, jika pesan itu hanya salah satu pesan salah kirim.

"Sudah enakan perutnya?" Suara Bunda mengalihkanku dari pandanganku menatap ponsel.

Aku mengangguk sekali sambil tersenyum lebar menyapa seorang perempuan yang sedang duduk di sova bersama Bunda.

"Lho, kenapa perutnya sayang?" Tante Merinda yang tidak lain adalah ibunya kak Bian bertanya dengan nada lembutnya kepadaku.

"Keram tante," jawabku sambil tersenyum kecil.

"Dateng bulan lho, Mer. Kadang-kadang Luna sampai ngeluh nggak bisa bangun. Aku kan jadi khawatir." Kata Bunda menimpali ucapanku.

"Periksain ke dokter Ai, bahaya lho jaman sekarang. Takutnya ada sesuatu. Kayak mantannya suamiku dulu lho. Sampai dioperasi."

Mataku melotot seketika, "Di operasi tante? Bisa meninggal ya?" Tanyaku diplomatis. Ada rasa ngeri juga dengan kalimat ini.

"Huss! Mulutnya," Sahut Bunda.

Lagian serem amat pembahasannya.

"Enggak meninggal juga, sih.." Jawab tante Merin ragu ragu.

Mantannya om Pramana, bukannya sudah meninggal? Itu kan, Mama Atlas.

Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang