10 - I Have Crush On You

166 18 1
                                        

Chapter - 10

"Anjirr, bau apek gini jaket gue jadinya!"

Aku menghela nafas sambil menggaruk kepalaku menatap jaket jeans milik Atlas itu. "Harus dicuci dulu?"

"Harus!" Balas Atlas cepat, lantas melirik laci mejanya yang... seperti biasa, banyak sekali hadiah yang bertumpuk.

Sejujurnya aku begitu penasaran. Siapa, sih, orang yang hobi banget ngasih Atlas bingkisan-bingkisan kayak begitu? Banyak banget uang jajannya sampai setiap hari mampu beli hal-hal nggak berguna. Mana yang di kasih santui banget, lagi. Terkesan nggak perduli dan nggak mau tahu.

"Kalau bisa, sekalian lo kasih parfum lo yang banyak."

Aku mengernyitkan dahi. "Parfum cewek emang lo mau?"

Setelah kata-kataku barusan, aku nyaris saja pingsan saat wajah Atlas mendekati bahuku sambil menghirup nafas kasar. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku bahkan lupa bernafas sangking tremor-nya. Oh, tuhan.. cobaan apakah yang kau berikan kepada hambamu yang takut ketahuan ini?? Aku nggak mau Atlas sampai tahu bagaimana raut mukaku saat berdekatan dengannya. Salting parah, cooyyy masalahnya!!

"Hmm, iya. Gue suka, wanginya enak."

Aku meneguk liur-ku seketika, "Ooh.." kataku berusaha santai, tapi sialnya suaraku terdengar serak. Aku nggak ngerti, kenapa setiap aku sedang gugup, suaraku langsung serak? Pokoknya suaraku langsung cosplay jadi suara-suara yang kelihatan banget kalau sedang gugup. Sialan, emang!

"Hati hati, ya, lo nyuci jaket gue itu. Itu jaket kesayangan gue asal lo tau," Atlas barusan memberikanku peringatan. Tapi anehnya aku malah mencibir, bukannya mengangguk dan meleyot melihat tatapan tajam yang sengaja dia buat-buat itu.

"Gue buang juga ini jaket," kataku bercanda.

"Sialan lo," Atlas terkekeh lantas tak memperpanjang percakapan denganku. Kami sama-sama bergeming di posisi masing-masing. Sekilas kulirik Atlas yang sedang memegang-megang sebungkus cokelat berbungkus ungu itu. Sedetik kemudian aku langsung memalingkan pandangan dan berlagak sibuk. Dia barusan sadar kalau aku memperhatikannya.

"Bilang aja, sih, kalau lo mau minta ini cokelat. Gue pasti bagi kok. Gue nggak pelit anaknya."

"Hah?" Aku memicing heran melihat sebungkus cokelat yang tiba-tiba sudah berada di dalam genggamanku.

"Hah-hoh-hah-hoh," Atlas mencibir.

"Apaan sih, lo?"

"Baca deh, dibungkus cokelatnya ada tulisan."

Mataku yang semula memicing kini menatap sebuah kertas kecil berbentuk love yang tertempel rapi disana. Ada tulisan berbahasa Inggris yang berbunyi 'I have crush on you' aku menelan ludah selanjutnya, hingga akhirnya memberanikan diriku menatap muka Atlas yang terlihat kalem buangett. Atlas naksir aku?

Apa benar?

"Lo percaya nggak, kalau cokelat begituan udah ada dua kardus di rumah gue?"

Lagi lagi aku tertampar kenyataan. Lagian mana mungkin Atlas suka sama gantungan kunci kayak aku begini. Ayolah, Lun. Stop kepedeannya!
"Cokelat beginian?" Tanyaku, dan Atlas mengangguk acuh. "Cokelat dari fans-fans lo itu?"

"Lo tau?"

"Ya tau lah," balasku ngasal.

"Maksud gue lo tau siapa dia?"

"Dia?" Tanyaku balik.

Atlas mengangguk, "Dia yang kata lo fans gue."

Aku mengedipkan mataku berkali-kali melihat respon Atlas yang jadi serius.

Silent LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang