Chapter 16
Aku menghentikan langkahku saat melihat Atlas dan Inggrid duduk disebuah kursi taman belakang sekolah yang sudah sangat sepi.
Entah bodoh atau bagaimana, aku mengikuti mereka berdua dari kantin, toilet, bahkan sampai ke taman belakang sekolah.
Aku bahkan tak menghiraukan Amel yang tadinya mengingatkanku untuk tidak membolos. Tapi, sedihnya, untuk pertama kalinya aku membolos untuk melakukan hal yang jauh dari kata berfaedah.
Sangat miris, dan aku menyadari tindakanku.
Aku tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Atlas dan Inggrid disana. Kali ini diriku terbelenggu oleh perasaan yang campur aduk.
Ting!
Suara dentingan dari ponsel mengalihkan perhatianku, ada pesan masuk dari Amel.
Amel : lo kemana Lun?
Luna : tolong izinin ke guru ya, bilangin gue nggak enak badan. Gue mau ke UKS.
Amel : hmm okay.
Amel : lo nggakpapa kan, Lun?
Luna : nggakpapa, Mel😄 gue udah terlanjur bolos, dan satu-satunya cara supaya gue nggak di hukum ya cuma ke UKS.
Amel : okedeee, it's okay Luna. Ayo berpikiran positif.
Luna : Haha😅 apaan sih, Mel? Biasa aja kalii.
Sejenak ku pandang rumput yang berada di bawah pijakanku. Aku menghela nafas yang entah kenapa terasa berat.
Aku coba untuk tidak menoleh, bahkan tidak mengizinkan kepalaku untuk melihat ke arah dua sejoli itu lagi barang sedetik.
Semuanya kacau bagiku. Tapi tidak ada yang bisa menyalahkan hal itu. Bukankah tadi aku berharap Inggrid ditolong oleh seseorang?
Atlas tidak salah, karena sejatinya dia bukan milikku. Dia tidak ada status apapun denganku. Bahkan terlalu sulit untuk disebut sebagai teman..
Aku benci menyadari bahwa perasaanku tidak terkendali, padahal aku sama sekali tidak punya hak untuk cemburu. Pengagum sepertiku.. tidak ber-hak untuk cemburu.
-
Aku menghela nafas sambil berusaha fokus mendribel bola basket. Aku sedikit grogi kali ini, pasalnya seluruh mata sekarang sedang terang-tegangan menatapku.
"Yok, Lun. Harus masuk ya. 4 kali percobaan belum ada yang berhasil masuk Ring. Kamu cuma punya 1 kesempatan," alih-alih membuatku fokus dan bersemangat, suara Pak Eka kini malah membuatku semakin grogi.
Ayo masuk dong! Semua orang pasti meremehkanku nih ToT!
Dalam sekali gerakan, bola ku lempar dengan sisa kepercayaan diriku. Dan...
Sett, cring! Cring!
"Huuuuuu!"
Aku menggepalkan tangan, "Yes!" Nggak ada hal yang begitu berarti sebetulnya dari hasil-ku memasukkan bola kali ini tapi setidaknya aku tidak terlalu mempermalukan diriku. Ya... setidaknya aku berhasil memasukkan bola ke dalam ring meski hanya sekali.
"Gapapa deh, walaupun cuma dapet nilai KKM. Hehehehe," aku cengengesan sembari berlari ke tepi lapangan.
"Inggrid Aulia Nandari," Pak Eka kembali memanggil nama siswa untuk melakukan praktik.
Mataku dengan refleks tertuju ke tengah lapangan dan memandang cewek berambut keemasan itu. Entah kenapa sekarang aku jadi sering membanding-bandingkan sosokku dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
Teen FictionDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
