Chapter 15
"Kursinya kosong, ya?"
Aku mendongak, sembari mengembangkan senyumanku lantas aku mengangguk pelan.
"Duduk aja, Nggrid, kosong kok." Amel mempersilahkan Inggrid-si cewek albino yang kebetulan satu kelas dengan aku dan Amel, untuk duduk.
"Haii,"kali ini Irma yang mulai menyapa Inggrid dengan senyuman kalem, khas nya.
Aku menyendok gado-gado dengan santai sambil memandang sekeliling. Mendadak suasana terasa canggung. Irma bahkan diam saja tak jadi melanjutkan ceritanya mengenai dunia per K-popan. Btw kali ini cewek itu mulai oleng ke-pada grub-band NCT, pokoknya Jeno-Jeno terus hari ini yang jadi topik pembicaraan.
Trakk!!
Suara piring yang di banting membuatku terkejut seketika, ada tiga orang siswi dari kelas lain yang tiba-tiba duduk tepat di samping kanan dan kiri Inggrid, tepatnya berada dihadapanku, Irma bahkan bergeser di buatnya.
Kami bertiga saling tatap, Inggrid tetap membisu dan tenang menikmati semangkok mie ayam nya. Tiga orang cewek yang aku kenal namanya ini menatap kami bertiga secara bergantian. Mereka adalah, Dara, Sitha, dan..
"Eh, ada Laluna juga ya, disini. Salam kenal, ya. Gue Megan." Cewek berambut curly itu tersenyum ke-arahku. Aku bingung mendeskripsikan senyumannya. Karena bagiku itu bukan seperti sebuah senyuman.
"Kenapa, ya?" Aku reflex menaikkan alisku, dan saat itu juga Megan menatap kedua temannya, dan mereka bertiga ketawa ngakak.
Aku jadi bingung. Apakah alisku kelihatan aneh? Atau ada belek di sekitar mataku? Ah, perasaanku jadi tidak enak.
"Nggak-papa, gue cuma mau nyapa lo doang, kok." Balas Megan, lantas melirik ke-arah Inggrid yang masih fokus mengabaikan semuanya. Cewek itu sangat fokus menyantap mie ayam nya hingga kini hanya tersisa setengah.
Amel mengunyah daun selada sambil menatapku, ku lihat mereka berdua, Irma dan Amel berusaha menghabiskan makanannya dengan cepat. Mereka bahkan mengodeku dengan sebuah gerakan mata.
Semenjak ada Megan DKK duduk disekitar kami, aku jadi nggak selera makan. Aku bahkan benci menceritakan tentang kelakuan mereka disini. Karena itu semua sangat menyebalkan.
Kini, perasaanku mulai tidak enak saat melihat Megan mulai memasukkan banyak sekali sambal ke dalam semangkuk bakso miliknya. Padahal sekarang cewek itu sedang makan roti bakar.
Megan mengaduk perlahan makanannya kemudian mengambil sebuah bakso menggunakan sumpit di tangan kanannya. Dan seperti dugaanku. Cewek itu memang nggak jelas.
"Yah! Nggak sengaja masuk ke minuman lo, Nggrid. Gimana dong?" Megan memanyunkan bibirnya. Pemandangan yang amat sangat menjijikkan. Tapi sayangnya mentalku kacangan. Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun meskipun aku tidak suka.
"Yaudah nggakpapa. Nanti gue bisa pesen lagi," balas Inggrid kalem. Sepertinya cewek itu masih bisa menguasai dirinya untuk tidak tantrum nggak jelas.
"Eh, nggak usah dong." Ucap Megan dramatis lantas menusuk bakso yang berada di gelas minuman inggrid menggunakan satu sumpitnya. "Kan, baksonya bisa di ambil lagi. Jadi minumannya masih bisa diminum. Jangan boros, ya. Ntar duit bokap gue habis."
Aku, Irma, dan Amel saling tatap, seolah saling bicara : mending kita cepet² minggat aja dari sini!
"Ekhem.." Irma tiba-tiba berdeham sambil berdiri. "Aduh kenyang banget. Gue balik ke kelas duluan, ya, guys. Mau ngerjain tugas MTK nih. Pusing banget nggak kelar-kelar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
Novela JuvenilDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
