Chapter - 24
Umur balasan tahun, kata orang, itu umur dimana semua remaja sedang berusaha menemukan jati dirinya.
Soal pertemanan, percintaan, pendidikan, dan masa depan berperang menjadi satu dan pelan-pelan membuyarkan fokus.
Masa-masa di usia remaja yang katanya sangat rentan itu kadang harus di lalui mereka sendirian. Tanpa cerita, tanpa penopang, dan yang paling kejam tidak ada yang berani berada di pihaknya.
Apakah jadi penjahat bisa dibilang sebuah cita-cita?
Saat itu, pernah ada wali kota yang datang, dan.. "orang itu" ketika di tanya tentang cita-cita, dia menjawab dengan malu-malu tetapi terdengar mantap, dia bilang, ingin kuliah psikologi mengikuti jejak ibunya.
Tapi bagiku, daripada jadi psikolog, dia lebih cocok jadi penjahat. Entah apa yang dibanggakan dari ditakuti oleh orang-orang. Aku juga seumuran dengannya, tetapi aku tau bahwasanya yang mereka lakukan itu salah. Apa hebatnya jadi pentolan sekolah? Ingin terlihat hebat dengan cara yang tidak baik, sungguh memalukan.
Apakah cita-cita dia sebenarnya adalah menjadi penjahat, alih-alih dokter psikolog?
Rahangku mengeras, aku memejamkan mata. Aku belum melakukan apapun tetapi jantungku sudah memompa darah lebih cepat.
Pertama-tama apa yang harus ku lakukan?
Tidak. Aku bisa pikirkan nanti, karena sekarang lebih baik bertindak dulu sebelum semuanya terlambat.
Aku berlari kencang mengejar, tas dan papperbag yang ku bawa terpontang-panting. Hingga aku berhasil menyusul ke lorong sepi, di belakang kelas Xl.
Disana tampak cukup banyak orang yang sedang berkumpul, ada yang merokok, atau hanya sekedar saling ngobrol. Aku tidak begitu memperdulikan, karena tujuanku kesini bukan untuk menganalisis tindakan tidak benar yang ada disekolahku.
"Gue nggak pernah ngadu soal itu, Meg," sayup-sayup suara Inggrid-orang yang ingin kuselamatkan-mulai terdengar di balik tembok dengan tanaman rerumputan yang tampak asri menjulang dan pot pot bunga yang tersusun dengan rapi. Langkahku berhenti spontan, cara kerja otakku berubah, rasa ingin tahu memelintirnya untuk mengais informasi lebih dalam. Sebenarnya ada apa dengan dua orang perempuan yang masih ada hubungan darah, itu?
"Sekarang gimana? Siapa yang mau gantiin uang jajan gue yang dipotong?" Megan tampak kesal, "lo pikir gue bodoh, ya, sampai-sampai nggak tau siapa yang ngadu?"
"Nggak cukup lo udah tinggal di rumah gue, ngerebut semua kasih sayang keluarga gue, dan sekarang lo berusaha nyingkirin gue dari keluarga gue sendiri?" Tegas Megan berapi-api.
Aku sontak menutup mulutku, tercengang, dan tidak mengerti.
"Selama ini lo yang selalu menindas, kenapa berlagak jadi korban?" Suara inggrid terdengar ringan, dengan suara tawa di akhir yang sekejap membuatku tidak percaya. Selama ini.. ternyata dia bisa melawan.
"Wow, pinter juga lo." Megan berdecih sinis, "Masih nggak sadar juga kalau selama ini udah jadi benalu?"
"Kayaknya benalu terlalu kejam, soalnya kita semua juga tau, kan, kalau selama ini kalian makan hasil dari jual aset dan harta benda peninggalan orang tua gue."
"Harta benda mana sih, yang lo maksud? Rumah dan mobil butut itu? Mungkin lo nggak tau ya kalau ortu lo mati meninggalkan Utang yang tak terhingga."
"Maksud lo?" Inggrid tampak tak mengerti.
"Masih nggak ngerti juga? Orang tua lo itu bunuh diri ninggalin utang! Lo tau kan??"
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
RomanceDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
