23 - Figuran

57 9 3
                                        

Chapter - 23

Hari minggu yang menyedihkan.

Aku termenung seperti orang yang tidak punya gairah hidup. Ada si bocil kematian juga di sisiku.

Aku tidak tau mengapa dia disini. Tapi sepertinya dia sama tidak bergairahnya denganku.

"Ternyata AC kamar kakak lebih adem, ya?"

Celetukan Lavina membuatku menoleh. Dia bicara begitu agar aku tidak mengusirnya dari sini. Aku tau itu.

"Emang ada orang yang abis dating sama crush besoknya jadi murung?"

Aku menghela nafas panjang, seolah memberitahu dunia bahwasanya aku sangat lelah. Bahkan menangis-pun sudah tidak bisa. Air mataku tidak mau keluar.

"Di tolak, ya?" Tanya Lavina lagi. Dia beringsut mendekatiku yang duduk di tepian ranjang.

"Terakhir kali, lo pernah bilang rambut gue udah mirip kuntilanak, emang bener?" Alih alih menjawab pertanyaan Lavina, aku dengan sengaja membahas topik lain agar aku bisa keluar dari semua helaan nafas yang menggangguku sejak tadi.

Sakit, sih.

Tapi katanya emang kebanyakan cinta pertama tidak mudah berhasil. Bahkan kebanyakan memang tidak berhasil.

"Emang aku pernah bilang gitu?" Balas Lavina tak acuh.

Akhirnya aku menghela nafas. Bukan Lavina yang bilang rambutku mirip kuntilanak. Tapi aku sendiri.

Meski beberapa hari lalu Atlas pernah memujinya cantik(rambutku). Tapi, aku tau itu omong kosong. Karena yang paling cantik hanya Inggrid si gadis albino itu.

Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang sembari meraih ponselku yang penuh notifikasi.

Intan : buat yang mau unjuk bakat di acara pensi bulan depan bisa daftar dari sekarang ke gue ya.

Kira-kira begitu. Aku tidak terlalu membaca balasan dari teman teman lain, karena mataku langsung menemukan balasan dari Atlas yang sekejap membuatku tercengang.

Atlas : gue mau daftar ya, Ntan.

Intan : ok, Atlas. Besok gue kasih formulirnya ya.

Atlas : thx

Ahmad : anjayyy king Atlas mau nyanyi buat pujaan hati pasti.

Hansel : sstt.. kita pura-pura ngga tau aja🤭

Atlas : wkwkwk

Bagas : apaan anjir gw ketinggalan berita

Aku segera mematikan ponselku dan membuangnya ke sisi kiri. Jantungku sesak, ada rasa tidak terima yang bergejolak.

Aku tidak bisa berfikir jernih. Rasanya seperti ada bongkahan batu yang menjepit jantungku. Tak se-manis jatuh cinta, patah hati yang tidak kesampaian ini menyiksaku lebih dari putus cinta.

Dulu aku selalu melihatnya didekati banyak perempuan tapi kenapa rasanya sekarang berbeda?

Apa karena dulu aku sadar jika Atlas tak bisa ku dapatkan?

Apakah sekarang berbeda?

Apakah ekpektasi berlebihanku sekarang yang sedang berusaha menyakitiku?

Tetapi kenapa? Kenapa aku berlebihan?

Dia hanya sekedar bicara padaku, atau bahkan terasa sedikit lebih perhatian karena kebetulan kami berada di kelas yang sama.

Duduk di sebelahnya juga sebuah alasan yang pas untuk menekankan kalau bentuk perhatian yang mungkin hanya sebuah kebetulan itu bukan apa apa. Aku yang berlebihan. Padahal seharusnya aku tidak begitu percaya diri.

Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang